Tautan-tautan Akses

AS: Korea Utara di Balik Serangan 'WannaCry'


Penasihat Keamanan Dalam Negeri Tom Bossert memberikan keterangan kepada wartawan dalam konferensi Gedung Putih hari Selasa (19/12).

Amerika Serikat bertekad meminta pertanggungan jawaban Korea Utara atas serangan virus komputer "WannaCry" yang menyerang lebih dari 150 negara bulan Mei lalu.

Serangan itu melumpuhkan rumah sakit, bank serta mengunci file dan database, dan menuntut uang tebusan sebagai imbalan bagi pemulihan layanannya.

"Kita akan mempermalukan mereka atas serangan itu," kata penasihat Keamanan Dalam Negeri Tom Bossert kepada wartawan dalam konferensi Gedung Putih hari Selasa (19/12), sementara mengakui hanya ada sedikit yang bisa dilakukan secara spesifik untuk menyeret pelakunya ke pengadilan.

"Tapi kita yakin dalam kasus ini, bahwa serangan itu diperintahkan oleh pemerintah Korea Utara. Kami tidak melancarkan tuduhan ini begitu saja," tandas Bossert.

Ia juga mencatat banyak pemerintah dan perusahaan swasta lainnya setuju dengan penilaian itu.

"Kami menyelidikinya disertai bukti dan kami melakukannya dengan para mitra. Inggris, Australia, Kanada, Selandia Baru dan Jepang telah melihat analisis kami dan secara bersama kami mengecam Korea Utara atas serangan WannaCry-nya itu. Mitra-mitra komersial juga telah bertindak. Microsoft melacak serangan itu yang berasal dari afiliasi siber pemerintah Korea Utara, dan pihak lainnya dalam komunitas keamanan ikut berkontribusi pada analisa mereka," imbuh Bossert kepada wartawan.

Para pakar mengatakan "WannaCry" mengeksploitasi kerentanan beberapa versi sistem operasi Microsoft Windows yang belum diperbarui dengan pengamanan. Bossert, yang menjabat sebagai asisten Presiden Donald Trump untuk keamanan dalam negeri dan kontraterorisme, menyesalkan tidak banyak lagi yang dapat dilakukan untuk membatasi perilaku Korea Utara, mengingat rezim Pyongyang sudah menghadapi sanksi berat dalam banyak bidang. [my/jm]

XS
SM
MD
LG