Tautan-tautan Akses

Dulu Rumah Lumbung Sumatra Kuno, Kini Jadi Restoran “Fine Dining” Kuliner Indonesia di California


Rumah lumbung kuno yang berdiri di San Diego menjadi restoran fine dining Warung RieRie milik warga Indonesia (dok: Rie Sims)

Bertekad mempromosikan kuliner Indonesia, pasangan Rie dan Dave Sims angkut rumah lumbung kuno tahun 1935 ke AS dan menyulapnya menjadi restoran fine dining Indonesia pertama di San Diego, California. Rumah lumbung yang berdiri di pekarangan rumahnya ini juga dikeliling kebun rempah khas Indonesia.

Sebuah rumah lumbung antik asal Sumatra berdiri di kota San Diego, California, yang terkenal akan pantainya yang indah dan airnya yang jernih. Tak digunakan untuk menyimpan hasil panen sesuai tradisi, tetapi rumah lumbung ini telah disulap menjadi sebuah restoran fine dining berkelas bernama ‘Warung RieRie.’

“Warung RieRie sendiri adalah sebuah intimate Indonesian fine dining experience. Jadi benar-benar private, keakraban, masakan indonesia yang bisa dinikmati secara private,” jelas Rie Sims, salah satu pemilik sekaligus koki Warung RieRie kepada VOA belum lama ini.

Rie Sims, pendiri sekaligus koki restoran Warung RieRie di San Diego, California (dok: Rie Sims)
Rie Sims, pendiri sekaligus koki restoran Warung RieRie di San Diego, California (dok: Rie Sims)

Membuka ‘warung’ sebenarnya adalah cita-cita orang tua Rie yang ingin punya warung kecil di belakang rumah. Mengingat tidak ada restoran Indonesia di San Diego, bersama suaminya, Dave Sims, Rie lalu membuka pintu rumah lumbung yang terletak di pekarangan di belakang rumahnya untuk para warga Amerika yang ingin mengenal Indonesia, lewat santapan rumahan yang disajikan dengan ala ‘fine dining.’

“Tapi tetap, ambience, rasanya, semua tetap tradisional Indonesia, karena kita kepengin banget untuk mempromosikan Indonesia secara luas, terutama di Amerika,” jelas Rie Sims.

Lantas mengapa diberi nama warung?

“Kita juga berpikir, bagaimana caranya setradisional mungkin? Nah, makanya nama warung ini cocok untuk Warung RieRie, karena kita adalah keluarga kecil dan kita punya rumah lumbung ini juga kecil, jadi memang cocok sekali,” jelas Rie Sims.

Angkut Rumah Lumbung ke AS

Rumah lumbung yang kini berdiri pekarangan rumahnya pun memiliki cerita tersendiri. Saat berlibur ke Bali tahun 2019, Rie dan Dave jatuh cinta dengan sebuah rumah lumbung asal Sumatra yang dibangun pada 1935.

Warung Rierie: Perkenalkan Indonesia Melalui Pengalaman Menikmati Kuliner
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:30 0:00

Awalnya, Dave yang bergerak di bidang desain grafis dan pemasaran bisnis di AS berencana untuk menjadikan rumah lumbung ini sebagai kantor yang berdiri di pekarangan rumah mereka.

“Saat kami mengirimnya (ke AS), kami memutuskan bahwa akan lebih baik untuk mempromosikan Indonesia melalui warung tradisional, dengan menambah pengalaman ‘fine dining.’ Jadi ini merupakan sesuatu yang berbeda, unik, yang tidak ada di pantai barat Amerika atau (bahkan) mungkin di Amerika Serikat,” ujar Dave Sims kepada VOA.

Untuk mengirim rumah lumbung yang terbuat dari kayu jati dan ulin tradisional ini pun juga penuh tantangan. Mereka harus membongkar balok kayu dan tiang-tiangnya satu per satu terlebih dahulu, mengirimnya lewat kontainer laut, hingga akhirnya sampai sekitar lima bulan kemudian.

Dave bersama teman-teman saat mendirikan rumah lumbung (dok: Rie Sims)
Dave bersama teman-teman saat mendirikan rumah lumbung (dok: Rie Sims)

Dengan bantuan dari teman-temannya, Dave dan Rie berhasil mendirikan rumah lumbung tersebut. Menurut Dave, membangun kembali rumah lumbung tersebut bagaikan membuat sebuah karya seni, mengingat masing-masing balok kayu dan tiangnya khusus dibuat untuk tempat tertentu.

