Tautan-tautan Akses

Di Usia Senja, Mahathir Mohamad Bertekad Maju dalam Pemilu untuk Melawan Pemerintah Malaysia yang Koruptif


Reaksi mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad saat konferensi pers di Kuala Lumpur, Malaysia, 14 Desember 2020. (Foto: REUTERS/Lim Huey Teng)
Reaksi mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad saat konferensi pers di Kuala Lumpur, Malaysia, 14 Desember 2020. (Foto: REUTERS/Lim Huey Teng)

Mahathir Mohamad, yang kini berusia 97 tahun, bertekad untuk kembali maju untuk terakhir kalinya pada pemilu mendatang sebagai upaya untuk melengserkan pemerintahan saat ini yang menurutnya dipimpin oleh "gerombolan kriminal." Dalam mewujudkan upaya tersebut, Mahathir bahkan mengatakan ia siap untuk kembali bekerja sama dengan rival lamanya Anwar Ibrahim.

Mahathir, yang menjabat sebagai perdana menteri Malaysia lebih dari dua dekade, saat ini memimpin sejumlah koalisi oposisi yang berusaha untuk mengalahkan koalisi pimpinan Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakob, Barisan Nasional, yang terbelit oleh sejumlah kasus korupsi, dalam pemilu yang akan digelar pada 19 November mendatang.

Dalam pemilu pada 2018 lalu, Mahathir kembali dari masa pensiunan dan bergabung dengan Anwar untuk melengserkan pemerintahan yang dipimpin koalisi Barisan di saat koalisi tersebut menghadapi dugaan korupsi terkait skandal 1MDB bernilai miliaran dolar.

Ia lalu berjanji untuk menyerahkan kekuasaan kepada Anwar. Namun, koalisi mereka -- yang terdiri dari beragam etnis -- runtuh hanya 22 bulan setelah berkuasa akibat konflik. Situasi tersebut memberikan kesempatan pada Barisan, yang dipimpin oleh partai nasionalis Malaysia UMNO, untuk kembali ke tampuk kekuasaan.

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad (kanan) dan anggota parlemen oposisi Anwar Ibrahim (kiri) berbicara kepada media saat mereka memprotes penutupan parlemen di Kuala Lumpur pada 2 Agustus 2021. (Foto: AFP/Arif Kartono)
Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad (kanan) dan anggota parlemen oposisi Anwar Ibrahim (kiri) berbicara kepada media saat mereka memprotes penutupan parlemen di Kuala Lumpur pada 2 Agustus 2021. (Foto: AFP/Arif Kartono)

Sejumlah analis mengatakan suara dari mayoritas penduduk dari etnis Melayu dalam pemilu mendatang tampaknya akan terbagi di antara sejumlah partai berhaluan tengah, termasuk pimpinan Mahathir, yang muncul di tengah pergolakan politik Malaysia.

Dalam upaya yang ia sebut sebagai kemungkinan pertarungan dalam pemilu terakhirnya, Mahathir berjanji untuk melawan "orang Malaysia yang jahat, para kriminal Malaysia... melawan orang Malaysia yang telah menghancurkan negara ini."

Sejumlah pemimpin UMNO diketahui tengah menghadapi tuduhan korupsi yang diajukan oleh koalisi pimpinan Mahathir. Mereka di antaranya adalah mantan perdana menteri Najib Razak, yang divonis hukuman penjara selama 12 tahun pada September lalu dalam kasus yang berkaitan dengan 1MDB. Najib sendiri telah menyangkal segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Isu etnis dan agama adalah dua isu kontroversial yang mencuat di tengah masyarakat Malaysia yang multietnik. Etnis China dan India yang merupakan minoritas mengisi sepertiga dari total jumlah pemilih di negara tersebut.

Sejumlah survei menunjukkan bahwa pemilu mendatang akan berjalan sengit dengan kemungkinan tidak ada satupun partai atau koalisi yang akan memenangkan suara mayoritas.

Mahathir mengatakan dia tidak akan bekerja sama dengan UMNO, mengutip alasan korupsi yang membelit partai yang dulu ia dominasi itu.

Namun, ia tidak menghilangkan kemungkinan untuk bekerja dengan aliansi pimpinan Anwar, walaupun ia mengatakan bahwa partai-partai yang tergabung dalam koalisi nantinya perlu berdiskusi untuk menentukan siapa yang akan menjadi perdana menteri setelah pemilu berlangsung.

"Kami sepakat bahwa tidak ada satu individu pun yang dapat mengklaim bahwa dirinyalah kandidat perdana menteri, bahkan sebelum hasil pemilu muncul," ujar Mahathir.

Dalam wawancara dengan Reuters pada minggu lalu, Anwar mengatakan bahwa ia telah menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan Mahathir dan koalisi lainnya dengan alasan "perbedaan fundamental."

Poster Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad dan politisi Anwar Ibrahim, yang diberikan pengampunan kerajaan, di Kuala Lumpur, Malaysia 16 Mei 2018. (Foto: REUTERS/Lai Seng Sin)
Poster Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad dan politisi Anwar Ibrahim, yang diberikan pengampunan kerajaan, di Kuala Lumpur, Malaysia 16 Mei 2018. (Foto: REUTERS/Lai Seng Sin)

Rivalitas antara Anwar dan Mahathir telah mendominasi kancah perpolitikan Malaysia dalam beberapa dekade terakhir setelah Mahathir, yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri, memecat dan mengirim Anwar, yang merupakan wakilnya, ke penjara pada 1998 dengan tuduhan sodomi dan korupsi.

Anwar lalu bebas pada 2004, dan naik menjadi pemimpin oposisi tetapi kembali dibui pada 2015 atas tuduhan sodomi yang lain. Ia konsisten mengatakan bahwa segala tuduhan terhadapnya bermotif politik. Ia dibebaskan pada 2018 setelah kemenangan yang diraih kubu Mahathir pada pemilu yang membuat UMNO lengser dari tampuk kekuasaan untuk pertama kalinya dalam sejarah Malaysia setelah merdeka.

Pemilu Terakhir?

Dengan kemungkinan di mana pemilu mendatang akan menjadi pemilu terakhir ia berpartispasi, Mahathir tidak melihat usianya sebagai penghalang untuk mendapatkan suara dari para pemilih muda, di mana yang termuda berusia 18, hampir delapan dekade lebih muda dari dirinya.

"Saya merasa anak-anak muda sekarang lebih dewasa dibandingkan anak-anak muda terdahulu... Saya pikir mereka tidak hanya akan melihat pada faktor usia, tetapi juga kemampuan," kata Mahathir.

Aliansi pempinan Mahathir bukanlah pemain utama dalam pemilu mendatang dan diprediksi tidak akan memenangkan kursi parlemen dalam jumlah besar.

Walaupun begitu, ia tetap "merasa yakin" bahwa aliansinya dapat memenangkan pemilu serta menggulingkan pemerintahan yang penuh korupsi, menerapkan kebijakan yang ramah terhadap bisnis dan mengembalikan Malaysia sebagai 'Macan Asia" di sektor ekonomi.

Politisi berusia senja itu mengatakan bahwa ia tidak memiliki hasrat lagi untuk menjadi perdana menteri, tetapi akan menerima jabatan tersebut jika ia diminta.

Mahathir, yang berkompetisi melawan empat kandidat lainnya di wilayah konstituennya, Langkawi, mengatakan ia akan pensiun jika kalah dalam pemilu mendatang.

"Saya tidak melihat diri saya masih aktif di dunia politik ketika saya berusia 100 tahun," katanya. "Hal terpenting adalah membagikan pengalaman saya kepada para pemimpin muda di partai." [rs/ah]

Forum

Recommended

XS
SM
MD
LG