Tautan-tautan Akses

Banyak yang Tak Rela Melepas Masa Jaya Video Kaset


Perekam kaset video VHS di Tokyo pada 22 Juli 2016. (Foto: AFP/Kazuhiro Nogi)

Mesin pemutar VHS (Video Home System) alias video kaset terakhir diproduksi lima tahun lalu oleh Funai Electric di Jepang. Tapi bagi banyak orang, era video kaset tidak pernah berakhir.

Toko penyewaan video CineFile dibuka di Los Angeles tahun 1999. Dulu, ada ribuan toko penyewaan video lainnya yang beroperasi. Kini, CineFile menjadi toko rental video independen terakhir di Los Angeles. Toko itu dikelola oleh Paul Tamayo, seorang penggemar film sejati.

“Ketika saya masih kecil, saya selalu mengatakan pada diri sendiri bahwa ketika saya dewasa dan menjadi seseorang, saya akan memiliki koleksi (film) terbesar!” katanya.

Tokonya memiliki lebih dari 50.000 judul film, baik dalam bentuk video kaset (VHS) maupun DVD. Dari film-film arahan Martin Scorsese hingga karya Antonioni, Eldar Ryazanov dan Andrey Zvyagintsev. Tamayo mengatakan film-film yang tidak bisa ditonton secara daringlah yang menarik para pelanggan.

Perekam kaset video VHS di Tokyo pada 22 Juli 2016. (Foto: AFP/Kazuhiro Nogi)
Perekam kaset video VHS di Tokyo pada 22 Juli 2016. (Foto: AFP/Kazuhiro Nogi)

“Kami punya 30.000 judul film yang tidak bisa ditonton secara online, dan itu membantu kami bertahan. Selain itu, ada sentuhan pribadi yang dirasakan saat mengunjungi toko penyewaan video… kami punya tiga karyawan, dan kami masing-masing tahu seluk-beluk genre yang kami kuasai," katanya.

Biaya sewa satu judul video kaset atau DVD di toko milik Tamayo adalah $5. Penyewa juga bisa menjadi pelanggan dengan membayar $30 per bulan untuk menyewa hingga 120 judul film.

Michael Patrick salah satunya.

“Saya sudah berlangganan di CineFile selama 20 tahun terakhir, saya di sini ketika mereka pertama kali buka! Sejauh ini, toko ini tempat penyewaan video terbaik di Los Angeles!” paparnya.

Banyak yang Tak Rela Melepas Masa Jaya Video Kaset
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:46 0:00

Penikmat film dengan cara “kuno” ini adalah subkultur yang kuat. Terdapat berbagai grup dan forum online, di mana para pencinta film bertransaksi menjual-beli peralatan dan membicarakan masa keemasan video kaset.

Heath Holland, seorang kolektor video kaset, mengelola blog yang didedikasikan untuk industri film tahun 1990-an.

“Ada banyak sekali hal yang ada pada video kaset yang tidak diadaptasi ke dalam bentuk DVD. Dengan video kaset, ada ledakan munculnya toko-toko video kaset, dan semua toko itu butuh konten untuk mengisi rak mereka. Jadi, mereka akan mengangkat judul-judul film karya sineas daerah. Misalnya, saya di Ohio – dan ada sineas lokal asal Ohio di sana, maka saya akan memasok film-film mereka," kata Heath Holland.

Alat video kaset. (Foto: AP)
Alat video kaset. (Foto: AP)

Belakangan, video kaset dihargai dari beberapa dolar saja hingga ribuan dolar. Seseorang di internet bahkan mencoba menjual video kaset “Little Mermaid” karya Disney yang diproduksi tahun 1989 dengan harga $45.000. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada yang membelinya.

"Mungkin ada spekulan seputar hal tersebut, ada orang yang mengoleksi benda-benda itu karena masih berfungsi dan dapat digunakan, sehingga bukan hanya langka, Anda juga punya materi dalam kaset itu sendiri yang bisa digunakan untuk membuat proyek baru," kata Thomas Harris.

Mungkin video kaset terkesan seperti benda nostalgia, tapi Paul Tamayo mengaku pelanggannya dari berbagai umur.

“Usia tidak begitu penting. Yang jelas Anda akan merasa seperti di rumah. Ada perasaan tertentu saat Anda berada di toko video kaset dan memegang wujud fisiknya di tangan Anda, rasanya… menyenangkan.”

Semenyenangkan menonton film di rumah dengan film favorit. [rd/uh]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG