Tautan-tautan Akses

Dampak COVID-19: 128 Juta Anak Kehilangan Kesempatan Pendidikan


Para pelajar di Desa Bukit Temulawak, Yogyakarta mengikuti kelas daring selama pandemi, menggunakan telepon genggam dengan akses internet yang masih terbatas (AFP).

Sebuah lembaga PBB melaporkan 128 juta anak kehilangan kesempatan pendidikan karena COVID-19, naik dari 75 juta pada masa sebelum pandemi.

Sejak diluncurkan sebagai dana global PBB lima tahun lalu, “Education Cannot Wait” (“Pendidikan Tidak Bisa Menunggu”) telah menyediakan pendidikan berkualitas bagi 4,5 juta anak yang terjebak dalam lebih dari 30 krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Para pejabat lembaga itu mengatakan mereka sekarang akan dapat membantu tambahan 2,5 juta anak dan remaja berkat kemurahan pemerintah Jerman yang memberikan lebih dari $228 juta.

Uang itu, kata mereka, akan memungkinkan jutaan anak muda yang terjebak dalam konflik bersenjata, pemindahan paksa, keadaan darurat akibat iklim dan bencana lainnya untuk mendapatkan pendidikan.

Duta Besar Jerman untuk PBB di Jenewa, Katharina Stasch, mengatakan COVID-19 telah mengancam kemajuan yang dicapai di semua bidang, termasuk pendidikan. Dia mengatakan banyak anak tidak bisa bersekolah dan tidak kembali ke sekolah bahkan ketika sekolah dibuka kembali. Dia mengatakan keadaan demikian tidak dapat diterima karena pendidikan adalah kunci untuk mengatasi berbagai tantangan.

Murid-murid SD di desa Bukit Temulawak, Yogyakarta belajar secara online menggunakan ponsel pintar yang dipakai bersama. (Foto: AFP)
Murid-murid SD di desa Bukit Temulawak, Yogyakarta belajar secara online menggunakan ponsel pintar yang dipakai bersama. (Foto: AFP)

“Di seluruh dunia, ada 34 juta anak dan remaja terlantar. Jumlah mereka akan terus bertambah sebagai akibat dari krisis iklim global dan anak-anak perempuan sangat berisiko. Kita memiliki tanggung jawab bersama agar tidak kehilangan generasi ini. Kita tidak boleh meninggalkan siapa pun,” ujar Stasch.

Direktur “Pendidikan Tidak Bisa Menunggu,” Yasmine Sherif, mengatakan bahwa lembaga yang dipimpinnya itu memberi anak-anak paket lengkap kurikulum, pengajaran dan pembelajaran, perlindungan, pemberian makan di sekolah, dan layanan psiko-sosial, semua yang diperlukan untuk mencapai standar pendidikan yang baik.

“Yang sangat penting jika kita ingin mencapai salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan atau hak asasi manusia lainnya. Kecuali generasi anak-anak dan pemuda di negara-negara seperti Burkina Faso, Chad, Suriah, Afghanistan, Republik Afrika Tengah, Rohingya menerima pendidikan 12 tahun, kita tidak akan bisa mencapai banyak hal di tempat lain dalam tujuan yang telah kita tetapkan,” kata Sherif.

Anak-anak di Kathmandu, Nepal menunggu sebelum masuk kelas, setelah sekolah dibuka kembali setelah ditutup selama berbulan-bulan akibat pandemi, 27 September 2021.
Anak-anak di Kathmandu, Nepal menunggu sebelum masuk kelas, setelah sekolah dibuka kembali setelah ditutup selama berbulan-bulan akibat pandemi, 27 September 2021.

Sherif mengakui “Education Cannot Wait” beroperasi di lingkungan-lingkungan yang menantang yang selalu berubah-ubah. Dia mengatakan program tersebut dapat berjalan meskipun banyak krisis dan konflik di seluruh dunia karena statusnya sebagai Dana Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Oleh karena itu, dia mengatakan bahwa lembaga tersebut memiliki sistem dan keamanan yang memberikan perlindungan. Struktur ini, katanya, juga memungkinkan staf lembaga itu untuk berhubungan dengan pemerintah de facto dan kelompok-kelompok milisi yang akan sulit diajak bekerja sama jika “Pendidikan Tidak Bisa Menunggu” berada di luar badan PBB. [lt/jm]

XS
SM
MD
LG