Tautan-tautan Akses

AS

Dua Penembakan Massal Perbarui Fokus Kekerasan Senjata Api di AS 


Seorang pria mengamati berbagai jenis senjata api yang dipajang di aula Indianapolis Convention Center, 25 April 2019. (Foto: dok).

Setelah dua penembakan massal dalam rentang waktu 13 jam, terhitung sudah lebih dari 250 peristiwa semacam itu terjadi tahun ini, masing-masing dengan korban sedikitnya empat orang ditembak atau tewas selain pelaku penembakan. Para pejabat di Dayton, Ohio dan El Paso, Texas, melaporkan hampir 30 korban tewas dan sedikitnya 50 orang cedera akibat penembakan akhir pekan ini di kedua kota itu. Politisi dari Partai Republik dan Partai Demokrat mengemukakan tanggapan mereka atas penembakan itu dalam acara di stasiun televisi ABC This Week.

Penembakan di sebuah distrik komersial pada sekitar pukul satu pagi hari Minggu di Dayton, Ohio, membuat jumlah penembakan massal di Amerika melampaui 250 kasus pada tahun ini.

Dua Penembakan Massal Perbarui Fokus Kekerasan Senjata Api di AS
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:09 0:00

Pelaku menewaskan sembilan orang dan mencederai lebih dari 20 lainnya sebelum polisi di dekatnya menembak mati pelaku. Baru 13 jam sebelumnya di El Paso, Texas, aparat penegak hukum menanggapi penembakan di swalayan Wal-Mart. Di sana, pelaku penembakan menewaskan 20 orang dan mencederai sedikitnya 26 lainnya. Para pejabat federal menyebut peristiwa ini sebagai tindak terorisme di dalam negeri.

Presiden Trump mencuit pesan berisi dukungan kepada Gubernur Texas, dengan menulis “Tuhan beserta Anda semua!” Ia menulis bahwa FBI, pejabat negara bagian dan pejabat setempat bekerja bersama di kedua kota tersebut.

Kandidat calon presiden 2020 dari partai Demokrat, Joaquin Castro, menyalahkan pelaku penembakan, tetapi ia juga mengatakan bahwa retorika presiden yang kerap panas telah turut meradikalisasi teroris di dalam negeri.

Joaquin Castro dalam acara This Week di stasiun televisi ABC pada hari Minggu mengemukakan, "Ia membiarkan supremasi kulit putih yang berbahaya semakin berkembang di negara ini. Pada saat bersamaan, sebagai pemimpin nasional kita, ia memiliki peran untuk dimainkan, mengipasi api perpecahan atau berusaha mempersatukan warga Amerika dari berbagai latar belakang."

Penjabat kepala staf Presiden Trump, Mick Mulvaney, mengatakan, para pelaku penembakan massal, bukan retorika politik, yang harus disalahkan.

Mick Mulvaney, asisten presiden dan kepala staf pelaksana, Gedung Putih. (Foto: dok).
Mick Mulvaney, asisten presiden dan kepala staf pelaksana, Gedung Putih. (Foto: dok).

Mulvaney mengemukakan, "Tidak ada manfaatnya di sini untuk berusaha menjadikan ini sebagai isu politik. Ini adalah isu sosial dan kita perlu mengatasi itu. Orang-orang yang bertanggungjawab dalam kasus ini adalah mereka yang menarik picu. Kita perlu mencari cara membuat lebih sedikit orang-orang semacam itu dalam masyarakat dan bukannya berusaha mencari tahu siapa yang dipersalahkan untuk pemilu berikutnya.”

Mulvaney maupun Castro tampaknya sependapat bahwa mempersempit akses ke senjata api merupakan suatu langkah di arah yang tepat.

Castro menambahkan, "Jawabannya bukanlah lebih banyak lagi senjata api. Jawabannya adalah memastikan senjata-senjata perang ini, senjata-senjata semiotomatis ini tidak jatuh ke tangan orang yang akan pergi keluar dan menggunakannya di jalan."

Sementara itu Mulvaney menjelaskan, "Saya pikir kita semua sepakat bahwa orang-orang yang sakit, yang berniat melakukan hal-hal seperti ini, tidak boleh dibiarkan membeli senjata api secara legal. Tantangannya, tentu saja, adalah berusaha mengidentifikasi siapa yang sakit pada waktu mereka berusaha dan membeli senjata mereka. Dan itulah pembahasan yang seharusnya kita lakukan."

Manifesto anti-imigran yang dipenuhi kebencian muncul di Internet hampir 20 menit sebelum penembakan terjadi di Texas. Pihak berwenang belum mengukuhkan penulisnya.

Salah seorang korban di Dayton adalah saudara perempuan pelaku sendiri. Ini menutup salah satu akhir pekan dengan penembakan massal yang paling banyak membawa korban, dalam sejarah negara yang dicemari oleh kekerasan dengan senjata api ini. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG