Tautan-tautan Akses

BPS: Ekonomi Indonesia 2021 Tumbuh 3,69 Persen


Para pengunjung di sebuah mal yang tampak lengang di tengah penerapan PPKM untuk menahan penyebaran virus corona, di Surabaya, 10 Agustus, 2021. (Foto: Juni Kriswanto/AFP)
Para pengunjung di sebuah mal yang tampak lengang di tengah penerapan PPKM untuk menahan penyebaran virus corona, di Surabaya, 10 Agustus, 2021. (Foto: Juni Kriswanto/AFP)

Pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 3,69 persen pada 2021. Menandakan perkonomian di Tanah Air mulai menggeliat usai dihantam pandemi COVID-19. Meski demikian, ada sejumlah tantangan yang cukup krusial yang masih akan dihadapi oleh Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2021 tumbuh 3,69 persen. Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan dengan perekonomian 2020 yang terkontraksi 2,07 persen.

Ia menjelaskan, perekonomian nasional pada triwulan-IV 2021 melesat 5,02 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono. (Foto: tangkapan layar/YouTube BPS Statistics).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono. (Foto: tangkapan layar/YouTube BPS Statistics).

Dengan hasil yang cukup positif ini, Margo yakin pemulihan ekonomi akan terus berjalan pada tahun ini asalkan pemulihan di bidang kesehatan juga terus dilakukan secara konsisten. Hal tersebut, katanya, akan berdampak besar bagi kegiatan sosial perekonomian masyarakat yang selama ini terganggu dengan terjadinya pandemi COVID-19.

“Harapannya momentum pemulihan ekonomi ini, bisa terjaga di tahun 2022, dengan catatan kita semua harus bersepakat bahwa prokes memegang peranan penting sehingga kasus harian semakin berkurang, dan mobilitas penduduk semakin bagus, dan pada akhirnya pemulihan ekonomi di tahun 2022 ini bisa berlanjut,” ungkap Margo dalam telekonferensi pers, Senin (7/2) di Jakarta.

Tumpukan kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok di tengah pandemi virus corona (Covid-19) di Jakarta, 3 Agustus 2020. (Foto: Reuters)
Tumpukan kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok di tengah pandemi virus corona (Covid-19) di Jakarta, 3 Agustus 2020. (Foto: Reuters)

Lebih lanjut, Margo menjelaskan pertumbuhan ekonomi 2021 ini ditopang oleh beberapa hal. Sektor lapangan usaha, bidang informasi dan komunikasi tumbuh 6,91 persen, diikuti dengan perdagangan besar dan eceran yang naik 4,65 persen, kemudian industri pengolahan 3,39 persen serta sektor transportasi dan pergudangan yang juga tumbuh 3,24 persen.

Perekonomian Global

Tumbuhnya perekonomian Indonesia tidak lepas dari sentimen global yang juga perlahan membaik. Margo mengungkapkan pertumbuhan ekonomi mitra dagang Indonesia, seperti China, Amerika Serikat, Korea Selatan, Singapura, Vietnam, Hong Kong dan Uni Eropa pada triwulan-IV 2021 tumbuh positif.

“Ekspor kita ke China, share-nya kurang lebih 45,8 persen, ekonominya tumbuh 4 persen, kemudian diikuti Amerika Serikat yang share ekspornya terhadap total keseluruhan ekspor Indonesia kurang lebih 11,8 persen dan ekonomi AS juga tumbuh 5,5 persen pada triwulan-IV,” tuturnya.

Selain itu pergerakan purchasing manager index atau PMI global juga menunjukkan perbaikan di mana dalam kurun waktu Oktober-Desember 2021 angkanya mencapai di atas 50. Hal ini, katanya, menunjukkan perekonomian global secara umum mengalami peningkatan.

Selain itu Indonesia, ujar Margo, juga sedang menikmati hasil peningkatan harga komoditas untuk sejumlah produk unggulan ekspor. ia mencontohkan harga minyak kelapa sawit secara year on year (yoy) naik 42,41 persen. Batu bara baru juga naik 168,01 persen secara tahunan, dan nikel juga tumbuh 23,90 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Tempat berlabuh tongkang batu bara terlihat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta 26, 2011. (Foto: REUTERS/Crack Palinggi)
Tempat berlabuh tongkang batu bara terlihat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta 26, 2011. (Foto: REUTERS/Crack Palinggi)

