Tautan-tautan Akses

BBG dan VOA Beri Pelatihan Wartawan Surabaya


Suasana pelatihan wartawan di Surabaya yang diadakan oleh BBG dan VOA. (VOA/Petrus Riski)
Suasana pelatihan wartawan di Surabaya yang diadakan oleh BBG dan VOA. (VOA/Petrus Riski)

Pelatihan ini diharapkan menjadi bentuk kerjasama dan sebagai upaya peningkatan kapasitas serta profesionalisme jurnalis.

Pemerintah AS lewat Broadcasting Board of Governors dan VOA pekan lalu menggelar pelatihan jurnalistik terhadap wartawan di Surabaya, yang diselenggarakan di kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya.

Pelatihan selama dua hari (6-7/3) ini diharapkan menjadi bentuk kerjasama antara Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya dengan media massa di Surabaya, sebagai upaya peningkatan kapasitas serta profesionalisme jurnalis.

Sebanyak 15 jurnalis dari berbagai media baik cetak maupun elektronik, mengikuti pelatihan jurnalistik yang diberikan oleh BBG dan VOA.

Pejabat BBG untuk bagian Office of Strategy and Development, Inna Dubinsky mengatakan, pelatihan ini ingin mengajak para jurnalis mengenal panggilannya sebagai jurnalis, dengan tetap terbuka untuk meningkatkan kapasitas serta kemampuan di bidang jurnalistik untuk kepentingan masyarakat.

“Satu hari ini belajar untuk berpikiran terbuka dan secara serius mendedikasikan diri terhadap dunia, melalui peralatan teknologi dan keinginan untuk terus belajar dan berpikir, yang itu harus dimiliki oleh setiap profesi termasuk jurnalis,” ujarnya.

“Khusus mengenai jurnalis, anda tahu bahwa wartawan tidak sekedar profesi, tapi itu sebuah panggilan. Sehingga anda bisa mendapatkan pendidikan, supaya anda pandai, cerdas, sehingga saat tidak sedang bertugas pun bisa menjadi warga negara yang baik, mencintai masyarakat, dan mengasihi banyak orang, maka dari itu anda adalah jurnalis sesungguhnya.”

Pejabat Urusan Publik Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Andrew Michael Veveiros mengatakan, pelatihan ini menekankan pada pentingnya profesionalisme jurnalis yang tanggap akan berbagai isu yang ada di lingkungannya, tanpa menyoroti persoalan yang sedang berkembang secara khusus.

“Pelatihan jurnalistik ini tidak menanggapi beberapa kasus yang banyak ditanyakan mengenai kemitraan kami, ini lebih pada hubungan yang baik antara kami dengan media untuk mengembangkan pengetahuan jurnalisme sesuai topik yang dinginkan, serta bagaimana menjadi jurnalis profesional,” ujarnya.

Selama dua hari, para jurnalis mendapatkan materi pelatihan berupa jurnalisme investigatif, tanggung jawab dan etika jurnalistik, hingga media baru dalam jurnalisme.

Luana Yunaneva, salah satu peserta dan jurnalis radio di Surabaya mengatakan, pelatihan ini sangat dirasa manfaatnya untuk pengembangan kapasitas sebagai jurnalis, sehingga mampu memberikan informasi yang benar serta menolong masyarakat.

“Saya bersyukur sekali dengan adanya pelatihan sepanjang hari ini, karena saya langsung mendapatkan ilmunya bahkan dari pakar. Ini sekaligus memberikan refreshing tersendiri buat saya, karena saya bisa mengingat kembali materi kuliah beberapa waktu yang lalu dan kemudian saya malah mendapat pengayaan. Selain itu saya juga mulai belajar soal new media yang makin berkembang, jadi kami sebagai jurnalis juga harus mengikuti teknologi, karena teknologi itu sendiri juga yang justru mendekatkan kami dengan masyarakat,” ujarnya.

Veveiros menekankan, tujuan akhir pelatihan jurnalistik ini lebih pada mempererat hubungan baik antara Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya dengan masyarakat Indonesia khususnya untuk pengembangan dunia jurnalisme di Indonesia.

Recommended

XS
SM
MD
LG