Bentrokan antar faksi kembali terjadi di kamp pengungsi Palestina terbesar di Lebanon, Kamis (7/9) malam.
Bentrokan yang melibatkan senjata itu melukai sedikitnya 20 orang. Banyak penghuni kamp itu, dan warga daerah sekitarnya, terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri pada Jumat (8/9).
Bentrokan yang terjadi pada Kamis (7/9) malam merupakan kelanjutan dari bentrokan sebelumnya di kamp Ein el-Hilweh yang terjadi selama berhari-hari.
Para pendukung Gerakan Fatah pimpinan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan kelompok-kelompok Islamis di kamp tersebut saling bersitegang setelah Fatah menuduh mereka menembak mati salah satu jenderal militer mereka pada tanggal 30 Juli.
Tiga belas orang tewas dan puluhan luka-luka dalam bentrokan itu, dan memaksa ratusan orang mengungsi dari rumah mereka.
Gencatan senjata sebetulnya telah diberlakukan sejak 3 Agustus, namun bentrokan diperkirakan akan berlanjut karena kelompok-kelompok Islamis itu belum menyerahkan para tersangka pembunuh jenderal Fatah, Mohammad “Abu Ashraf” al-Armoushi, ke pengadilan Lebanon sebagaimana diminta oleh sebuah komisi faksi-faksi Palestina sebelumnya bulan ini.
Komisi faksi itu mengumumkan, Selasa lalu, bahwa pasukan keamanan gabungan mereka akan melancarkan penggerebekan untuk mencari para tersangka pembunuh.
Maher Shabaita, kepala Fatah di wilayah Sidon, mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa kelompok-kelompok Islamis itu telah melancarkan serangan pada Kamis malam dalam upaya guna mencegah rencana pasukan Palestina untuk membersihkan militan dari sekolah-sekolah yang mereka tempati di kamp tersebut.
Pada Jumat pagi, pertempuran setidaknya telah mereda untuk sementara waktu.
Kantor berita pemerintah Lebanon, NAA, melaporkan 20 orang, termasuk seorang pria lanjut usia, terluka dalam bentrokan semalam dan dilarikan ke rumah sakit. Shabaita mengatakan, korban luka termasuk tiga sukarelawan pertahanan sipil yang diserang saat mereka berupaya memadamkan api.
Belum ada laporan mengenai apakah ada korban tewas dalam bentrokan Kamis malam. Universitas Negeri Lebanon mengumumkan akan menutup sementara cabangnya di Kota Sidon, yang berdekatan dengan kamp tersebut, dan menunda ujian yang dijadwalkan, sehubungan dengan bentrokan tersebut.
Para pejabat di badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, tidak dapat segera memberikan informasi mengenai jumlah korban atau pengungsi.
UNRWA pekan lalu mengajukan permohonan dana sebesar $15,5 juta untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat bentrokan terakhir di kamp tersebut, menyediakan lokasi pendidikan alternatif bagi anak-anak yang sekolahnya dirusak atau diduduki oleh militan, dan memberikan bantuan tunai kepada orang-orang yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka. [ab/lt]
Forum