“Ekspor kita selama triwulan-IV tahun 2021 itu mengalami peningkatan yakni secara q-to-q (kuartal ke kuartal-red) tumbuh 9,47 persen dan secara y-o-y (tahun ke tahun-red) meningkat 45,65 persen. Jadi perkembangan harga internasional mendorong ekspor kita tumbuh impresif, dan itu berdampak kepada ekonomi dalam negeri,” jelasnya.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto cukup optimis bahwa pemulihan ekonomi akan terus berlanjut pada 2022 ini, mengingat penanganan pandemi COVID-19 yang sudah cukup tertangani dengan baik.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/12) mengatakan Presiden Jokowi instruksikan vaksin booster akan dilaksanakan mulai Januari 2022 (Biro Setpres)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/12) mengatakan Presiden Jokowi instruksikan vaksin booster akan dilaksanakan mulai Januari 2022 (Biro Setpres)

“Tentu kita melihat bahwa pertumbuhan di kuartal pertama tahun lalu itu masih minus 0,7 persen, dan tentu kita berharap di kuartal pertama tahun ini kita bisa dorong di atas lima persen, dan tentunya akan mempengaruhi di kuartal-II karena ada momen puasa, dan Hari Raya Idul Fitri,” ungkap Airlangga.

Ditambahkannya, pemerintah pada tahun ini menganggarkan Rp455,62 triliun untuk pemulihan ekonomi nasional. Meskipun, anggarannya jauh berkurang dari tahun lalu, yakni sekitar Rp700 triliun, ia yakni pemulihan ekonomi dan penanganan COVID-19 akan semakin solid.

Pengunjung meramaikan mal-mal di Jakarta yang berhiaskan dekorasi Natal di musim belanja akhir tahun ini.
Pengunjung meramaikan mal-mal di Jakarta yang berhiaskan dekorasi Natal di musim belanja akhir tahun ini.

“Alokasinya untuk penanganan kesehatan adalah Rp122,5 triliun d imana untuk penanganan pasien sekitar Rp32,69 triliun. Walaupun tentu akibat delta kemarin masih ada yang di carry over yang besarnya sekitar Rp23,6 triliun. Kemudian ada program perlindungan masyarakat Rp154,8 triliun, dan penguatan pemulihan ekonomi Rp178,3 triliun,” tambahnya.

Tantangan Eksternal dan Internal

Pengamat Ekonomi dari CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan meskipun tumbuh positif, masih ada sejumlah tantangan yang harus diperhatikan oleh pemerintah agar pemulihan ekonomi ini bisa berjalan konsisten.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira. (Foto: VOA)
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira. (Foto: VOA)

Pertama, katanya, tantangan terbesar datang dari inflasi di sektor pangan dan energi. Meskipun konsumsi rumah tangga sudah mulai membaik, tetapi inflasi di sektor ini harus menjadi perhatian besar pemerintah, terutama menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Ia mencontohkan kenaikan harga minyak goreng yang saat ini masih cukup mahal di kisaran Rp18.000-Rp25.000 per kilogram cukup menggerus daya beli masyarakat di saat masih banyak warga yang masih mencari pekerjaan, dan tidak mendapatkan gaji secara utuh.

Dari faktor eksternal, tambahnya, permasalahan di Ukraina juga akan mempengaruhi perekonomian Indonesia. Apabila eskalasi antara blok Barat dengan Rusia semakin meningkat, maka akan berdampak kepada harga minyak yang saat ini sudah bertengger di atas $90 per barel.

Permasalahan shipping cost atau biaya distribusi juga harus menjadi perhatian pemerintah. Pasalnya biaya ini naik 3-4 kali lipat dari biasanya. Menurutnya, tentu ini akan berdampak kepada kenaikan harga yang akan dibebankan oleh produsen kepada konsumen.

BPS: Ekonomi Indonesia 2021 Tumbuh 3,69 Persen
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:15 0:00

“Kita berharap bisa mencapai target 5 persen sudah sangat baik, tapi bisa tumbuh stabil saja di 3-4 persen pada 2022 itu juga salah satu hal yang cukup bagus, karena tidak banyak negara-negara lain, yang mengalami pertumbuhan tinggi pada tahun 2022,” kata Bima.

“Jadi mulai ada istilahnya re-balancing, mulai ada pengaturan kembali misalnya stimulus, anggaran PEN mulai mengalami pemangkasan, mulai dipotong, berkurang, ini mengakibatkan daya dorong dari sektor pemerintah kepada usaha mikro, UMKM, sampai usaha besar tidak sebesar tahun 2021 kemarin,” tambahnya.

Dengan situmulus yang berkurang ini, Bhima mengusulkan pemerintah untuk tetap memberikan stimulus kepada sektor yang saat ini masih belum pulih seperti transportasi, akomodasi, restoran dan pariwisata. Dengan begitu, pemulihan ekonomi diberbagai sektor bisa berjalan beriringan. [gi/ah]

Recommended

XS
SM
MD
LG