Tautan-tautan Akses

Bolivia Persiapkan Pemilu di Tengah Pandemi


Carlos Mesa, mantan Presiden dan Capres Partai Citizen Community (CC) bersama Cawapres Gustavo Pedraza di hadapan para pendukungnya di Santa Cruz, Bolivia , 13 Oktober 2020. (REUTERS/Juan Pablo Roca)

Bolivia melaksanakan pemilihan presiden di tengah pandemi pada hari Minggu (18/10), yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Selatan dengan tantangan jumlah pemilih yang tinggi sambil menghindari kerumunan.

Di tengah berkurangnya infeksi Covid-19 setelah terpukul parah pada Juli dan Agustus lalu, pejabat kesehatan dan penyelenggara pemilu merekomendasikan masyarakat untuk tidak melonggarkan kewaspadaan dan tetap menjalankan protokol kesehatan.

"Perlu diingat bahwa penyelenggaraan pemilu di tengah pandemi menambah rangkaian keadaan yang biasanya tidak akan ada dalam pemilu normal," kata Francisco Guerrero, Sekretaris Penguatan Demokrasi dari Organisasi Negara-negara Amerika (OAS).

Pemungutan suara pada 18 Oktober itu bertujuan menyelesaikan krisis politik yang menewaskan 36 orang pada November 2019, setelah Evo Morales, presiden pribumi pertama Bolivia dari kelompok Aymara, dipaksa mundur menyusul sengketa hasil pemungutan suara, protes, tindak kekerasan, dan penolakan militer atas kepresidenan Morales.

Negara di Amerika Selatan itu terbagi terutama berdasarkan etnis, kewilayahan, dan juga sosial ekonomi, dan antara kelompok pendukung Morales yang menyuarakan mereka yang secara historis miskin dan kehilangan haknya dengan kelompok yang menilai Morales semakin korup dan otoriter selama 14 tahun berkuasa.

Partai yang ia dirikan, Movement for Socialism (Gerakan untuk Sosialisme) juga dikenal dalam bahasa Spanyol dengan singkatan MAS, menguasai kongres dan menjadi pesaing kuat dalam pemilu di Bolivia.

Kandidat presidennya, Luis Arce adalah mantan menteri ekonomi yang mengawasi program nasionalisasi ketika Morales menjadi presiden.

Kandidat utama lainnya mendapat banyak dukungan dari warga perkotaan Bolivia, berpenghasilan lebih dan berupaya mendapat manfaat atas mundurnya Áñez dari bursa pencalonan. Carlos Mesa adalah mantan presiden yang mencalonkan diri pada pemilihan tahun lalu melawan Morales, dan Luis Fernando Camacho memimpin protes terhadap Morales dan punya pendukung kuat di Santa Cruz, wilayah timur yang merupakan mesin ekonomi Bolivia dan penyeimbang dominasi politik La Paz, di wilayah barat.

Meskipun pemilih yang ragu-ragu jumlahnya cukup banyak, beberapa jajak pendapat menunjukkan Partai MAS akan memimpin putaran pemungutan suara, namun berjuang untuk mendapatkan dukungan yang diperlukan untuk menghindari putaran kedua yang mengadu dua kandidat teratas. Jika hasil suara berimbang, MAS akan mendapat tekanan lebih besar apabila lawan-lawannya bersatu.

Sejumlah pengkritik Morales khawatir kemenangan MAS dalam pemilu akan membuka jalan rehabilitasi politik bagi mantan presiden itu dan kembali ke Bolivia.

Apa pun yang terjadi, rakyat Bolivia dapat menghadapi pemerintahan yang lebih lemah, ketidakstabilan politik, dan kesulitan ekonomi di tengah pandemi virus corona dan langkah-langkah lockdown yang dapat menghambat kemajuan bertahun-tahun untuk mengentaskan kemiskinan. [mg/lt]

Recommended

XS
SM
MD
LG