Tautan-tautan Akses

Bangladesh Dikecam Karena Lambat Selidiki Pembunuhan Sejumlah Blogger


Para aktivis berkumpul di depan spanduk bergambar blogger dan penulis Amerika keturunan Bangladesh Avijit Roy yang dipasang di Dhaka, Bangladesh, 27 Februari 2015 (Foto: dok).

Dua tahun setelah Avijit Roy dibunuh secara keji oleh sejumlah tersangka militan Islamis di Dhaka, keluarga dan kerabat blogger dan penulis Amerika keturunan Bangladesh itu mengatakan, mereka tidak puas dengan lambatnya proses investigasi polisi.

Sementara penyelidikan atas pembunuhan Roy serta lebih dari10 blogger, penulis, dan penerbit sekuler yang dibunuh antara tahun 2013 dan 2015, tidak mengalami kemajuan, kekhawatiran terhadap ancaman militan Islamis telah menghentikan publikasi sejumlah buku yang mempersoalkan agama dan fundamentalisme agama di Bangladesh.

Imran H. Saker, kepala Jaringan Blogger dan Aktivis Online di Bangladesh mengatakan, meski sudah dua tahun berlalu, pemerintah belum mengajukan gugatan hukum terkait kasus tersebut. Ia mengatakan, pemerintah telah menunda pengajuan itu selama 16 kali.

“Dalam kasus pembunuhan Roy, meskipun dua tahun sudah lewat, badan pemerintah belum mengajukan tuduhan kepada pengadilan. Mereka menunda tanggal penyerahan tuduhan itu paling tidak 16 kali. Delapan orang ditangkap, tetapi tidak ada tuntutan dilakukan terhadap mereka. Sekarang mereka mengatakan, mereka telah mengidentifikasi lima laki-laki sebagai pembunuhnya, tetapi orang-orang ini belum ditangkap,” papar Saker.

Lebih jauh Saker mengatakan, sejauh ini delapan tersangka telah ditangkap, namun tak satupun dikenai dakwaan. Belakangan polisi malah mengatakan, mereka telah mengidentifikasi lima pembunuh sesungguhnya, namun belum melakukan penangkapan.

Ia menambahkan, “Kami mengamati bahwa pemerintah melindungi pembunuh ini dan tidak punya niat untuk menangkap mereka.”

Saker menuding pemerintah berusaha menutup-nutupi para pembunuh itu dan tidak berniat menangkap mereka. Polisi Bangladesh mengatakan kelompok militan Islamis garis keras, Ansarullah Bangla Team (ABT),mendalangi pembunuhan-pembunuhan tersebut. Namun, tak satupun kasus pembunuhan tersebut berhasil dipecahkan.

Inspektur Jenderal Kepolisian Nasional Bangladesh, Shahidul Hoque, mengatakan, tuduhan bahwa polisi tidak serius melangsungkan penyelidikan tidak berdasar. Ia mengatakan, kepolisian akan segera mengajukan perkara Roy ke pengadilan.

Selain ancaman dari Islamis, UU Informasi dan Teknolosi Komunikasi Bangladesh merupakan faktor lainnya yang menyebabkan hilangnya penulisan kritis terhadap agama, pemerintah, dan masyarakat. Demikian kata para blogger, penulis, dan penerbit di Bangladesh.

Berdasarkan produk legislatif yang kontroversial ini, seseorang bisa diancam hukuman penjara tujuh sampai 14 tahun kalau mengutarakan sentiment keagamaan serta menerbitkan informasi palsu, cabul atau mencemarkan dalam bentuk elektronik, atau informasi yang menimbulkan kecurigaan terhadap citra pemerintah atau pribadi. [ab/as]

XS
SM
MD
LG