Tautan-tautan Akses

Atlet Sepeda India Penyintas Tsunami Siap Guncang Asian Games


Atlet sepeda India, Deborah Herold, berpose untuk foto setelah wawancara dengan Reuters di New Delhi, India, 10 Agustus 2018.

Ketika masih anak-anak, atlet sepeda India, Deborah Herold, bertahan di atas pohon selama lima hari saat tsunami melanda.

Pengalaman masa kecilnya membuat Herold memiliki cara pandang yang berbeda tentang konsep ‘takut akan kegagalan’ di arena pertandingan.

Herold, yang sekarang berusia 23 tahun, akan beraksi di Jakarta International Velodrome pekan depan. Namun, kenangan bencana tsunami yang menghancurkan Asia Tenggara 14 tahun lalu menjadi pengalaman tak terlupakan bagi hidupnya.

Gempa bumi yang sangat kuat di Samudera Hindia menimbulkan gelombang tsunami yang memakan 228 ribu korban jiwa, sebagian besar korban berada provinsi di Aceh.

Herold tumbuh besar di Pulau Andaman dan Nicobar yang terletak di sebelah utara dekat Sumatera, dan dia ingat pada Minggu pagi, ibunya berlari ke kamar di mana dia dan saudaranya tidur.

“Saya berumur sembilan tahun saat itu. Ibu saya berteriak ‘Bangun dan berlarilah’, dan kami pun berlari,” kata Herold kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

“Kami berlari sampai ke sebuah lapangan luas. Desa kami sangat dekat dengan laut dan kami mendengar suara laut berderu keras. Saya berpegangan kuat pada tangan ibu saya, namun tiba-tiba saja saya sudah tergulung oleh ombak. Bahkan ibu saya tidak tahu kapan kami terpisah.”

Dalam keadaan panik, terlintas dalam pemikiran Herold untuk menaiki pohon saat air laut semakin naik.

Pemandangan dari udara pesisir pantai Indira point, titik paling selatan India, 600 km sebelah selatan Port Blair di kepulauan Andaman dan Nicober, setelah diterjang tsunami yang melanda Asia Tenggara, 1 Maret 2005.
Pemandangan dari udara pesisir pantai Indira point, titik paling selatan India, 600 km sebelah selatan Port Blair di kepulauan Andaman dan Nicober, setelah diterjang tsunami yang melanda Asia Tenggara, 1 Maret 2005.

Herold bertahan selama lima hari di pohon. Ketika akhirnya tim penyelamat datang dan mulai membersihkan jenazah korban tsunami, Herold mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berteriak meminta bantuan.

“Mereka berhasil menurunkan saya,” katanya. “Saya sudah putus asa untuk dapat melihat keluarga saya kembali. Orang tua saya mengira saya sudah terbawa arus. Saat saya dipertemukan kembali dengan keluarga saya, anda dapat bayangkan betapa keras tangis saya saat itu.”

Hidup Herold kembali normal. Herold sempat menjajal olahraga atletik sebelum dia merasakan kesenangan bersepeda saat menaiki sepeda milik saudaranya.

“Kemudian saat ada lomba balap sepeda dan saya bertanya kepada ayah saya apakah saya dapat meminjam sepedanya,” katanya dengan senyum. “Ayah memperbolehkan saya menggunakan sepedanya, namun saya harus berjanji untuk menang, dan saya pun menang.”

Dia tampil cukup baik hingga mencuri perhatian dari Sport Authority of India yang dengan resmi membawanya ke SAI Center di Port Blair, Ibu Kota Andaman.

“Di sana saya belajar apa itu velodrom, meski berada di luar gedung,” kata Herold, yang akan bertanding di tim Sprint and Keirin di Jakarta.

Karena sudah terpilih untuk kejuaraan national, dia diharuskan untuk pindah ke New Delhi, memenangkan tiga buah medali emas di Track Asia Cup dan menduduki peringkat keempat pada kategori individual 500 meter.

Herold sangat mengagumi atlet-atlet perempuan yang menjadi pelopor olahraga, seperti petinju MC Mary Kom dan pesenam Dipa Karmakar.

“Sama seperti mereka. Saya juga ingin memberikan prestasi yang baik dan kemungkinan memenangkan medali Olimpiade. Saya mau memberikan yang terbaik untuk India,” ujarnya.[vp/ft]

XS
SM
MD
LG