“Kami membutuhkan waktu sekitar enam minggu untuk membangun kembali rumah itu dan sekitar enam bulan lagi untuk merapikannya secara detil, seperti mengamplas lantai, perabotan, melapisi kembali kayu jatinya,” jelas pria pencinta rendang dan perkedel jagung ini.

Kini rumah lumbung seluas 3,6 x 3 meter dengan tinggi sekitar 23 meter ini telah berdiri di belakang pekarangan rumah Rie dan Dave. Tidak hanya bisa menikmati masakan khas Indonesia di rumah lumbung ini, pelanggan Warung RieRie dimanjakan dengan suasana tropis Indonesia sejenak di rumah lumbung yang dikeliling pohon pisang dan kebun rempah alami yang indah.

“Kami ingin menciptakan suasana di mana ketika Anda memasuki pintu pagar (pekarangan kami), Anda akan merasa sedang tidak berada di Amerika. Anda tidak berada di California, Anda bukan berada di San Diego (karena) Anda mendengar daun pisang bergoyang karena angin, burung berkicau, Anda melihat beragam buah tropis tumbuh (di kebun), dan ini menunjukkan suasana bagaikan tinggal di Indonesia,” ujar Dave Sims.

Roc Gunaca, tamu Warung RieRie (dok: Rie Sims)
Roc Gunaca, tamu Warung RieRie (dok: Rie Sims)

Suasana yang jauh berbeda dari California dirasakan oleh Roc Gunaca, salah seorang tamu Warung RieRie.

“Rasanya seperti ada di belahan dunia yang berbeda. Bukan di San Diego atau di California. Anda seperti sedang jalan-jalan ke suatu tempat yang berbeda. Sangat bagus,” kata Roc kepada VOA.

Konsep ‘Farm to Fork’

Tekad Rie untuk membangun restoran lalu mendorongnya untuk mengambil pendidikan kuliner di San Diego Community College di San Diego, California. Tidak hanya menimba ilmu teknik memasak, tetapi ia juga belajar cara menyajikan hidangan dengan cantik dan menarik, yang ia terapkan di Warung RieRie.

Rumah lumbung kuno yang berdiri di San Diego menjadi restoran fine dining Warung RieRie milik warga Indonesia (dok: Rie Sims)
Rumah lumbung kuno yang berdiri di San Diego menjadi restoran fine dining Warung RieRie milik warga Indonesia (dok: Rie Sims)

Restoran mungilnya ini juga mengedepankan konsep ‘Farm to Fork,’ di mana seluruh bahan makanan yang digunakan berasal dari petani lokal di wilayah San Diego atau juga berasal dari kebunnya sendiri.

“Saya punya jeruk purut, saya punya lemon chewie, saya punya sereh, saya punya kunyit, saya punya jahe, pokoknya segala macam rempah-rempah yang saya butuhkan untuk masakan saya saya tanam sendiri,” ujar koki yang pertama kali belajar memasak dari sang ayah secara otodidak ini.

Rie mengaku sulit untuk mencari rempah yang ia butuhkan di San Diego. Tidak hanya itu, terkadang harganya pun mahal.

“Serai di supermarket (AS) itu bisa harganya 10 ribu (rupiah) cuman satu batang. Makanya saya pilih untuk tanam sendiri, karena saya pakai serai itu banyak sekali di masakan saya,” jelas perempuan yang memiliki dua putra ini.

Menu spesial Warung RieRie (dok: Rie Sims)
Menu spesial Warung RieRie (dok: Rie Sims)

Menu yang disajikan pun berbeda-beda setiap bulannya dengan harapan agar pelanggan Warung RieRie bisa kembali lagi untuk mencicipi beragam masakan Indonesia yang unik dan berbeda jika dibandingkan dengan negara lain.

Biasanya menu di Warung RieRie terdiri dari 3-6 jenis makanan dengan minuman pembuka berupa jus bernuansa tropis seperti markisa dan nanas. Para tamu dapat menikmati makanan pembuka seperti perkedel jagung, pilihan sup seperti konro buntut, brenebon, atau soto betawi, berbagai salad, termasuk gado-gado, beragam hidangan laut, seperti bia kerang simping dan ikan tuna.

Selanjutnya para tamu diperkenalkan dengan beragam menu makanan utama, antara lain bebek bengil komplit, rendang, dan nasi babi guling, dan hidangan pencuci mulut, seperti es krim kelapa muda dengan markisa sirup coklat atau es krim buah markisa, nanas, dan mangga.

“Sebisa mungkin tetap seperti masakan rumahan, diadaptasikan sesuai dengan kondisi kalau kita datang ke Bali atau ke Indonesia untuk makan masakan rumahan,” ujar perempuan yang hobi berkemah bersama keluarga ini.

“Salah satu (pelanggan) senang sekali sama sup buntut. Memang sup buntut tuh enggak ada di Amerika, jadi buat mereka itu benar-benar sesuatu yang sangat unik,” tambahnya.

Para pelanggan dapat menikmati paket 3-6 jenis makanan di Warung RieRie dengan harga sekitar 105-165 dolar AS atau hampir setara dengan 1,5-2 juta rupiah.

“Mereka datang ke sini enggak cuman datang, makan, terus selesai. Mereka ke sini itu menikmati suasananya, experience-nya, bahwa mereka datang itu bener-bener duduk di ruang tamu rumah lumbung tradisional Indonesia,” ujar perempuan yang hijrah ke AS pada 2011 ini.

Tamu Warung RieRie, Alina Makinson dan DJ Kevin Brown (dok: Warung RieRie)
Tamu Warung RieRie, Alina Makinson dan DJ Kevin Brown (dok: Warung RieRie)

Tidak hanya lokasi restorannya yang cantik, para tamu juga menggemari makannya, bahkan menilai restorannya dengan angka 5, yang adalah angka tertinggi.

“Kokinya luar biasa. (Saya acungkan) dua jempol. Kami sangat merekomendasikan (restoran ini). Pastinya akan kembali lagi,” kata DJ Kevin Brown dan Alina Makinson.

Menggoyang Lidah Warga AS

Rie berusaha se-autentik mungkin dalam mengedepankan kekentalan rasa masakan Indonesia yang tradisional, walau ada beberapa bahan dan menu yang kadang ia ganti untuk menyesuaikan dengan lidah warga Amerika.

Menu spesial Warung RieRie (dok: Rie Sims)
Menu spesial Warung RieRie (dok: Rie Sims)

“Sambal kan kalau di Indonesia selalu pakai terasi. Nah, menurut warga negara Amerika, terasi terlalu bau. Jadi aku ganti pakai ebi, udang kecil atau udang rebon yang aku campur di sambalku. Jadi dia enggak terlalu bau, tapi rasa gurihnya tetap ada,” katanya.

Biasanya, Dave yang adalah warga Amerika menjadi pencicip pertama masakan Rie. Ia kerap membantu menyesuaikan menu buatan Rie sambil menyesuaikan dengan lidah warga Amerika.

“Contoh kecil, kayak kemarin saya kepengin bikin rujak sebenarnya. Tapi Dave bilang, kayaknya kalau rujak ini terlalu manis, karena kan kita pakai gula jawa. Kayaknya lidahnya dia kurang cocok. Makanya saya ganti saladnya jadi acar, bukan jadi rujak, karena acar kan agak sedikit asam-asam manis gitu, jadi bedanya di situ,” paparnya.

Berbisnis di Tengah Pandemi

Warung RieRie beroperasi setiap hari Kamis hingga Sabtu setiap minggunya, dengan hanya dua kali reservasi setiap harinya, yaitu pukul 16.00-18.00 dan 19.00-21.00 waktu setempat.

Rie Sims, pendiri sekaligus chef restoran Warung RieRie di San Diego, California (dok: Rie Sims)
Rie Sims, pendiri sekaligus chef restoran Warung RieRie di San Diego, California (dok: Rie Sims)

Di setiap jeda reservasi, Rie dan Dave harus meluangkan waktu untuk membersihkan dan menyanitasi rumah lumbungnya, sesuai dengan protokol kesehatan di California di era pandemi.

“Dibersihkan sebelum ada tamu, dan ketika tamu datang. Kita pun pakai masker. Saya pun selalu pakai sarung tangan, karena sesuai dengan protokol. Kami berdua sudah diimunisasi lengkap, tapi tetap saja kita harus mengikuti protokolnya. Saya juga harus punya izin training bahwa saya memenuhi persyaratan protokol COVID-19,” jelasnya.

Para pelanggan pun harus melakukan reservasi privat jauh-jauh hari sebelumnya, di mana setiap reservasi hanya bisa melayani sekitar 2-6 orang tamu.

Menurut Rie, konsep ini sesuai dengan kondisi pandemi saat ini, di mana diberlakukan pembatasan jumlah tamu di banyak restoran.

“Kita tetap bersemangat, ‘ayo kita bikin aja, enggak apa-apa, pasti berjalan dengan baik,’” kata Rie.

Hingga kini Warung RieRie sudah fully boolked hingga September 2022, dengan sekitar 220 orang yang antre jika ada pembatalan.

Banyak pelanggan yang mengetahui tentang keberadaan Warung RieRie dari Instagram. Di antara mereka adalah influencer atau pemengaruh, yang lalu ikut mempromosikan Warung RieRie kepada pelanggan yang lain.

Walau begitu, tentu saja ada tantangan yang Rie dan Dave hadapi untuk terus mempromosikan restoran mereka.

“Tantangannya sekarang hanya Rie dan saya, dan biasanya saya yang mengiklankan. Ya, restoran kami ini adalah usaha kecil, jadi kami menghadapi banyak tantangan,” kata Dave.

Rie Sims, pendiri sekaligus chef restoran Warung RieRie di San Diego, California (dok: Rie Sims)
Rie Sims, pendiri sekaligus chef restoran Warung RieRie di San Diego, California (dok: Rie Sims)

Untungnya, tidak sedikit warga yang sudah mengenal masakan Rie. Sebelum membangun restoran, Rie sempat membangun usaha katering makanan Indonesia dengan nama ‘Cooking with Rie.’

Kateringnya melayani panggilan pesta ke rumah-rumah, hingga berbagai acara di hotel bernuansa Bali, Pantai Inn, di San Diego, serta acara-acara besar lainnya.

“Kebetulan tahun 2016 saya pernah masak untuk bapak presiden Jokowi. Waktu ada US ASEAN Summit, yang diselenggarakan oleh presiden Barack Obama, di Palm Spring, California,” cerita perempuan kelahiran Papua ini.

Di tengah pandemi COVID-19 yang berkepanjangan, hati Rie tergerak untuk membantu warga yang membutuhkan melalui kateringnya, dengan menawarkan beli satu paket dapat satu.

“Banyak sekali teman-teman kita yang memang kesusahan. Salah satunya mungkin orang tua tunggal atau para suster yang bekerja di rumah sakit selama pandemi, yang tidak sempat untuk makan dengan (keluarga) atau masak untuk keluarganya,” kata perempuan kelahiran tahun 1980 ini.

Promosi Indonesia Lewat Kuliner

“Kebanyakan orang di (AS) selalu tahunya Bali. Mereka enggak tahu kalau Bali itu adalah Indonesia,” kata Rie Sims.

Inilah yang membuatnya lantas semangat dalam mempromosikan Indonesia melalui kuliner. Menurut Rie Sims, melalui restorannya, ia bisa lebih mudah untuk memperkenalkan Indonesia, termasuk juga budaya ramah-tamahnya.

Dave Sims, salah satu pemilik Warung RieRie di San Diego, California (dok: Rie Sims)
Dave Sims, salah satu pemilik Warung RieRie di San Diego, California (dok: Rie Sims)

Saat Rie memasak di dapur, biasanya Dave lalu menyambut para tamu dengan mengenakan pakaian tradisional Indonesia seperti kemeja batik dan kain sarung. Memakai baju tradisional Indonesia adalah salah satu caranya untuk menghormati orang Indonesia dan kebudayaannya. Selain itu ia juga ingin agar para tamu merasa disambut dengan tangan terbuka.

“(Itu) yang saya rasakan saat pertama kali datang ke Indonesia,” ujarnya.

Dave biasanya juga mengajak para tamu untuk tur keliling kebunnya, sambil menjelaskan mengenai rumah lumbung yang berdiri dengan kokoh di pekarangan rumahnya.

“Saya menceritakan sejarah dari rumah lumbung, biasanya secara tradisional digunakan untuk apa,” jelasnya.

Selain bisa mempromosikan Indonesia, bagi Rie Sims adalah satu kesan tersendiri ketika berhasil menaruh senyum di wajah para tamunya. Mereka selalu kagum, khususnya saat melihat restorannya.

“Setiap kali ada orang datang ke rumah lihat warung ini, mereka mukanya tuh berubah bahagia sekali gitu. ‘Ya ampun, ini beda sekali ya, saya enggak pernah ketemu ini,' gitu. Itu yang bikin saya sebenernya jadi sangat berkesan,” ceritanya.

Untuk ke depannya, Rie akan terus menjalani bisnis restorannya dan memperkenalkan beragam menu masakan khas Indonesia lainnya kepada warga internasional di Amerika. [di/dw]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG