Tautan-tautan Akses

Berbagai Kecaman Muncul Menyusul Serangan terhadap Gereja dan Hotel di Sri Lanka


Gereja Santo Sebastian di Negombo, kawasan utara Colombo, Sri Lanka yang hancur akibat serangan bom, 21 April 2019.

Orang-orang dari berbagai penjuru dunia mengecam serangan teroris di Sri Lanka yang telah menewaskan sedikitnya 290 orang dan mencederai sekitar 500 lainnya pada perayaan Paskah hari Minggu pagi. Serangkaian ledakan dilaporkan menghantam beberapa gereja dan hotel mewah di ibukota, Kolombo, serta di kota Negombo dan Batticaloa.

Wartawan VOA Zlatica Hoke melaporkan, polisi telah menangkap beberapa tersangka terkait kekerasan yang terjadi pada peringatan paling penting bagi umat Kristen itu.

Delapan ledakan menghantam gereja-gereja dan hotel-hotel di Sri Lanka, pada waktu umat Kristen memperingati Paskah. Paus Fransiskus menyatakan solidaritasnya dengan umat Kristen yang menjadi sasaran sewaktu mereka berkumpul untuk berdoa bersama.

Berbagai Kecaman Muncul Menyusul Serangan terhadap Gereja dan Hotel di Sri Lanka
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:02 0:00

Paus Fransiskus mengemukakan, “Saya percayakan mereka yang meninggal secara tragis kepada Tuhan, dan saya berdoa bagi mereka yang terluka serta mereka yang menderita akibat peristiwa dramatis ini.”

Presiden Amerika Donald Trump termasuk di antara pemimpin politik yang mencuitkan kemarahan pada hari Minggu pagi.

Para pejabat menyatakan sekitar 30 warga negara asing termasuk di antara korban yang tewas. Di antara mereka terdapat warga negara Amerika, Inggris, India, China, Jepang dan Portugis.

Pihak berwenang di Kolombo memberlakukan jam larangan keluar rumah mulai pukul 8 malam hari Senin hingga pukul 4 pagi hari Selasa, dan memblokir media sosial “hingga pemberitahuan selanjutnya.”

Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe mengatakan, “Kami telah memerintahkan penangkapan siapapun yang terlibat dalam insiden ini dan telah memberi semua kewenangan kepada otoritas yang bertanggung jawab. Kami tidak mentoleransi perilaku semacam ini.”

Sementara itu, juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan pemimpin PBB itu “marah atas serangan-serangan teroris” pada “hari suci bagi umat Kristen di seluruh dunia.”

Uskup Agung Kolombo Malcolm Ranjith, yang memimpin gereja Santo Sebastian dan Santo Antonius meminta pihak berwenang untuk menemukan mereka yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Sejauh ini belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan-serangan tersebut. Tetapi kementerian pertahanan Sri Lanka menyatakan para tersangka telah diidentifikasi sebagai ekstremis keagamaan dan anggota sebuah kelompok. Menurut para pejabat, pelaku serangan bom bunuh diri bertanggung jawab atas sebagian besar ledakan pagi itu.

Para pejabat menyatakan 13 orang telah ditahan terkait dengan serangan bom tersebut dan pencarian orang-orang lain yang terlibat masih berlanjut.

Menteri Pertahanan Dinendra Ruwan Wijewardene mengatakan,“Sekarang ini, CID (Departemen Investigasi Kejahatan), polisi, dan ketiga angkatan sedang melakukan investigasi. Kami yakin seluruh pelaku yang terlibat dalam insiden teroris ini akan ditahan sesegera mungkin. Mereka telah diidentifikasi dan pihak berwenang melakukan investigasi yang diperlukan, dan para pelaku akan ditahan secepat mungkin.”

Serangan ini adalah kekerasan terburuk yang menghantam negara di Asia Selatan itu sejak perang saudara di sana berakhir satu dekade silam.

Mangala Karunaratne, seorang warga Kolombo mengatakan, “Selama 30 tahun perang saudara, kami mengalami banyak serangan bom di Kolombo. Kami terbiasa dengan bandara, bank sentral yang diledakkan, hal-hal seperti itu. Tetapi telah 10 tahun ini damai dan kami mulai terbiasa dengan itu.”

Keamanan ditingkatkan di bandara internasional Sri Lanka dan di tempat-tempat lain setelah serangan-serangan pada hari Minggu. [uh]

Lihat komentar (1)

Forum ini telah ditutup.

Recommended

XS
SM
MD
LG