Tautan-tautan Akses

China Perluas Uji DNA di Kawasan Xinjiang yang Bergejolak


ARSIP – Dalam foto yang diambil tanggal 6 Agustus 2008 ini, warga Uighur tampak sedang beristirahat dekat warung makanan dan papan iklan Olympiade Beijing di Kashgar yang terletak di Xinjiang, provinsi China yang terletak di bagian barat (foto: AP Photo/Ng Han Guan, Arsip)

Sebuah fondasi untuk pengumpulan sampel DNA masal dari warga kawasan Xinjiang yang bergejolak dan didominasi warga Muslim tampaknya sedang dibangun oleh China.

China tampaknya sedang membangun fondasi untuk pengumpulan sampel DNA masal dari warga kawasan yang bergejolak dan didominasi warga Muslim yang acapkali mengalami penindasan dengan alasan keamanan, ujar para pengamat HAM dan pakar independen hari Selasa.

Polisi di Xinjiang yang terletak di bagian barat China menegaskan kepada The Associated Press bahwa mereka sedang dalam proses pengadaan perlengkapan senilai minimum $8,7 juta dolar untuk menganalisis sampel-sampel DNA. Para pengamat dari Human Rights Watch mengatakan mereka telah melihat bukti pembelian perlengkapan tambahan terkait uji DNA senilai hampir $3 juta. Mereka memperingatkan program pengumpulan semacam itu bisa digunakan sebagai cara penguasa untuk memperkuat kendali politik mereka.

Langkah tersebut muncul setelah penguasa China tahun lalu dilaporkan mewajibkan warga Xinjiang untuk menyerahkan sampel DNA, sidik jari dan contoh rekaman suara sebagai syarat guna mendapatkan paspor agar dapat bepergian ke luar negeri.

Xinjiang berbatasan dengan beberapa negara Asia Tengah yang tidak stabil, termasuk Afghanistan. Kawasan tersebut telah mengalami banyak insiden pemboman dan serangan dengan menggunakan kendaraan maupun pisau yang dituduhkan pada separatis etnis penduduk asli minoritas Uighur yang beragama Islam.

Dalam satu serangan terbaru, delapan orang, termasuk tiga penyerang, tewas dalam sebuah serangan dengan pisau yang terjadi pada bulan Februari di Karesidenan Pishan yang terletak di Xinjiang bagian selatan, yang berbatasan dengan Pakistan. Penguasa China yang berusaha untuk menanggulangi ekstrimisme berlatar belakang agama di antara suku Uighur semakin meningkatkan langkah-langkahnya agresifnya untuk menekan gejolak yang terjadi. Langkah-langkah tersebut termasuk diwajibkannya pemasangan sistem pelacakan satelit untuk kendaraan-kendaraan di kawasan tertentu, penghargaan untuk informasi terkait teror, larangan bagi wanita untuk mengenakan hijab dan pria untuk memelihara jenggot.

Pembelian perlengkapan uji DNA di Xinjiang ditegaskan oleh seorang pejabat di Biro Keamanan Publik daerah. Pejabat tersebut, yang hanya memberikan nama keluarganya, Huang, mengatakan pemasok perlengkapan tersebut telah ditemukan. Di Karesidenan Sheche yang terletak di Xinjiang, pemasok untuk perlengkapan pengumpulan sidik suara dan sistem potret 3 dimensi sedang dalam tahap proses seleksi, menurut seorang pejabat keamanan dengan nama keluarga Yin, yang menolak untuk mengungkapkan rincian lebih lanjut.

Apabila dimanfaatkan dalam kapasitas penuh, perlengkapan yang baru ini dapat digunakan untuk membuat profil hingga 10.000 sampel DNA per hari dan beberapa juta per tahun, ujar Yves Moreau, seorang ahli biologi komputasi dengan spesialisasi analisis gnome dan privasi DBA dari the University of Leuven di Belgia. Skala pembelian menimbulkan “keprihatinan yang dapat dimengerti bahwa penguasa China bisa jadi sedang berencana untuk membuat profil DNA sebagain besar, atau bahkan keseluruhan” warga Uighur di Xinjiang, ujar Moreau.

Sejak negara itu mulai mengumpulkan profil DNA di tahun 1989, China telah mengumpulkan informasi genetik yang bersifat unik dari lebih 40 juta orang, yang merupakan basis data DNA terbesar di dunia, menurut sebuah studi yang dilaksanakan tahun lalu oleh para peneliti forensik di Kementrian Keamanan Umum China.

Berbeda dengan banyak negara lainnya, China tidak memiliki perlindungan hukum untuk menjaga privasi warganya dan mencegah penyalahgunaan informasi genetik mereka, ujar Helen Wallace, pendiri kelompok GeneWatch dari Inggris.

“Xinjiang sendiri adalah kawasan yang sering mengalami penindasan dan tingkat pengintaian yang tinggi,” ujar peneliti Maya Wang dari Human Rights Watch. “Untuk mengumpulkan bahkan lebih banyak lagi informasi dalam skala massal dengan tujuan yang tidak terkait investigasi kriminal membuka pintu untuk tingkat pengintaian dan kendali yang lebih ketat lagi.”

Aktivitas penyusunan basis data DNA yang disponsori Pemerintah menyusun penanda genetik yang ada di tiap individu, biasanya dari sampel darah, air liur, atau rambut. Mereka digunakan oleh lembaga penegak hukum di seluruh dunia sebagai bukti untuk dakwaan kejahatan dan untuk memantau pelaku kejahatan di masa lampau.

Di Amerika Serikat, di mana undang-undang pada umumnya membatasi pengumpulan DNA dari mereka yang telah ditahan, FBI menyatakan memiliki 12,8 juta sampel pelaku pelanggaran dalam basis data DNA nya, menurut lembaga tersebut. Jumlah tersebut adalah 4% dari total penduduk AS. Inggris memiliki sampel dari 5,2 juta orang di basis datanya, atau sekitar 8 perseb dari penduduknya, menurut pemerintah Inggris.

Basis data China saat ini mencakup 3 persen dari penduduknya. Informasi tersebut telah digunakan oleh pihak berwenang untuk menyatukan kembali anak-anak yang diculik dari orang tuanya. Informasi tersebut juga digunakan dalam sebuah kasus yang dipublikasi secara luas tahun lalu untuk membantu melacak seorang pembunuh berantai yang menurut pihak berwenang telah mengakui pembunuhan dari 11 orang wanita dan anak perempuan selama jangka waktu 14 tahun.

“Sudah jelas sedang ada infrastruktur yang cukup besar yang sedang dibangun lewat pengumpulan DNA, dan mereka berencana untuk memperluas langkahnya lebih jauh lagi,” ujar Wallace. “Saya ingin melihat China meletakkan basis data legalnya pada dasar hukum yang jelas. Tentunya termasuk jenis-jenis perlindungan yang kita saksikan di negara lain.” [ww]

XS
SM
MD
LG