Tautan-tautan Akses

Clinton Akui Kekalahannya Tanggung Jawab Pribadi, Tapi Menganggap FBI dan Rusia Ikut Bertanggung Jawab


Mantan Menlu AS Hillary Clinton pada acara Women for Women International Luncheon di New York City, New York, 2 Mei 2017.
Mantan Menlu AS Hillary Clinton pada acara Women for Women International Luncheon di New York City, New York, 2 Mei 2017.

Dalam temu-muka pertama sejak kalah pada pemilu presiden November lalu, Hillary Clinton melihat kekalahannya sebagai tanggungjawab pribadi. Tetapi ia mengatakan pada Christine Amanpour yang mewawancarainya secara terbuka di forum perempuan di New York hari Selasa (2/5) bahwa ia juga menyalahkan Rusia dan Direktur FBI James Comey karena membantu pesaingnya, capres Partai Republik Donald Trump, untuk menang.

Clinton mengatakan jika pemilu dilangsungkan pada 27 Oktober, ia akan menjadi presiden Amerika.

"Saya sudah memimpin hingga muncul insiden gabungan surat Jim Comey pada 28 Oktober dan WikiLeaks Rusia, yang menimbulkan keraguan di kalangan pemilih yang condong memilih saya namun kemudian jadi ragu-ragu," jelas Clinton.

Mantan calon presiden Partai Demokrat itu memimpin dalam beberapa jajak pendapat menjelang pemungutan suara hingga Direktur FBI James Comey mengumumkan bahwa ia membuka kembali penyidikan terhadap penggunaan jaringan email pribadi Clinton ketika ia menjabat sebagai menteri luar negeri.

Meskipun Clinton tidak dituntut melakukan kejahatan apapun, tim kampanyenya menderita pukulan sangat dahsyat hanya beberapa hari sebelum pemilu itu. Bulan Januari lalu komunitas intelijen Amerika mengatakan pihaknya menyimpulkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan kampanye untuk merongrong elektabilitas Clinton dan membantu Trump memenangkan pemilu itu.

Kini mantan ibu negara, senator dan menteri luar negeri itu mengatakan ia kembali menjadi warga negara yang aktif di bidang politik. Dalam wawancara hari Selasa ia membahas beragam masalah dunia saat ini, termasuk ancaman nuklir Korea Utara. Ia mengatakan kekuatan militer hanya salah satu alat untuk melindungi kepentingan Amerika, dan sama pentingnya dengan diplomasi dan bantuan pembangunan.

"Korea Utara selalu merupakan isu yang menarik, bukan hanya Kim Jong-un, tetapi juga ayahnya, yang selalu berupaya membuat Amerika berunding untuk meningkatkan status dan posisi mereka, dan kita seharusnya sangat hati-hati melakukan hal itu. Anda seharusnya tidak menawarkan perundingan tanpa kerangka kerja strategis yang lebih luas yang berupaya mengajak Tiongkok, Jepang, Rusia dan Korea Selatan untuk menekan rejim itu hingga akhirnya membawa mereka ke meja perundingan dengan beberapa prospek perubahan yang realistis," ujarnya.

Clinton mengatakan dia sedang menulis buku tentang pengalamannya sebagai perempuan pertama yang dinominasikan untuk bertarung menjadi presiden oleh sebuah partai politik. [em/jm]

XS
SM
MD
LG