Tautan-tautan Akses

Bangladesh Batasi Gerak Pengungsi Rohingya


Pengungsi Rohingya berlindung dari hujan di kamp di Cox's Bazar, Bangladesh, 17 September 2017.

Pihak berwenang di Bangladesh, Minggu, mengambil langkah-langkah yang membatasi gerakan pengungsi Muslim Rohingya di kamp-kamp yang padat. Sementara itu, panglima militer Myanmar bersikeras mengatakan, kekacauan yang mengakibatkan eksodus Rohingya ke Bangladesh merupakan ulah para ekstrimis dalam usaha membangun kubu pertahanan di Myanmar.

Bangladesh kebanjiran pengungsi Rohingya. Lebih dari 400 ribu orang Rohingya meninggalkan tempat tinggal mereka di Myanmar dalam tiga pekan terakhir karena krisis yang digambarkan PBB sebagai pembersihan etnis. PM Bangladesh Sheikh Hasina, yang mengecam Myanmar terkait kekejian terhadap Rohingya dalam kunjungannya ke ke kamp-kamp pengungsi di perbatasan beberapa waktu lalu, meninggalkan Dhaka untuk menghadiri pertemuan tahunan PBB di New York.

Kamp-kamp pengungsi di Bangladesh sudah tidak lagi mampu menampung para pengungsi baru. Para pendatang baru terpaksa tinggal di sekolah-sekolah atau tenda-tenda sementara tanpa toilet di pinggiran jalan atau di tempat-tempat terbuka.

Seorang perempuan Muslim Rohingya, yang menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh, memasak di pinggir jalan dekat kamp pengungsi Mushani, Bangladesh, Sabtu, 16 September 2017.
Seorang perempuan Muslim Rohingya, yang menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh, memasak di pinggir jalan dekat kamp pengungsi Mushani, Bangladesh, Sabtu, 16 September 2017.

Untuk mengamankan situasi, polisi memeriksa kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang untuk mencegah para Rohingya memasuki kota-kota di dekatnya. Seorang pejabat kepolisian mengatakan, PM Hasina meminta petugas keamanan memperlakukan para pengungsi Rohingya secara manusiawi. Meski demikian ia mengakui, karena besarnya krisis, terkadang sangat sulit mengontrol keadaan.

Paar pengungsi berdatangan dari negara bagian Rakhine setelah sekelompok pemberontak Rohingya melancarkan serangan terhadap sejumlah pos keamanan 25 Agustus lalu. Serangan itu mendorong militer Myanmar melancarkan operasi pembersihan untuk memberantas para pemberontak. Para pengungsi menggambarkan serangan militer itu membabi buta. Serangan serupa juga dilakukan para penganut ajaran Budha yang menolak eksistensi Muslim Rohingya.

Pemerintah Myanmar mengatakan, ratusan orang tewas, umumnya teroris, dan 176 dari 471 desa Rohingya Rohingya telah ditinggalkan. Myanmar bersikeras mengatakan, para pemberontak Rohingya, dan orang-orang Rohingya yang melarikan diri dengan sengaja membakar rumah-rumah mereka sendiri. Pernyataan Myanmar itu tidak disertai bukti. [ab]

XS
SM
MD
LG