Tautan-tautan Akses

Dampak COVID-19, Ratusan Juta Orang Kelaparan di Seluruh Dunia


Orang tua dan anak-anak paling menderita akibat kerawanan pangan di Ambovombe, Madagaskar, 12 Juni 2021, karena mereka tidak punya apa-apa selain daun kaktus untuk dimakan. (Courtesy Image: WFP/Tsiory Andriantsoarana)
Orang tua dan anak-anak paling menderita akibat kerawanan pangan di Ambovombe, Madagaskar, 12 Juni 2021, karena mereka tidak punya apa-apa selain daun kaktus untuk dimakan. (Courtesy Image: WFP/Tsiory Andriantsoarana)

Perserikatan Bangsa-Bangsa hari Senin (12/7) menyatakan kelaparan global meningkat secara dramatis tahun 2020, sebagian besar diakibatkan dampak pandemi COVID-19 terhadap akses dan harga makanan.

“Kenyataannya lebih buruk dari yang dibayangkan,” kata Arif Husain yang memimpin bidang ekonomi pada Program Pangan Dunia (WFP). “Dalam satu tahun saja, jumlah orang yang menderita kelaparan kronis mengalami peningkatan, melebihi total keseluruhan dalam lima tahun sebelumnya.”

Laporan tahunan tentang Status Gizi dan Ketahanan Pangan, yang dilaksanakan lima badan PBB, mendapatkan temuan yang sangat mencolok, yaitu: hampir satu dari tiga orang di seluruh dunia, 2,37 miliar orang tidak punya akses ke makanan yang cukup tahun lalu, sebuah lonjakan hampir 320 juta orang dalam satu tahun. Normalisasi angka kelaparan kronis yang sangat tinggi itu memakan waktu puluhan tahun.

Pintu masuk markas besar Program Pangan Dunia PBB (WFP), di Roma, 9 Oktober 2020. (AP)
Pintu masuk markas besar Program Pangan Dunia PBB (WFP), di Roma, 9 Oktober 2020. (AP)

PBB juga khawatir, itu akan membawa dunia keluar dari jalur dalam pencapaian tujuan untuk menghilangkan kelaparan dan kekurangan gizi tahun 2030. Laporan itu memperingatkan bahwa 660 juta orang diperkirakan masih menghadapi kelaparan pada tanggal yang ditargetkan. Sebagian hal itu dikarenakan implikasi jangka panjang pandemi virus corona. PBB menyatakan angka itu bisa mencapai 30 juta orang lebih banyak dibanding periode sebelum pandemi COVID-19.

Qu Dongyu. (Foto: dok).
Qu Dongyu. (Foto: dok).

“Lebih dari setengah penduduk dunia yang kekurangan gizi tinggal di Asia sebanyak 418 juta orang dan lebih dari sepertiga di Afrika, sekitar 282 juta,” kata Qu Dongyu, direktur jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

Anak-anak sangat terpengaruh dimana jutaan anak kehilangan makan siang di sekolah, karena penutupan selama pandemi. Bagi banyak orang, ini adalah satu-satunya makanan harian yang dapat mereka andalkan.

Stunting dan kurang gizi pada anak-anak yang kurus meningkat tahun lalu, termasuk juga kelebihan berat badan merupakan dampak dari gizi buruk.

Selain COVID-19, konflik, dan dampak perubahan iklim terhadap pertanian juga mempengaruhi pasokan pangan global.

Secara keseluruhan, PBB menyatakan sekitar 41 juta warga di 43 negara terancam kelaparan, dan tidak banyak waktu bagi mereka masuk ke dalam jurang keterpurukan. [mg/jm]

XS
SM
MD
LG