Tautan-tautan Akses

Diaspora Indonesia di AS Gelar Aksi Solidaritas


Sekitar 300an warga diaspora Indonesia menggelar aksi solidaritas di depan Gedung Kongres AS, Minggu malam (14/05).

Sekitar 300-an warga Indonesia di Washington DC dan sekitarnya Minggu sore (14/5) menggelar aksi solidaritas di taman nasional The Mall, yang berhadapan dengan gedung Kongres. Aksi yang dimulai sekitar jam lima sore ini diikuti warga dari berbagai negara bagian yang letaknya berdekatan dengan Washington DC, antara lain Maryland, Virginia, Pennsylvania dan New Jersey.

Dengan mengenakan pakaian berwarna merah dan putih, para pengunjukrasa melambaikan bendera Indonesia sambil menyanyikan lagu-lagu nasional. Sebagian membawa poster bertuliskan “Injustice Anywhere is a Threat to Justice Everywhere”, "RIP Democracy”, “Resist Intolerance” dan beberapa poster lain yang menunjukkan dukungan pada mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang kini dipenjara.

Ditemui VOA di tengah aksi solidaritas ini, penyelenggara acara Kurnia Hutapea mengatakan tidak menyangka jumlah peserta akan sebanyak ini.

“Saya terharu teman-teman ini bisa datang, meski dari jauh sekalipun. Ada yang dari Philadelphia, New Jersey, dan kota-kota lain di Maryland dan Virginia. Saya merasa ini merupakan bentuk kerinduan dan kepedulian warga kita di Amerika melihat kondisi di tanah air. Ini jelas menunjukkan mereka sangat peduli dan cinta pada Indonesia. Jumlah yang datang ini di luar ekspetasi saya,” ujar Kurnia.

Bill Kadarusman, salah satu peserta aksi solidaritas diaspora Indonesia di Washington D.C., Minggu, 14 Mei 2017.
Bill Kadarusman, salah satu peserta aksi solidaritas diaspora Indonesia di Washington D.C., Minggu, 14 Mei 2017.

Aksi Solidaritas Tidak Saja Dihadiri Warga Indonesia

Para peserta aksi tidak saja warga negara Indonesia, tetapi juga warga Amerika yang mengenal atau pernah tinggal di Indonesia. Salah satu diantaranya adalah Laurel McLaren yang ketika menjadi aktivis lingkungan sempat tinggal di Jakarta selama lebih dari 25 tahun.

Dengan bahasa Indonesia yang fasih, Laurel mengatakan sangat prihatin melihat disalahgunakannya isu agama dan ras/etnis dalam pilkada DKI Jakarta lalu. “Saya tinggal di Jakarta sejak jaman Soeharto. Saya juga beberapa tahun menjadi aktivis di jaman itu. Isu agama dan ras tidak lagi menjadi perdebatan setelah reformasi 1998. Jadi saya kaget ketika satu tahun terakhir ini isu tersebut muncul lagi. Kayaknya semua kaget. Tidak saja orang di Indonesia, tetapi juga di Amerika dan dimana-mana. Mengapa bisa begitu cepat berubah?” ujar Laurel.

Hal senada disampaikan Vincent Gunawan, warga New Jersey yang khusus datang bersama keluarganya untuk mengikuti aksi ini dan tidak kuasa menahan tangis ketika menyanyikan lagu “Tanah Airku.”

“Saya sangat berduka atas apa yang terjadi sekarang, bagaimana mungkin orang seperti Ahok yang berjuang keras untuk memberantas korupsi dan membuat perubahan tetapi diperlakukan tidak adil,” ujar Vincent.

Hal senada disampaikan Alex Mueller, seorang anak muda yang memiliki ibu warga Indonesia dan ayah warga Amerika.

“Apa yang terjadi pada Ahok itu menjengkelkan, tidak benar dan seharusnya diperbaiki. Saya juga mengecam UU penistaan agama yang digunakan terhadapnya. Aturan itu sudah ketinggalan jaman. Cukup aneh aturan itu masih berlaku di negara demokrasi seperti Indonesia,” ujar Alex dalam bahasa Inggris.

Aksi solidaritas serupa juga berlangsung di Los Angeles, San Fransisco dan Houston.

Tokoh Muslim Indonesia Serukan Rasa Optimis pada Indonesia

Dihubungi melalui Skype, tokoh Muslim Indonesia yang bermukim di New York, Syamsi Ali, menilai aksi seperti ini wajar saja.

“Sebelum ada keputusan khan juga ada aksi-aksi, misalnya yang menginginkan agar Ahok diputuskan bersalah. Saya kira dalam dunia kebebasan dan demokrasi, selama aksi-aksi itu masih dalam batas yang tidak melanggar batas yang ada misalnya melakukan anarkis, kekerasan atau membahayakan negara, apakah itu memburuk-burukkan negara dan lain-lain; saya kira silahkan saja,” tegas Syamsi Ali.

Lebih jauh tokoh yang kerap mendorong kerjasama antar-keyakinan ini mengingatkan agar jangan sampai aksi-aksi ini menggambarkan seakan-akan Indonesia sedang terancam.

“Kita jangan sampai banyak melibatkan pihak-pihak luar, yang kemudian seolah-olah ini sudah menjadi sebuah ancaman besar bagi Indonesia. Karena saya sendiri banyak mendengarkan bahwa hiruk-pikuk Pilkada di Jakarta ini seolah-olah sudah sebuah gambaran besar, bahwa Indonesia ini sudah berada dalam sebuah ancaman. Saya kira, kita jangan demikian, kita harus jaga rumah tangga ini, bagaimanapun juga, adalah tanggung jawab kita untuk tetap menampilkan Indonesia itu sebagai Indonesia yang insya Allah punya masa depan yang baik,” ujar Syamsi Ali.

Peserta aksi solidaritas di Washington DC hari Minggu berharap bisa menyampaikan aspirasi mereka kepada otorita berwenang di Indonesia dan sekaligus menunjukkan dukungan penyelesaian konflik yang ada secara bermartabat. [em]

XS
SM
MD
LG