Tautan-tautan Akses

Demo di AS Tuntut Kekerasan Terhadap Uighur Diakui sebagai Genosida


Para pedemo dari komunitas Xinjiang dalam unjuk rasa untuk menunjukkan solidaritas kepada etnis Uighur di depan kantor pusat PBB di New York, 28 Agustus 2020. (Foto: Salih Hudayar)
Para pedemo dari komunitas Xinjiang dalam unjuk rasa untuk menunjukkan solidaritas kepada etnis Uighur di depan kantor pusat PBB di New York, 28 Agustus 2020. (Foto: Salih Hudayar)

Puluhan orang berunjuk rasa di Washington dan New York pada Jumat (28/8) siang, menyerukan kepada pemerintah Amerika Serikat, PBB, dan negara-negara di seluruh dunia agar melakukan lebih banyak upaya daripada hanya mengecam kekerasan terhadap warga etnis Uighur di China.

Mereka juga menuntut agar kebijakan China di Xinjiang, kawasan di barat laut, sebagai genosida.

Demonstrasi itu berlangsung ketika anggota minoritas etnis-agama memperingati empat tahun sejak China meningkatkan kampanyenya di Xinjiang, dan di tengah laporan bahwa pemerintah AS sedang mempertimbangkan untuk menyatakan tindakan Beijing itu sebagai genosida.

Salih Hudayar, pendiri Gerakan Kebangkitan Nasional untuk Turkistan Timur, mengatakan 29 Agustus tahun ini menandai empat tahun pemindahan Chen Quanguo -- kepala Partai Komunis China untuk Kawasan Otonomi Uighur Xinijang -- dari Tibet ke Turkistan Timur.

"Dia (Chen Quanguo.red) adalah otak dibalik pembangunan kamp konsentrasi, penjara, kerja paksa warga Uighur, dan pengintaian teknologi tinggi, sehingga menjadi negara polisi yang kita kenal sekarang,” kata Salih Hudayar.

Gerakan Kebangkitan Nasional untuk Turkistan Timur adalah organisasi Uighur yang berbasis di Washington DC.

Sejak akhir 2016, ketika Chen diangkat menjadi pejabat Partai Komunis China untuk urusan Xinjiang, para pengamat memperkirakan lebih dari satu juta warga Uighur telah dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi. Sementara itu, puluhan ribu lainnya dipaksa bekerja di pabrik-pabrik di seluruh China.

Beberapa kelompok pengamat, termasuk Proyek HAM Uighur, yang berbasis di Washington DC, juga menuduh Beijing memaksa perempuan Uighur menjalani aborsi dan sterilisasi.

“Kami ingin baik pemerintah AS maupun PBB untuk menggolongkan kekejaman-kekejaman itu sebagai genosida, dan menyerukan kepada masyarakat internasional dan pemerintahan di banyak negara untuk tidak diam lagi dan memperingatkan China,” kata Hudayar, yang mengorganisasi demo di depan Departemen Luar Negeri AS di Washington, dan markas PBB di New York.

Pada Juli, AS memasukkan Chen ke dalam daftar hitam, karena “pelanggaran HAM yang serius” terhadap minoritas Muslim Turkic di Xinjiang.

Awalnya China membantah tuduhan pemenjaraan masal warga Uighur di kamp-kamp. Namun, kemudian mengatakan, kompleks kamp itu adalah fasilitas re-edukasi yang ditujukan untuk melatih warga Uighur yang “terinfeksi oleh ekstremisme keagamaan.” [jm/ft]

XS
SM
MD
LG