Tautan-tautan Akses

China Pangkas Target Pertumbuhan 2017

  • Associated Press

Perdana Menteri China Li Keqiang tampak dalam layar besar saat menyampaikan laporan kerja dalam pembukaan Kongres Rakyat Nasional di Beijing (5/3). (AP/Ng Han Guan)

Pejabat ekonomi teratas China memangkas target pertumbuhan dan memperingatkan hari Minggu (5/3) bahaya-bahaya dari tekanan global untuk kontrol-kontrol perdagangan, di saat Beijing mencoba membangun ekonomi yang digerakkan konsumen dan mengurangi ketergantungan pada ekspor dan investasi.

Dalam pidato di legislatif nasional, Perdana Menteri Li Keqiang menjanjikan langkah yang lebih banyak untuk memotong surplus produksi baja yang mengganggu hubungan perdagangan dengan Washington dan Eropa. Ia menjanjikan perlakuan sama untuk perusahaan-perusahaan asing, sebagai respon atas keluhan bahwa Beijing berusaha menendang mereka dari pasar teknologi dan pasar-pasar menjanjikan lainnya.

Laporan Li menetapkan target pertumbuhan untuk ekonomi terbesar kedua di dunia itu pada "sekitar 6,5 persen atau lebih tinggi, jika memungkinkan." Angka itu turun dari perluasan 6,7 persen tahun lalu, namun jika tercapai, akan menjadi salah satu yang paling kuat secara global, mencerminkan kepercayaan bahwa upaya-upaya untuk menciptakan industri-industri baru akan menambah daya tarik.

Li menyerukan perhatian pada risiko-risiko lonjakan tingkat utang China, yang oleh para ekonom dilihat sebagai peningkatan ancaman terhadap pertumbuhan. Ia mengumumkan tidak ada inisiatif-inisiatif besar, tapi hal itu secara luas diperkirakan karena Partai Komunis yang berkuasa mencoba untuk menghindari guncangan-guncangan menjelang kongres akhir tahun ini, dimana Presiden Xi Jinping dijadwalkan akan diberi masa jabatan kedua. Para analis memperkirakan para pemimpin China menggunakan pertemuan legislatif itu untuk menekankan pengurangan risiko-risiko finansial dan mempertahankan pertumbuhan yang stabil.

Di saat ada tuntutan-tuntutan di Amerika Serikat dan Eropa untuk kontrol-kontrol perdagangan, Li memperingatkan bahwa China menghadapi "situasi yang lebih kompleks dan lebih buruk" di dalam dan luar negeri.

"Tren de-globalisasi dan proteksionisme meningkat," ujar Li. "Ada banyak ketidakpastian mengenai arah kebijakan-kebijakan ekonomi besar dan dampak-dampak terusannya, dan faktor-faktor yang dapat menyebabkan ketidakstabilan dan ketidakpastian secara nyata meningkat." [hd]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG