Tautan-tautan Akses

Dunia Kecam Serangan Teror Terhadap Warga Kristen Mesir


Kerabat dan masyarakat berkumpul di luar sebuah gereja pasca serangan bom pada perayaan Minggu Palem di kota Tanta, Mesir, 9 April 2017. (AP Photo/Nariman El-Mofty)

Dunia mengecam serangan teroris terhadap dua gereja di Mesir di tengah misa Minggu Palem. Ledakan di sebuah gereja Koptik di Tanta dan satu lagi di Alexandria menewaskan 44 orang dan mencederai sedikitnya 100 lainnya. Kelompok teroris ISIS telah mengaku bertanggung jawab atas serangan-serangan tersebut.

Serangan bom pertama terjadi di dalam Gereja Saint George di Tanta, sekitar 100 kilometer sebelah utara Kairo. Ledakan tersebut menewaskan sedikitnya 27 orang dan mencederai banyak lainnya. Serangan kedua menarget Gereja Saint Mark di Alexandria.

Para saksi mata menyatakan polisi menghalangi pelaku serangan bom bunuh diri memasuki gereja, tetapi bomnya meledak di luar gedung dan menewaskan 17 orang.

“Mereka menyatakan ini terjadi sewaktu pelaku akan memasuki gereja, pada waktu ia sedang digeledah, seperti halnya kami semua digeledah sebelum memasuki gereja. Jadi sewaktu mereka menggeledahnya, mereka menemukan sesuatu pada pelaku. Pada waktu pelaku ditangkap, ia menekan tombol dan meledakkan diri. Kedua polisi dihantam bom itu dan ledakan itu juga mengenai orang-orang di sekitarnya,” kata Amal Bekheit, salah seorang saksi mata.

Serangan-serangan tersebut terjadi beberapa pekan sebelum rencana kunjungan Paus Fransiskus ke Mesir.

“Saya berdoa bagi para korban tewas dan terluka, dan ikut merasakan kesedihan keluarga mereka dan seluruh komunitas di sana. Semoga Tuhan mengubah hati orang-orang yang menebarkan teror, kekerasan dan kematian, dan bahkan mengubah hati mereka yang membuat dan memperdagangkan senjata,” kata Paus Fransiskus menanggapi kejadian itu.

Dunia Barat secara keseluruhan mengecam serangan-serangan teroris terhadap warga sipil yang sedang menghadiri ibadah keagamaan. Presiden Amerika Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa sejawatnya, presiden Mesir, akan mampu menangani situasi dengan “tepat.”

Sementara itu pemimpin kelompok minoritas di Senat Amerika Chuck Schumer mengatakan bahwa “Kita semua harus melipatgandakan upaya-upaya menghadapi ISIS..”

“Terorisme adalah momok yang harus kita hentikan, dan kita semakin baik dalam mengatasinya. Pesawat-pesawat nirawak telah menewaskan banyak pemimpin ISIS. Kita harus terus melakukannya,” lanjut Senator Chuck Schumer di New York.

ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan-serangan tersebut. Tetapi kelompok teroris Palestina Hamas mengecam serangan tersebut.

“Gerakan Hamas berharap Mesir pulih dari luka-luka ini, dan mendoakan keselamatan, keamanan, stabilitas dan kemakmuran sehingga Mesir dapat memulihkan kekuatan dan peran pelopornya dalam memajukan kepentingan rakyatnya serta kepentingan negara-negara Arab dan Islam,” kata Fawzi Barhoum, juru bicara Hamas.

Umat Koptik Mesir, kelompok minoritas keagamaan terbesar di Mesir, kerap menjadi target serangan teroris, di antaranya berupa pembakaran, serangan dan pengeboman.

Dalam kicauannya di Twitter, Presiden Amerika Donald Trump menulis, “Sedih sekali mendengar tentang serangan teroris di Mesir. Amerika Serikat mengecam keras [serangan tersebut].”

Setelah serangan-serangan bom tersebut, Presiden Sissi menetapkan situasi darurat selama tiga bulan. Dalam pidato yang ditayangkan di televisi pemerintah, Sissi mengemukakan bahwa serangkaian langkah akan diambil, yang paling penting adalah menyatakan situasi darurat selama tiga bulan setelah langkah-langkah hukum dan konstitusional diambil. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG