Tautan-tautan Akses

Demonstran Pro-Pemerintah Iran Tuduh Campur Tangan Asing


Pengunjuk rasa menghadiri demonstrasi kenaikan harga bensin, di utara kota Sari, Iran, 16 November 2019. (Foto: AP)

Ribuan pendukung pemerintah Iran berdemonstrasi pada hari Senin (25/11) di Teheran sambil menuduh Amerika dan sejumlah negara asing lainnya menghasut aksi protes anti-pemerintah yang telah mencekam negara itu bulan ini.

Kelompok-kelompok pro-pemerintah itu membakar bendera Israel dan Inggris hari Senin sambil menyerukan slogan-slogan “Matilah Amerika”.

Para pembicara dalam demonstrasi itu, termasuk pemimpin pasukan Garda Revolusi, Jenderal Hossein Salami, menuduh Amerika, Inggris, Israel dan Arab Saudi telah mengipasi unjuk rasa anti-pemerintah. Hal tersebut dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar.

Aksi protes itu dimulai ketika pemerintah mengumumkan kenaikan harga bensin 50 persen tanggal 15 November. Banyak penduduk Iran melihat kenaikan harga itu sebagai beban berat bagi keuangan mereka, khususnya dalam keadaan perekonomian yang buruk.

Ketika demonstrasi berlangsung, puluhan bank dan sejumlah bangunan dibakar oleh demonstran. Kelompok Amnesty International mengatakan hari Senin, sedikitnya 143 orang tewas dalam aksi-aksi protes itu. “Kematian mereka hampir seluruhnya disebabkan karena penggunaan senjata api oleh pasukan keamanan iran," katanya.

Menurut Jenderal Salami hari Senin, kenaikan harga bensin itu “hanyalah alasan” untuk menyerang Iran. Ia mengeluarkan peringatan kepada Amerika, Israel, Inggris dan Arab Saudi.

“Kalian telah mendapat tamparan," kata Salami, “dan kalau kalian melewati garis merah kami, kami akan menghancurkan kalian," tambahnya.

Ketika demonstrasi anti-pemerintah berlangsung, pemerintah memblokir jaringan internet di Iran selama berhari hari, untuk mencegah para demonstran mengirim foto-foto aksi protes dan penindasan keras yang dilakukan pasukan pemerintah, ke luar negeri. [ii/em]

XS
SM
MD
LG