Tautan-tautan Akses

AS

Berbagai Perusahaan Tulis Pesan Dukungan Bagi Protes di AS


Seorang pengunjuk rasa di Trafalgar Square, London, Inggris, 31 Mei 2020. memegang kertas bertuliskan "Black Live Matters" dalam aksi protes menentang kematian pria Afrika-Amerika George Floyd, di Minneapolis.

Perusahaan-perusahaan AS biasanya bungkam sewaktu berlangsung protes. Tetapi kali ini tidak demikian.

Perusahaan-perusahaan teknologi, perbankan, busana dan hiburan mengeluarkan pesan dukungan bagi mereka yang berdemonstrasi menentang perlakuan polisi terhadap warga kulit hitam.

“Saya terkejut oleh banyaknya eksekutif yang berbicara lantang untuk pertama kalinya,” kata Kellie McElhaney, profesor di Haas School of Business di UC Berkeley dan pendiri Center for Equity, Gender and Leadership di fakultas tersebut.

Apa yang menggerakkan mereka berbicara, lanjutnya, adalah kebrutalan yang tampak dalam video di mana seorang polisi di Minneapolis menindih leher belakang George Floyd yang akhirnya tewas.

Perusahaan-perusahaan itu “dikelola oleh manusia,” kata McElhaney. Mereka memiliki pegawai, eksekutif, pelanggan kulit hitam dan kulit berwarna lainnya. Menurutnya, jelas ada risiko dalam menyampaikan pesan dukungan tetapi manfaatnya jauh melampaui risiko itu.

Netflix, Google dan Citibank

Netflix menulis cuitan “Membungkam artinya terlibat,” seraya menambahkan “kita memiliki kewajiban untuk berbicara bagi para anggota, pegawai, kreator dan para seniman kulit hitam kita.”

Google menambahkan pada laman pencari utamanya, “Kami mendukung kesetaraan ras, dan mereka semua yang mengupayakannya.”

Twitter mengubah akun Twitternya dengan menulis #BlackLivesMatter.

CEO Microsoft Satya Nadella mengajak para pegawai untuk bergabung bersamanya dan semua orang di tim pimpinan senior, dalam mendukung perubahan di “perusahaan kita, di komunitas kita, dan di dalam masyarakat secara keseluruhan.”

“Rasisme terus menjadi akar begitu banyak kesakitan dan keburukan dalam masyarakat kita,” tulis Eksekutif Keuangan Citibank Mark Mason, seorang lelaki kulit hitam, di blog perusahaan itu. “Selama ini demikian, cita-cita kembar Amerika, kebebasan dan kesetaraan, akan tetap di luar jangkauan."

Perusahaan ritel seperti Target, yang telah dijarah dan dirusak di berbagai lokasinya di AS, juga bersuara. Kematian seorang lelaki kulit hitam di tangan polisi kulit putih telah melepaskan “rasa sakit yang terpendam bertahun-tahun,” kata CEO Target yang berkantor pusat di Minneapolis.

Risiko berbicara, risiko membungkam

Dengan mengambil sikap memihak, perusahaan-perusahaan berisiko kehilangan pelanggan, mitra, pemasok dan pegawai yang tidak sependapat dengan sikap perusahaan, kata McElhaney. Mereka juga berisiko dituduh memanfaatkan momen ini untuk mempromosikan perusahaan mereka karena ada sebagian yang mungkin menganggap pernyataan-pernyataan dukungan itu tidak tulus.

Tetapi bisnis juga menghadapi risiko apabila tidak mengeluarkan pernyataan apapun, lanjutnya. Para pegawai berusia muda menginginkan pimpinan perusahaan untuk bersuara.

“Saya cenderung meyakini bahwa orang bersuara karena tidak ada lagi opsi,” ujarnya. “Setiap pegawai menginginkan pemimpin mereka untuk bersuara, khususnya pegawai kulit hitam dan kulit berwarna lainnya.

Pada tahun 2018, Nike meluncurkan iklan dukungan bagi Colin Kaepernick, mantan pemain sepak bola profesional yang memprotes perlakuan polisi terhadap warga kulit hitam. Sebagian orang menyukainya, sebagian lagi membakar produk Nike mereka. Iklan yang diperdebatkan ini tidak merugikan penghasilan Nike, sebut berbagai laporan.

Sementara protes menyebar ke berbagai penjuru AS setelah kematian Floyd, Nike merilis video yang mendukung pesan para pengunjuk rasa, “Jangan abaikan rasisme. Jangan terima nyawa orang-orang tak berdosa diambil. Jangan membuat alasan apapun lagi.”

Adidas, pesaing Nike, mencuit ulang pesan tersebut.

[uh/ab]

XS
SM
MD
LG