Kata-kata yang tertulis di tangga kedai kopi Silingan, memperjelas bahwa tempat ini tidak sekadar menyajikan kopi susu dan jus (smoothie) buah.
“Ini bukan perang melawan obat-obatan terlarang. Ini adalah perang tidak sah melawan narkoba,” kata tulisan itu.
Silingan artinya tetangga. Sebagian besar pekerja di kafe dekat ibu kota Manila itu adalah ibu, anak perempuan, saudara perempuan, atau istri dari orang-orang yang tewas pada masa mantan Presiden Rodrigo Duterte berperang melawan narkoba.
“Mereka tidak harus dibunuh seperti binatang,” kata kepala barista Sharon Angeles sambil berlinang air mata, saat menceritakan bagaimana saudara laki-lakinya, Christian yang berusia 20 tahun, tewas tahun 2016 pada tahun pertama Duterte menjabat sebagai presiden.
“Mereka membunuhnya seperti ia orang jahat," kenangnya.
Data pemerintah mencatat, sekitar 6.200 orang tewas dalam operasi polisi terkait perang narkoba selama enam tahun masa jabatan Duterte yang berakhir bulan lalu. Namun kelompok hak asasi manusia mengatakan, jumlah korban tewas bisa mencapai 30.000, termasuk eksekusi oleh warga yang menurut aktivis, sering bekerja sama dengan polisi.
Duterte berulang kali membela kampanyenya sebagai bagian penting dalam membasmi narkoba nasional, terutama dalam komunitas miskin di mana petugas polisi membunuh untuk membela diri.
Namun kelompok HAM mengecam Duterte karena menghasut kekerasan main hakim sendiri terhadap pengguna narkoba dan menuduh polisi membunuh tersangka yang tidak bersenjata, serta memalsukan bukti. [ps/ka]
Forum