Tautan-tautan Akses

Dari Mahasiswa Nigeria Menjadi Presiden Universitas di Amerika


Benjamin Ola Akande, yang berasal dari Nigeria, merupakan presiden ke-21 Westminster College di Missouri. (Foto: Courtesy/Westminster College)

Dr. Benjamin Akande datang di Amerika pada tahun 1979 untuk menempuh studi jenjang sarjana jurusan bisnis di Wayland Baptist University, Plainview, Texas. Setelah meraih gelar doktor dari Oklahoma University dan telah menjadi professor di beberapa perguruan tinggi di Amerika, kini dia menjadi presiden atau rektor Champlain College, Burlington, Vermont.

Benjamin Akande datang di Amerika dari Nigeria di mana dia adalah bagian mayoritas, di mana semua penduduk berkulit hitam. Dia tiba di sebuah kota kecil di Texas, Amerika untuk melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi di kota itu.

“Saya berasal dari negara di mana saya menjadi bagian dari mayoritas, di mana kami semua, mayoritas dari kami berkulit hitam, dan saya datang ke tempat di mana saya menjadi minoritas, secara harfiah dalam sekejap," kata Benjamin Akande.

Benjamin Ola Akande, presiden ke-21 Westminster College di Missouri. (Foto: Courtesy/Westminster College)
Benjamin Ola Akande, presiden ke-21 Westminster College di Missouri. (Foto: Courtesy/Westminster College)

Benjamin Akande datang ke Amerika untuk melanjutkan kuliah program sarjana di sebuah universitas swasta kecil, Wayland Baptist University (WBU) di kota Plainview, Texas.

Universitas Baptis Wayland atau Wayland Baptist University (WBU) kini memiliki 14 kampus di lima kota di Texas dan enam negara bagian lain serta di American Samoa, dan Kenya. Universitas itu didirikan pada tahun 1908 dan kini memiliki sekitar 5.000 mahasiswa.

Benjamin Akande menerima gelar sarjana untuk jurusan bisnis. Selama kuliah di kota Plainview, Texas, dia mendapat kesempatan membaur dalam masyarakat. Benjamin Akande melakukan kebiasaan itu karena dorongan dari ayahnya.

“Orang tua saya –Samuel dan Comfort Akande– pernah belajar di Amerika Serikat pada akhir tahun lima puluhan dan terpikat dengan pendidikan Amerika," kata Benjamin Akande.

Benjamin Akande mengatakan kedua orang tuanya tinggal beberapa tahun pertama di Texas, di mana ketika itu –pada akhir 1950-an– adalah masa yang sangat sulit bagi orang kulit hitam di Amerika. Ketika itu perjuangan persamaan hak atau era hak-hak sipil sedang berlangsung.

Kedua orang tua Benjamin Akande harus mengalami hal-hal seperti duduk di bagian belakang bus dan makan di dapur. Namun, terlepas dari itu semua, ayah Benjamin merasa yakin bahwa Amerika sedang dalam masa transisi.

“Ayah memastikan agar kami mengerti bahwa Amerika adalah apa yang kita bentuk, dan bahwa kita harus terlibat secara aktif, kita harus mengulurkan tangan ke orang lain. Kita harus mengenal orang, harus bertemu orang. Kita harus menerima pendapat orang lain," kata Benjamin Akande.

"Dan, kemudian seiring dengan berjalannya waktu, saya bahkan menguasai beberapa istilah dalam bahasa gaul khas, secara bertahap terus berusaha mengasimilasikan diri ke dalam komunitas tanpa mengubah atau mempengaruhi nilai-nilai yang saya anut atau mencoba melupakan dari mana saya berasal. Semua itu memungkinkan saya menjadi diri saya sendiri, dan pada saat yang sama berada di tengah-tengah masyarakat yang sangat berbeda," lanjutnya.

Ketika belajar di Texas, Benjamin Akande juga memperhatikan budaya dan kebiasaan warga setempat yang sangat berbeda dari negara asalnya. Dia melihat bahwa orang di Texas mengenakan celana jin yang sangat ketat.

“Saya katakan kepada mereka: ‘celana itu pasti terasa sangat tidak nyaman dipakai, kawan,’ dan mereka mengatakan: ‘tidak, Anda tahu, Benjamin, kami terbiasa dengan ini. Kami telah memakai celana model ini sepanjang hidup kami. Dan, saya bahkan mendapat kesempatan untuk mulai menyukai musik country," kata Benjamin Akande.

Benjamin Akande mengatakan sangat menghargai kebiasaan mendongeng warga Texas ketika itu, tentang kisah-kisah kehilangan, keberuntungan, kejutan-kejutan, dan kesuksesan. Dia mendapati semua itu sangat menarik karena sebagai orang Afrika, dia tumbuh di lingkungan dengan kebiasaan mendongeng di mana ayahnya menceritakan kisah-kisah luar biasa kepadanya dan saudara-saudara perempuannya, dan sebagian besar cerita itu tentang Amerika.

Ketika mendengar kisah-kisah tentang Amerika itu dari ayahnya, Benjamin Akande merasa seakan-akan telah berada di Amerika sebelumnya, seakan-akan dia telah melihat semuanya. Dia bahkan mengatakan bisa memasukkan semua kisah itu ke dalam pikiran, mata, dan membayangkan semuanya dalam benak.

“Apa yang membuat negara ini benar-benar hebat adalah kenyataan bahwa negara ini merangkul, memungkinkan, dan merekrut orang-orang dari seluruh dunia. Jika kita berbicara tentang membawa cita-cita pendatang, membawa nilai-nilai pendatang serta memberikan yang terbaik dan orang-orang yang paling cerdas, Amerika adalah negara yang telah menjadi lahan subur untuk itu semua," kata Benjamin Akande.

Benjamin Akande mengatakan, hasil dari semua itu adalah transformasi, kreativitas, dan inovasi yang telah kita saksikan selama bertahun-tahun. “Jika kita melihat aspek itu,” katanya, “kemudian kita lihat orang-orang seperti saya, dan orang lain yang menjadi presiden dari begitu banyak lembaga pendidikan di Amerika Serikat sekarang, yang dulu datang ke negara ini sebagai mahasiswa, maka itu merupakan sumbangan yang besar untuk Amerika.

“Amerika membuat kita lebih kuat, lebih baik, lebih banyak berkontribusi, dan kemudian kita membalasnya dengan pengabdian dengan pelayanan yang dalam kapasitas saya saat ini sebagai presiden Champlain College di Burlington, Vermont," kata Benjamin Akande.

Didirikan pada tahun 1878, Champlain College kini menawarkan program sarjana dan program gelar master, dalam lebih dari 80 bidang studi. Sebanyak 2.200 mahasiswa program sarjana kini terdaftar di Champlain College yang berkampus Burlington, Vermont. Mereka berasal dari 44 negara bagian di Amerika dan dari 17 negara di berbagai belahan dunia. [lt/ii]

XS
SM
MD
LG