Tautan-tautan Akses

Diplomat China Komentari Reaksi PM Australia Atas Cuitan di Twitter


Reaksi PM Australia terhadap cuitan di Twitter terkait dugaan kejahatan perang tentara Australia di Afghanistan, dinilai berlebihan dan justru semakin menarik perhatian masyarakat China. (Foto: ilustrasi).

Seorang diplomat senior China di Australia mengatakan, Jumat (4/12), Perdana Menteri Scott Morrison bereaksi berlebihan terhadap sebuah cuitan di Twitter tentang dugaan kejahatan perang yang dilakukan sejumlah tentara Australia di Afghanistan. Ia juga mengatakan, tindakan Morrison itu justru membuat semakin banyak perhatian kini terarah pada laporan tersebut.

Awal pekan ini, Morrison mengatakan bahwa cuitan seorang pejabat China yang menyertakan foto hasil rekayasa yang menunjukkan seorang tentara Australia tampak menggorok tenggorokan seorang anak "benar-benar menjijikkan".Ia menyatakan, China sepantasnya meminta maaf. Namun, hingga sejauh ini China tidak mengajukan permintaan maaf.

Wakil Duta Besar China di Canberra, Wang Xining, mengatakan, "Saya pikir sangat disayangkan bahwa masalah ini berkembang sedemikian rupa sehingga ke luar dari proporsi yang sebenarnya. Kini perhatian terhadap laporan Brereton semakin besar di China."

Laporan Brereton adalah penamaan sederhana untuk laporan kejahatan perang yang diduga dilakukan sejumlah anggota pasukan elit Australia di Afghanistan. Dalam laporan yang dibuat penyelidik Mayor Jenderal Paul Brereton itu, mereka diduga secara tidak sah membunuh 39 tahanan, petani dan warga sipil Afghanistan sewaktu ditugaskan di Afghanistan.

Wang juga mengatakan, kini ada lebih banyak orang yang memperhatikan apa yang terjadi di Afghanistan. “Orang-orang bertanya-tanya mengapa seorang pemimpin nasional memiliki opini yang begitu kuat terhadap sebuah karya seni yang dikerjakan oleh seniman muda di China," tambahnya.

Berkat laporan Brereton, 19 tentara Australia kini dirujuk ke polisi federal untuk penyelidikan kriminal.

Terkait laporan itu, Zhao Lijian, juru bicara kementerian luar negeri China, mengunggah sebuah foto hasil rekayasa di Twitter yang menunjukkan seorang tentara sedang menyeringai dan memegang pisau berlumuran darah ke tenggorokan seorang anak berkerudung, yang sedang memegang seekor domba.

Menyertai foto itu, Zhao menulis: "Terkejut dengan pembunuhan warga sipil Afghanistan dan tahanan oleh tentara Australia. Kami sangat mengutuk tindakan seperti itu, dan menyerukan agar mereka yang melakukannya dituntut pertanggungjawabannya.”

Banyak sekutu Australia mengkritik cuitan tersebut, dengan Uni Eropa menyebutnya "tidak bertanggung jawab."

Sejumlah pejabat dari Amerika Serikat, Selandia Baru dan Kanada juga mengkritik cuitan China tersebut. [ab/lt]

Recommended

XS
SM
MD
LG