Tautan-tautan Akses

Bisnis Cokelat di Amerika Tetap 'Manis' di Tengah Resesi


Proses akhir pembuatan permen coklat Tcho sebelum dipotong dan dikemas.
Proses akhir pembuatan permen coklat Tcho sebelum dipotong dan dikemas.

Sementara banyak industri Amerika melesu sewaktu resesi ekonomi, National Confectioners Association melaporkan bahwa penjualan industri cokelat Amerika pada 2009 mencapai rekor tertinggi dan bernilai 16,9 milyar dolar.

Berlokasi di pantai dekat kawasan wisata Embarcadero, San Fransisco,30 karyawan pabrik coklat Tcho membuat berbagai produk cokelat dengan tangan.

Produksi cokelat murni kelas satu Tcho tersebut berlangsung di sebuah pabrik seluas 2800 meter persegi, mulai dari seleksi biji cokelat, sampai pengemasannya. Keunggulannya adalah pada cita rasanya, dengan berbagai rasa seperti rasa kacang dan buah yang tujuannya memberikan konsumen pilihan atas rasa cokelat yang mereka inginkan.

Louis Rossetto, Direktur Utama dan Direktur Kreatif Tcho, menyebut sebetulnya dunia tidak lagi membutuhkan sebuah perusahaan cokelat lagi. “Tapi, yang perlu adalah orang yang mau berinovasi, mencoba membuat sesuatu lebih baik.”

Walau Tcho baru mulai menjual cokelat di Amerika pada 2009, perusahaan itu kini melebarkan sayap bisnisnya secara global. Tcho saat ini memiliki cabang di berbagai negara seperti Inggris, Irlandia, dan yang terbaru di Jepang.
Dengan meningkatnya permintaan global atas cokelat, Metcalfe mengatakan adanya peluang yang besar untuk menumbuhkan pasar cokelat seperti di India dan Tiongkok.

Bagi Tcho, cokelat kelas satu berasal dari biji coklatnya. Untuk mendapat rasa yang berbeda, Tcho menjelajahi dunia untuk mencari biji cokelat dengan kualitas tinggi, serta mengimpornya dari Peru, Ekuador, Madagaskar dan Ghana.

Kemudian melalui uji coba laboratorium, mesin pembuat coklat menganalisis variasi yang berbeda dari biji cokelat itu, mengawetkan dan memanggangnya. Memproduksi satu batang cokelat yang memenuhi kriteria rasa yang diinginkan harus melalui banyak uji coba.
Dengan kapasitas memproduksi jutaan batang cokelat dalam setahun, proses produksinya masih tradisional, tapi dilengkapi dengan banyak inovasi teknologi.

Contohnya, sebuah aplikasi iPhone memungkinkan pegawai Tcho mengawasi pabrik itu, mulai dari memonitor suhu mesin sampai sakelar lampu.

Teknologi dan internet juga berguna untuk menyatukan para petani cokelat. Banyak dari mereka belum pernah merasakan produk akhir biji cokelat mereka. Gagasannya adalah untuk memberikan para petani pelatihan, sehingga mereka mampu memproduksi biji cokelat kelas satu berkualitas lebih tinggi.

Siapa yang tidak doyan cokelat? Data menunjukkan bisnis cokelat ternyata kebal dari resesi ekonomi.
Siapa yang tidak doyan cokelat? Data menunjukkan bisnis cokelat ternyata kebal dari resesi ekonomi.

Sementara ongkos produksi mungkin meningkat, Jeane Metcafe, Direktur Tcho, mengatakan para konsumen sanggup membayar. Sejauh ini, filosofinya itu kelihatannya efektif.

Robert Kopf mengepalai bagian penjualan. Ia mengatakan, “Penjualan kami tumbuh sangat cepat, khususnya dengan perhitungan kondisi ekonomi saat ini.” Sejauh ini, Tcho memiliki jaringan distribusi di Pantai Barat Amerika dan berusaha mengembangkan distribusi di semua wilayah metropolitan utama lainnya.

XS
SM
MD
LG