Tautan-tautan Akses

Cuaca Buruk di Papua Hambat Evakuasi Jenazah Korban Kecelakaan Pesawat

Para petugas penyelamat memeriksa puing-puing pesawat Trigana Air Service yang jatuh di daerah Pegunungan Bintang, Papua (18/8).
1/10 Para petugas penyelamat memeriksa puing-puing pesawat Trigana Air Service yang jatuh di daerah Pegunungan Bintang, Papua (18/8).
Puing-puing pesawat tersebar di medan yang sulit ditembus di Pegunungan Bintang, Papua (18/8).
2/10 Puing-puing pesawat tersebar di medan yang sulit ditembus di Pegunungan Bintang, Papua (18/8).
Foto yang dirilis Badan SAR Nasional (17/8) menunjukkan puing-puing pesawat Trigana Air Service yang jatuh di Oksibil, Papua.
3/10 Foto yang dirilis Badan SAR Nasional (17/8) menunjukkan puing-puing pesawat Trigana Air Service yang jatuh di Oksibil, Papua.
Seorang tentara memegang kotak hitam yang berisi perekam data dan suara kokpit dari pesawat penumpang Trigana Air Service, di lokasi jatuhnya pesawat di Pegunungan Bintang, Papua (18/8).
4/10 Seorang tentara memegang kotak hitam yang berisi perekam data dan suara kokpit dari pesawat penumpang Trigana Air Service, di lokasi jatuhnya pesawat di Pegunungan Bintang, Papua (18/8).
Petugas ambulans menunggu untuk membawa jenazah para korban jatuhnya pesawat Trigana Air Service, di bandar udara Sentani, Jayapura, Papua (18/8).
5/10 Petugas ambulans menunggu untuk membawa jenazah para korban jatuhnya pesawat Trigana Air Service, di bandar udara Sentani, Jayapura, Papua (18/8).
Deputi Direktur Operasi Badan SAR Nasional (BASARNAS) Heronimus Guru menjelaskan operasi pencarian dari pesawat Trigana Air Service yang hilang dalam konferensi pers di Jakarta (17/8). (AP/Tatan Syuflana)
6/10 Deputi Direktur Operasi Badan SAR Nasional (BASARNAS) Heronimus Guru menjelaskan operasi pencarian dari pesawat Trigana Air Service yang hilang dalam konferensi pers di Jakarta (17/8). (AP/Tatan Syuflana)
Kepala Badan SAR Nasional (BASARNAS) F. Henry Bambang Soelistyo (kiri) melihat peta bersama Marsekal Muda Sudipo Handoyo dalam operasi pencarian pesawat Trigana Air Service yang hilang, di bandar udara Sentani di Jayapura, Papua (17/8). (AP/Alfian)
7/10 Kepala Badan SAR Nasional (BASARNAS) F. Henry Bambang Soelistyo (kiri) melihat peta bersama Marsekal Muda Sudipo Handoyo dalam operasi pencarian pesawat Trigana Air Service yang hilang, di bandar udara Sentani di Jayapura, Papua (17/8). (AP/Alfian)
Kerabat penumpang pesawat Trigana Air Service yang hilang menunggu informasi di bandar udara Sentani, Jayapura, Papua (17/8). (AP/Alfian)
8/10 Kerabat penumpang pesawat Trigana Air Service yang hilang menunggu informasi di bandar udara Sentani, Jayapura, Papua (17/8). (AP/Alfian)
Kerabat penumpang pesawat Trigana Air Service yang jatuh mendengarkan petugas Kebijakan Nasional untuk Identifikasi Korban Bencana di bandar udara Sentani di Jayapura, Papua (17/8). (AP/Alfian)
9/10 Kerabat penumpang pesawat Trigana Air Service yang jatuh mendengarkan petugas Kebijakan Nasional untuk Identifikasi Korban Bencana di bandar udara Sentani di Jayapura, Papua (17/8). (AP/Alfian)
Keluarga penumpang pesawat Trigana Air yang hilang berdiri di depan loket Trigana Air yang tutup di bandar udara Sentani di Jayapura, Papua (16/8).
10/10 Keluarga penumpang pesawat Trigana Air yang hilang berdiri di depan loket Trigana Air yang tutup di bandar udara Sentani di Jayapura, Papua (16/8).
Previous slide
Next slide

Kepala BASARNAS mengatakan cuaca buruk masih menghambat operasi dan bahwa para petugas akan mencoba menggotong jenazah keluar lokasi dengan berjalan kaki.

Kabut tebal dan cuaca buruk menghambat petugas penyelamat hari Rabu (19/8) untuk mengevakuasi jenazah-jenazah kecelakaan pesawat Trigana di Papua yang menewaskan ke-54 orang di dalamnya.

Pesawat itu menabrak gunung hari Minggu namun perlu hampir dua hari bagi para petugas penyelamat untuk mencapai lokasi jatuhnya pesawat akibat medan hutan yang berat serta cuaca buruk.

Henry Bambang Soelistyo, kepala Badan SAR Nasional (BASARNAS), mengatakan cuaca buruk masih menghambat operasi dan bahwa para petugas akan mencoba menggotong jenazah keluar lokasi.

"Hujan lebat dan jarak pandang yang buruk menghalangi upaya-upaya penyelamatan kami dan proses ekuasi akan dilakukan dengan berjalan kaki," ujar Henry, menambahkan bahwa jenazah-jenazah itu akan dibawa ke Jayapura untuk diidentifikasi.

Perekam data penerbangan dan suara kokpit, atau kotak hitam, telah ditemukan dalam kondisi baik, menurut Henry. Data dalam alat tersebut dapat membantu menjelaskan apa yang menyebabkan pesawat Trigana Air Service itu jatuh.

Pesawat turboprop kembar ATR42-300 itu sedang terbang dari Jayapura ke kota Oksibil, sekitar 280 kilometer dari ibukota Papua itu, ketika hilang kontak dengan pengawas lalu lintas udara.

Pesawat membawa 49 penumpang dan lima awak untuk penerbangan yang dijadwalkan berlangsung selama 42 menit. Lima anak-anak, termasuk dua bayi, ada di antara penumpang.

Pejabat pusat krisis maskapai itu di bandar udara Sentani di Jayapura, Budiono, mengatakan semua penumpang adalah warga negara Indonesia.

Hujan lebat, angin kencang dan kabut terjadi di Oksibil ketika pesawat hlang kontak dengan bandara beberapa menit sebelum dijadwalkan mendarat.

Penumpang pesawat juga termasuk empat petugas kantor pos yang mengawal empat karung uang tunai sekitar Rp 6,5 miliar sebagai dana bantuan kenaikan harga bahan bakar, menurut kepala kantor pos Jayapura, Franciscus Haryono.

Petugas penyelamat telah menemukan uang tersebut, yang sebagian terbakar, dan akan memberikannya kepada pihak berwenang, ujar Henry.

XS
SM
MD
LG