Tautan-tautan Akses

AS

AS: China adalah Pelaku Perdagangan Manusia Terburuk di Dunia


Laporan Perdagangan Manusia 2017 menempatkan China sebagai pelaku perdagangan manusia yangterburuk di dunia (foto: ilustrasi).

Amerika hari Selasa (27/6) menyatakan China sebagai salah satu pelaku perdagangan manusia dan kerja paksa terburuk di dunia, menempatkannya bersama dengan negara-negara yang sudah sejak lama dikecam Amerika yaitu Iran, Korea Utara dan Suriah.

Menteri Luar Negeri Rex Tillerson bersama putri Presiden Trump – Ivanka – mengeluarkan laporan tentang perdagangan manusia itu di Departemen Luar Negeri di Washington DC.

Laporan tahunan Departemen Luar Negeri menurunkan peringkat China ke kategori 3 atau yang paling rendah, dengan mengatakan negara itu belum memenuhi “standar minimum penghapusan perdagangan manusia dan tidak melakukan upaya signifikan untuk hal tersebut.”

Dalam pidatonya, Tillerson menyerukan pada semua negara untuk mengambil langkah guna memberantas praktek perdagangan manusia tersebut.

“Yang paling tragis, perdagangan manusia memangsa korban yang paling rentan. Anak-anak kecil – laki-laki dan perempuan - yang terpisah dari keluarga mereka, seringkali dieksploitasi, dipaksa memasuki dunia pelacuran atau perbudakan seks. Laporan Tahunan Departemen Luar Negeri tentang Perdagangan Manusia Tahun 2017 menunjukkan jaringan perdagangan manusia dan meminta pertanggungjawaban para pelakunya. Fokus laporan tahun ini adalah tanggungjawab pemerintah – berdasarkan Protokol Palermo – untuk mengkriminalkan perdagangan manusia dan segala bentuknya; dan untuk mengadili pelanggar hukum," tandasnya.

Tillerson kemudian menambahkan, "Kami mendesak 17 negara yang bukan merupakan bagian dalam protokol internasional itu untuk mencegah, menekan dan menghukum pelaku perdagangan manusia, untuk mempertimbangkan kembali posisi mereka dan bergabung dengan negara-negara lain yang memiliki komitmen tersebut.”

Amerika memuji China atas “sebagian langkah” yang telah diambil untuk mengatasi perdagangan manusia, tetapi laporan itu mengatakan pejabat-pejabat lokal di Xinjiang “memaksa laki-laki dan perempuan Uighur untuk melakukan kerja paksa,” sementara otorita berwenang memaksa repatriasi warga Korea Utara tanpa memeriksa mereka atas kemungkinan melakukan perdagangan manusia, mengurangi upaya penegak hukum untuk memberantas perdagangan manusia dan memaksa laki-laki, perempuan dan anak-anak dalam kerja paksa di tempat pembakaran batu bara, tambang batu bara dan pabrik-pabrik dengan sedikit pengawasan pemerintah.

Sebelum laporan itu dirilis, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang mengatakan China mengecam keras “pernyataan Amerika yang tidak bertanggungjawab,” dan China siap memperkuat kerjasama dalam memerangi perdagangan manusia dengan semua negara. [em/jm]

XS
SM
MD
LG