China, Kamis (16/12) mengecam Amerika yang menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan farmasinya yang memproduksi obat penghilang rasa sakit. Amerika melakukan itu sebagai upaya mengekang epidemi kecanduan yang menewaskan rekor 100.000 orang Amerika tahun lalu.
Sementara orang-orang yang kecanduan obat semakin beralih ke pil yang lebih murah yang dibeli secara online dari luar negeri, Presiden Joe Biden Rabu (15/12) menandatangani perintah eksekutif yang memudahkan Amerika untuk menarget pengedar obat asing.
Tindakan itu "akan membantu mengganggu rantai pasokan global dan jaringan keuangan yang memungkinkan opioid sintetis dan bahan kimia prekursor mencapai Amerika," kata Menteri Luar Negeri Antony Blinken dalam sebuah pernyataan.
China menyatakan "dengan tegas menentang" langkah itu.
"Tindakan keliru semacam ini, di mana satu pihak sakit tetapi memaksa pihak lain untuk minum obat, tidak konstruktif," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Wang Wenbin kepada wartawan.
Menurut penegak hukum Amerika, China tetap menjadi sumber utama fentanil dan bahan kimia yang digunakan untuk membuat opioid keras, serta obat-obatan sintetis lainnya.
Beijing menegaskan telah mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan produksi dan prekursor fentanil. [ka/uh]