Tautan-tautan Akses

Daerah-Daerah Berpenduduk Muslim di Sri Lanka Kembali Tenang


Mohamed Ramzeen berdiri di restoran kecilnya di Pilimathalawa, Sri Lanka, yang terdampak vandalisme, 8 Maret 2018.

Situasi tenang mulai kembali ke daerah-daerah berpenduduk Muslim yang dilanda kekerasan di kawasan Kandy, Sri Lanka, Jumat (9/3). Banyak toko dibuka kembali, sementara pasukan tambahan militer mengakhiri sebagian besar serangan gerombolan Buddhis di kawasan tersebut.

Komandan militer Mahesh Senanayake mengatakan pasukan keamanan telah berhasil mengatasi kekerasan oleh massa Buddhis yang melanda kawasan itu awal pekan ini, seraya menyatakan ia telah bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat dan bisnis pada hari Jumat.

Ia mengatakan para korban menuduh polisi dan pasukan elit polisi Satgas Khusus hanya melihat sewaktu mereka menjadi sasaran kekerasan. Menyedihkan jika itu benar, ujarnya. Pemerintah terpaksa mengerahkan lebih banyak lagi tentara ke jalan-jalan dan keamanan diperkuat dengan menurunkan pasukan tambahan, lanjutnya.

Baca juga: Pasca Bentrokan Antar Etnis, Sri Lanka dalam Keadaan Darurat

Sri Lanka telah lama menghadapi perpecahan etnis yang sengit antara warga Sinhala yang mayoritas dan kelompok minoritas Tamil, memicu perang saudara puluhan tahun sementara militan Tamil berusaha mendirikan tanah air sendiri. Perang berakhir pada tahun 2009.

Sejak itu perpecahan berdasarkan agama berkembang, dengan bangkitnya kelompok-kelompok Buddhis nasionalis yang menuduh kelompok minoritas Muslim mencuri atau menodai kuil-kuil Buddha, atau memaksa orang-orang berpindah keyakinan menjadi beragama Islam. Warga Muslim juga memiliki banyak toko-toko kecil di Sri Lanka, dan banyak Muslim menduga perasaan iri di kota kecil yang memicu sejumlah serangan terhadap mereka. ‚Äč[uh]

XS
SM
MD
LG