Tautan-tautan Akses

Covid-19 Terus Merebak di Negara-negara Berkembang


Layanan kesehatan kota Guayaquil, Ekuador kewalahan menangani pasien Covid-19 dan banyak mayat bergeletakan di jalan-jalan.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengatakan, tiga perempat perebakan virus corona yang tercatat 100 ribu tiap hari, terjadi di negara-negara berkembang. Peningkatan itu, kata WHO sangat mencemaskan, karena banyak pakar epidemi berpendapat angka-angka itu sebetulnya lebih rendah dari yang dilaporkan.

Meskipun jumlah infeksi terus bertambah, pemerintah di negara berkembang mengatakan tidak punya pilihan selain melonggarkan berbagai pembatasan, karena kalau tidak, akan terjadi kehancuran ekonomi. Pemerintah India mencabut peraturan karantinanya pada hari yang sama tercatat peningkatan perebakan baru.

Kata para analis, tampak kejadian yang mengerikan di Guayaquil, Ekuador, di mana sistem layanan kesehatan kewalahan dan mayat-mayat tampak bergeletakan di jalan-jalan.

Karena pandemi Covid-19 baru dimulai di banyak negara berkembang, WHO dan badan-badan internasional lainnya semakin prihatin akan tragedi kemanusiaan yang mungkin terjadi.

Negara berkembang dan negara bepenghasilan menengah di Afrika, Asia, dan Amerika Latin kemungkinan masih belum mencapai puncak perebakan, kata pejabat kesehatan.

Dampak pandemi yang paling merusak dan menggoyahkan pemerintahan akan dirasakan di negara-negara paling miskin, kata Wakil Sekretaris Jenderal PBB urusan Kemanusiaan, Mark Lowcock.

Ia memperingatkan akan terjadinya bencana kelaparan di banyak negara seperti itu. [ii/pp]

XS
SM
MD
LG