Tautan-tautan Akses

Delegasi Afghanistan, Taliban, Akan Rundingkan Perdamaian di Qatar


Delegasi Taliban berjabat tangan selama pembicaraan antara pemerintah Afghanistan dan gerilyawan Taliban di Doha, Qatar 12 September 2020. (Foto: REUTERS/Ibraheem al Omar)

Delegasi pemerintah Afghanistan, yang akan mencakup kepala dewan rekonsiliasi negara itu, dijadwalkan bertemu Taliban di Doha untuk memulai proses perdamaian yang telah lama terhenti, kata seorang pejabat Afghanistan hari Selasa (13/7).

Taliban diperkirakan akan membawa para pemimpin senior mereka ke meja perundingan ketika kedua pihak bertemu, kemungkinan hari Jumat, kata pejabat yang berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang memberi pengarahan kepada pers. Taliban memiliki kantor politik di ibu kota Qatar, Doha.

Upaya baru untuk mencapai kesepakatan damai itu muncul sementara AS mengurangi kehadiran militernya di Afghanistan. Komandan AS Jenderal Scott Miller baru-baru ini memperingatkan bahwa meningkatnya kekerasan sangat merusak peluang Afghanistan untuk menemukan solusi damai bagi perang selama puluhan tahun di sana.

Pada saat bersamaan, para anggota Taliban telah merebut sebagian besar wilayah negara itu. Meskipun jumlah pasti distrik yang kini dikuasai Taliban tidak diketahui, kelompok itu diyakini menguasai sepertiga lebih dari 421 distrik dan pusat distrik di Afghanistan.

Beberapa distrik itu berlokasi strategis, berbatasan dengan Iran, Uzbekistan dan Tajikistan. Peningkatan jumlah distrik yang dikuasai itu juga mengungkapkan kelemahan Pasukan Pertahanan dan Keamanan Nasional Afghanistan. Banyak distrik jatuh ke pihak Taliban tanpa pertempuran dan lebih dari 1.000 tentara melarikan diri ke Tajikistan. Ada laporan berulang mengenai pasukan yang tidak mendapat logistik atau dibiarkan tanpa bala bantuan. Senjata dan jumlah anggota mereka sering kali dikalahkan oleh Taliban.

Pembicaraan Doha akan dipimpin oleh pejabat senior pemerintah Abdullah Abdullah, yang mengepalai dewan rekonsiliasi Afghanistan.

Mantan presiden Hamid Karzai juga diperkirakan termasuk di antara anggota delegasi. Perundingan itu dimaksudkan untuk mengakhiri kekerasan yang terus meningkat sejak AS menandatangani kesepakatan dengan Taliban pada Februari tahun lalu.

Karzai meminta pemerintah agar tidak melewatkan kesempatan dan terus mengupayakan perdamaian. Ia juga menyatakan harapan bahwa suatu hari Afghanistan akan memiliki perempuan sebagai presiden dan mendesak perempuan agar tetap bekerja dan melanjutkan pendidikan mereka.

Ribuan orang Afghanistan berusaha meninggalkan negara mereka di tengah-tengah kekhawatiran mengenai masa depan negara itu.

Dalam isyarat baru mengenai kekhawatiran akan masa depan Afghanistan, Perancis mendesak warganya agar meninggalkan negara itu dan menyatakan sedang mengatur penerbangan khusus hari Sabtu untuk mengevakuasi mereka dari Kabul. Tidak ada indikasi kedutaan besar Perancis akan ditutup.

Australia telah menutup kedutaannya. Sementara itu AS telah mengurangi staf kedutaan, dan menyatakan tidak memiliki rencana untuk mengevakuasi serta mengumumkan bahwa kantor layanan visa telah dibuka kembali setelah ditutup sementara karena wabah COVID-19. [uh/ab]

Lihat komentar (1)

XS
SM
MD
LG