Tautan-tautan Akses

Banyak Orang Bolivia Tak Inginkan Morales Kembali


Mantan Presiden Bolivia Evo Morales di wilayah Chapare, Bolivia 19 Oktober 2019. (Foto: Reuters/Ueslei Marcelino)

Di dataran tinggi Andes, sekitar dua jam perjalanan dari La Paz, orang-orang Achacachi mengatakan mereka tidak menginginkan mantan Presiden Bolivia Evo Morales kembali. Padahal kawasan tersebut sebelumnya menjadi benteng pertahanan Morales.

Markas besar pemerintah daerah di alun-alun utama, dengan jendela-jendelanya yang pecah, telah ditinggalkan sejak 2017. Ketika itulah Wali Kota Edgar Ramos, anggota partai Gerakan Sosialisme (MAS) Morales, diusir dari kantor atas tuduhan korupsi.

Pasukan polisi setempat dan jaksa penuntut umum juga pergi segera setelah peristiwa itu. Sejak saat itu, kota dengan 46 ribu jiwa yang terletak di Altiplano Bolivia diperintah oleh komite distrik setempat.

Sebagian besar penduduk pribumi ingat pada kekerasan yang terjadi di kota tersebut ketika milisi pribuni Aymara yang setia kepada Morales, yang dikenal sebagai Ponchos Rojos (atau Ponchos merah), melarikan diri untuk membela wali kota yang bermasalah itu.

Kendaraan dan rumah dibakar, bisnis dijarah selama bentrokan yang berlangsung beberapa hari, sebelum 400 polisi dikerahkan untuk memadamkan kekacauan.

Bentrokan telah lama terjadi sebelum aksi kekerasan pada saat menjelang pemilihan 20 Oktober. Namun hal tersebut menunjukkan bahwa di seluruh negeri, dan bahkan di wilayah kekuasaannya sendiri, cengkeraman kekuasaan Morales goyah.

Kekerasan pasca pemilihan di seluruh negeri menyebabkan 33 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Morales yang dipaksa mengundurkan diri setelah kehilangan dukungan dari tentara dan melarikan diri ke pengasingan di Meksiko, mengatakan ia telah digulingkan dalam kudeta. [ps/ft]

XS
SM
MD
LG