Tautan-tautan Akses

Dikarantina Karena Korona, Dari Stress Hingga Miniatur Indonesia


Kapal pesiar "Diamond Princess" saat dikarantina akibat terpapar virus korona, di pelabuhan Daikoku, Yokohama, Jepang, 21 Februari 2020. (Foto: dok).
Kapal pesiar "Diamond Princess" saat dikarantina akibat terpapar virus korona, di pelabuhan Daikoku, Yokohama, Jepang, 21 Februari 2020. (Foto: dok).

Proses karantina terhadap 74 warga negara Indonesia (WNI) yang kini masih berada di atas kapal pesiar Diamond Princess, yang berlabuh di Jepang, rencananya akan dilakukan selama 28 hari mengingat status kapal yang belakangan dinyatakan sebagai episentrum baru virus korona jenis baru alias COVID-19. Kementerian Kesehatan RI menduga virus itu telah bermutasi sehingga dapat menulari manusia tanpa diikuti gejala klinis berat maupun ringan.

Proses karantina kali ini berbeda dengan yang dilakukan terhadap 285 WNI di Natuna, Kepulauan Riau, awal Februari lalu. Seluruh WNI yang dievakuasi dari Wuhan beserta dengan kru pesawat dan tim evakuasi hanya menjalani proses observasi kesehatan selama 14 hari, sebelum dinyatakan sehat dan negatif virus korona, lalu diperbolehkan pulang ke kota asal masing-masing 15 Februari lalu.

Salah seorang mahasiswi Indonesia yang dievakuasi dari Wuhan dan harus dikarantina di Natuna kala itu adalah Eva Taibe. Ia menceritakan kepada VOA tentang hari-hari pada masa karantina ini.

Minum Vitamin Hingga Jaga Pola Makan

“Memang pada masa observasi itu, satu tujuan utama dari pihak Kementerian Kesehatan sendiri adalah peningkatan kualitas kesehatan kita,” ujar Eva melalui sambungan telepon (16/02). Menurutnya, kehidupan di masa observasi sangat teratur, mulai dari jam istirahat, jam bangun tidur, hingga pola makan. Semua itu, menurutnya, membantu mereka tetap berada dalam kondisi tubuh yang bugar. “Kalau [bagi] saya pribadi ya, malah justru membentuk kebiasaan yang baik buat saya.”

Mahasiswi program doktoral dengan fokus pada studi psikologi terapan di Central China Normal University itu juga menuturkan tentang pemeriksaan kesehatan rutin dijalani setiap peserta karantina setiap harinya. “Pemeriksaan suhu tubuh itu pagi dan sore, kemudian juga pada saat bersamaan dilakukan tensi [darah],” katanya.

Eva Taibe, mahasiswi Central China Normal University, ketika menjalani proses observasi kesehatan selama 14 hari di Natuna, Kep. Riau. (Foto: Yuli Chaniago)
Eva Taibe, mahasiswi Central China Normal University, ketika menjalani proses observasi kesehatan selama 14 hari di Natuna, Kep. Riau. (Foto: Yuli Chaniago)

Saat ditanya apakah ada asupan khusus yang harus dikonsumsi selama masa observasi kesehatan, ia mengatakan bahwa peserta “cuma diberikan vitamin C dan vitamin B, kita dapat itu, dan itu diberikan secara berkala selama proses obervasi itu”.

Ia menjelaskan bahwa dalam proses observasi, peserta dengan suhu tubuh di atas 37 derajat Celcius akan dilarikan ke instalasi gawat darurat (IGD) untuk ditangani lebih lanjut.

“37 [derajat Celcius] itu batasnya tuh, dan biasanya [peserta dengan suhu] 37 itu dibawa ke IGD kalau misalnya beberapa hari, jadi ada pantauan khusus untuk teman-teman yang suhu badannya 37 derajat,” jelasnya.

Namun saat ditanya apakah ada yang pernah dilarikan ke UGD, sepengetahuannya yang dilarikan ke UGD lebih karena masalah kesehatan lain. “Bukan karena demam, tapi lebih kepada, misalnya, asam lambungnya naik, mungkin telat makan,” katanya.

Kondisi Psikologis Peserta Karantina

Lebih jauh Eva menceritakan bahwa sebagian peserta karantina mengalami masalah psikologis selama menjalani proses observasi selama dua minggu tersebut. “Teman-teman banyak yang mengalami psikosomatis,” kata Eva, yang mengaku ikut memberikan bantuan konseling psikologis kepada beberapa peserta.

Gangguan psikosomatis sendiri terjadi ketika pikiran seseorang turut memengaruhi kondisi tubuh atau fisik orang tersebut. Biasanya, rasa stres atau cemas menjadi faktor yang memicu atau memperparah kesehatan fisik orang itu. “Kita kan sebenarnya paranoid juga dengan kondisi badan kita, karena kita juga khawatir. Kalau misalnya satu sakit, ini kita semua tuh nggak pulang, akan dilanjutkan lagi masa observasinya,” tuturnya.

Eva juga tidak menyangkal bahwa suasana karantina sempat “chaos” di awal masa karantina. “Karena memang teman-teman itu harus beradaptasi. Ada yang mungkin nggak bisa sharing dengan orang lain, ada juga yang nggak bisa dengar suara ribut,” kisahnya. Akan tetapi, hal itu hanya berlangsung beberapa hari pertama, katanya.

Baginya, pengalaman berada dalam karantina akibat wabah virus corona itu tidak semengerikan yang ia bayangkan. Terutama, karena tersedianya berbagai fasilitas yang membuat mereka merasa lebih nyaman. “Menyenangkan, karena memang ada fasilitas karaoke, fasilitas olahraga ada, teman-teman yang suka bermain musik itu ada alat musiknya diberikan. Kita disediakan waktu untuk beribadah sesuai dengan agama kita masing-masing,” bebernya.

Eva menuturkan bahwa pengalaman itu justru membuatnya merasakan kembali kebersamaan dan toleransi antarpeserta yang memiliki latar belakang budaya, agama dan suku yang berbeda. “Kalau lihat proses karantina ya, saya ingat sekali, itu kayak Indonesia mini,” pungkasnya. [rd/em]

XS
SM
MD
LG