Tautan-tautan Akses

Australia Peringati 25 Tahun Pembantaian Massal yang Ubah UU Senjata


Gaye Myler (tengah, melempar sekuntum bunga ke kolam refleksi di Port Arthur, Australia, Rabu, 28 April 2021, dalam peringatan 25 tahun pembantaian massal di negara bagian Tasmania. (Luke Bowden/Pool via AP)
Gaye Myler (tengah, melempar sekuntum bunga ke kolam refleksi di Port Arthur, Australia, Rabu, 28 April 2021, dalam peringatan 25 tahun pembantaian massal di negara bagian Tasmania. (Luke Bowden/Pool via AP)

Australia, Rabu (28/4), memperingati 25 tahun tragedi pembantaian massal yang dilakukan seorang pria bersenjata di negara bagian Tasmania, peristiwa tragis yang mendorong negara itu memperketat undang-undang pengawasan senjata secara drastis.

Sebuah kebaktian diadakan di kota wisata Port Arthur di mana penembak, Martin Bryant, yang bersenjatakan dua senapan serbu semiotomatis, menewaskan 35 orang dan melukai 23 lainnya pada Minggu, 28 April 1996, di sebuah lokasi reruntuhan penjara Inggris abad ke-18.

Dalam dua pekan, pemerintah federal dan pemerintah negara-negara bagian sepakat menstandarisasi undang-undang pengawasan senjata yang tujuan utamanya melarang publik memiliki senjata api yang dapat ditembakkan secara cepat. Perubahan-perubahan itu ditanggapi dengan perlawanan politik yang sengit dari para pelobi senjata.

Orang-orang duduk di samping kolam refleksi saat berlangsungnya upacara menandai ulang tahun ke-25 pembunuhan 35 orang di negara bagian Tasmania, di Port Arthur, Australia, Rabu, 28 April 2021.
Orang-orang duduk di samping kolam refleksi saat berlangsungnya upacara menandai ulang tahun ke-25 pembunuhan 35 orang di negara bagian Tasmania, di Port Arthur, Australia, Rabu, 28 April 2021.

Dalam pernyataannya di Darwin, Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan kepada wartawan, sementara Australia berduka, hari itu perlu diingat sebagai hari sangat bersejarah terkait undang-undang pengawasan senjata. Ia mengatakan reformasi senjata yang terjadi menyusul pembantaian terburuk di negara itu menempatkan Australia di posisi yang lebih baik di mata dunia dan meningkatkan keamanan warga Australia.

Pernyataan Morrison senada dengan Michael Field, mantan pemimpin pemerintah Tasmania dan manajer situs penjara bersejarah yang menjadi lokasi pembantaian itu. Dalam pidatonya, Field mengatakan, warga Australia harus mengingat keberanian para pemimpin pemerintah dalam menanggapi pembantaian tersebut. “Perubahan pada undang-undang senjata ini sekarang dijadikan rujukan oleh mereka yang menginginkan perubahan terkait pengawasan senjata di berbagai penjuru dunia, khususnya di Amerika Serikat,'' kata Field.

Upacara peringatan 25 tahun pembantaian di Port Arthur, Australia, Rabu, 28 April 2021. (AP)
Upacara peringatan 25 tahun pembantaian di Port Arthur, Australia, Rabu, 28 April 2021. (AP)

Sejak pembantaian tersebut, memang masih terjadi tiga pembunuhan massal dengan senjata di Australia, tapi frekuensinya menurun dan jumlah korbannya relatif kecil. Yang terburuk terjadi pada 2018 ketika seorang petani membunuh enam anggota keluarganya sebelum menembak dirinya sendiri di negara bagian Australia Barat. Sebagai perbandingan, dalam satu dekade sebelum pembantaian massal di Tasmania, terjadi 11 penembakan massal semacam itu.

Martin Bryant, si pelaku pembantaian massal, saat ini masih dipenjarakan tanpa kemungkinan dibebaskan. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG