Tautan-tautan Akses

BNPB: Banjir Bandang Sentani Akibat Ulah Manusia yang Merusak Alam


Warga memeriksa rumah-rumah mereka pasca banjir dan tanah longsor di Sentani, Papua Minggu 17/3 (Foto. Antara/Gusti Tanati via Reuters).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan salah satu penyebab banjir bandang yang melanda Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, akhir pekan lalu adalah akibat ulah manusia yang merusak alam sekitar.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang yang terjadi di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, hingga hari Senin (18/3) mencapai 77 orang. Korban tewas ini mencakup 70 orang di Kabupaten Jayapura dan 7 orang di Kota Jayapura.

Selain itu, 43 orang masih hilang, yaitu 34 orang di Kampung Milimik Sentani, 6 orang di Komplek Perumahan Inauli Advent serta 3 orang di Doyo Baru. Sampai saat ini pencarian pun masih terus dilakukan.

Tujuh puluh empat orang mengalami luka-luka, dan sedikitnya 4.226 orang harus mengungsi yang terbagi di enam titik. Lebih dari 11.725 KK terdampak akibat banjir bandang ini.

“Ini data sementara, ada kemungkinan data akan terus bertambah, karena proses evakuasi masih berlangsung, masih dilakukan penyisiriran apalagi, 43 orang belum ditemukan masih dalam proses pencarian,” ujar Sutopo dalam konferensi pers, di Graha BNPB, Jakarta, Senin (18/3).

Ditambahkannya, sembilan kelurahan terdampak akibat bencana ini di mana yang paling parah terdampak adalah Kelurahan Dobonsolo, Doyo Baru, dan Hinekombe. Tiga ratus lima puluh unit rumah rusak berat, 211 unit rumah terendam di BTN Bintang Timur Sentani, 104 unit ruko rusak berat, dua unit gereja rusak berat, satu unit masjid rusak berat, delapan unit sekolah rusak berat dan juga berbagai kerusakan lainnya.

Kapusdatin BNPB Sutopo Purwo Nugroho, dalam konferensi pers, di Graha BNPB, Jakarta, Senin (18/3). (Foto: VOA/Ghita).
Kapusdatin BNPB Sutopo Purwo Nugroho, dalam konferensi pers, di Graha BNPB, Jakarta, Senin (18/3). (Foto: VOA/Ghita).

Sutopo mengatakan ada dua faktor utama penyebab banjir bandang di Sentani ini yaitu, faktor alam, di mana selama tujuh jam telah turun hujan deras sebanyak 248,8 mm – padahal biasanya jumlah ini rata-rata turun dalam kurun waktu sebulan.

Faktor lainnya adalah kerusakan alam yang disebabkan oleh manusia. Kerusakan di Pegunungan Cycloop, kata Sutopo, sudah berlangsung sejak tahun 2003, dimana banyak daerah resapan air dijadikan area pemukiman. Hal ini diperparah dengan maraknya penebangan pohon untuk pembukaan lahan baru dan lain-lain.

“Jadi penyebabnya ada dua, kombinasi antara faktor alam dan faktor ulah manusia. Kita melihat kerusakan hutan di pegunungan cyclopp, ternyata sudah berlangsung sejak tahun 2003, rambahan cagar alam oleh 43.230 jiwa atau 753kk sejak 2003. Kemudian juga ada penggunaan lahan pemukiman, dan pertanian lahan kering campur di das sentani seluas 2.415 ha, kemudian masih terjadi penebangan pohon, baik itu untuk pembukaan lahan, perumahan maupun untuk kebutuhan kayu juga penambangan galian C. 9 wilayah kelurahan yang terdampak banjir merupakan dataran alur hijau, yang terbantuk dari bagian atas, yang secara alamiah adalah daerah rawan banjir,” jelas Sutopo.

Mobil-mobil tenggelam akibat bencana banjir dan tanah longsor di Sentani, Papua hari Minggu (17/3). (Foto. Antara/Gusti Tanati)
Mobil-mobil tenggelam akibat bencana banjir dan tanah longsor di Sentani, Papua hari Minggu (17/3). (Foto. Antara/Gusti Tanati)

Kepala BNPB Doni Monardo Senin pagi telah mendarat di Sentani untuk melakukan koordinasi dengan aparat tim SAR gabungan untuk proses evakuasi. Doni juga telah melaporkan berbagai kerusakan yang terjadi kepada Presiden Jokowi.

Presiden, ujar Sutopo, telah menginstruksikan Doni agar mempercepat proses evakuasi korban guna menghindari bertambahnya korban meninggal dan luka-luka. Selain itu pasca bencana, Presiden memerintahkan aparat dan warga untuk merehabilitasi hutan dan lahan di pegunungan Cycloop.

Masa tanggap darurat pun diberlakukan selama 14 hari, terhitung mulai 17 maret kemarin.

Lombok Timur Diguncang Gempa Bumi 5,4 SR, Sedikitnya Tiga Orang Meninggal

Dalam perkembangan lainnya, Sutopo juga menyampaikan terjadinya gemba bumi berkekuatan 5,4 SR di Lombok Timur pada 17 Maret. Sutopo mengatakan selang dua menit kemudian terjadi gempa susulan 5,1 SR dengan kedalaman 10 km, dan berpusat didarat. Adapun gempa ini merupakan gempa tektonik yang berbeda dengan gempa yang terjadi di Agustus dan September kemarin. Adapun wilayah yang terdampak akibat gempa tektonik ini adalah di Lombok Timur dan Lombok Utara.

Akibat gempa tersebut, tiga orang meninggal dunia, satu warga lokal, dan dua lainnya merupakan warga negara Malaysia. Ketiga meninggal seketika, karena ketika terjadi gempa sedang berwisata di air terjun Tiu Kelep.

“Tiga orang meninggal dunia, dua orang wisatawan dari Malaysia yang ada dalam rombongan wisatawan, saat itu sedang melakukan wisata di air terjun Tiu Kelep desa Senaru, kecamatan Bayan, Kab Lombok Utara, karena berada di air terjun. Ketika terjadi guncangan gempa, batu-batuan yang ada di air terjun runtuh, kemudian menimpa korban, sehingga meninggal dunia di tempat, dan kemarin dilakukan evakuasi, meninggal 1 orang warga lokal,”ungkap Sutopo.

BNPB: Banjir Bandang Sentani Akibat Ulah Manusia yang Merusak Alam
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:05:28 0:00

Selain itu, sebanyak 182 orang luka-luka yang terdiri dari 119 di Lombok Timur, 37 orang di Lombok Utara, dan 26 warga negara Malaysia. Masyarakat yang terdampak sekitar 2.108 penduduk, kerusakan bangunan baik rusak ringan, sedang dan berat, tercatat 526 unit. (gi/em)

Lihat komentar (2)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG