Tautan-tautan Akses

AS

AS Kalah Dalam Satu Unsur Penting Perang Melawan Teror?


Bunga-bunga diletakkan di nama-nama korban serangan teror 11 September di Peringatan dan Musium Nasional 9/11 di New York , 11 September 2017.

Enam belas tahun setelah Amerika melancarkan perang terhadap teror, masih ada keprihatinan bahwa aspek tertentu dalam perang tidak berlangsung sesuai harapan. Dalam hal perang ideologi, sebagian pakar dan pejabat khawatir, mungkin Amerika mengalami kekalahan.

“Kita telah berhasil menghentikan dan mencegah rencana teror di Amerika,” Michael McCaul, ketua Komisi Keamanan Dalam Negeri DPR. “Tetapi ada suatu unsur yang tidak dapat dimenangkan dengan serangan pesawat nirawak, yaitu perang ideologi."

Para pejabat Amerika yang masih aktif maupun yang sudah pensiun mengatakan, kegagalan melawan narasi yang membantu menggerakkan kelompok seperti al-Qaida dan ISIS bukan karena kurang usaha. Namun mereka mengakui sebegitu jauh hasilnya kurang memuaskan.

“Saya cemas melihat menyebarnya ideologi,” kata penasehat keamanan dalam negeri Gedung Putih Tom Bossert pekan lalu dalam sebuah KTT Keamanan di Washington.

“Ada 17 atau 18 negara dimana kita mungkin telah gagal, atau mendekati gagal, sehingga di negara-negara itu ada kehadiran kuat al-Qaida, ISIS, atau kelompok lain,” katanya. “Itu adalah perkembangan yang merisaukan.”

Awalnya, para pejabat Amerika menggantungkan harapan pada kemenangan militer terhadap ISIS di Irak dan Suriah, dengan pemikiran setelah kekhilafahan itu runtuh, daya tariknya akan hilang.

Namun, kekalahan ISIS di medan tempur tidak mengurangi daya tarik ideologi jihadnya.

Upaya Amerika untuk secara langsung melawan pesan ISIS dan ideologi jihad lain menemui kegagalan. Sejak itu, upaya Amerika difokuskan pada memberdayakan organisasi-organisasi mitra untuk membantu mengalahkan narasi ISIS. Kemajuannya lambat, tetapi beberapa mantan pejabat mengatakan, Presiden Trump perlu memberi waktu pada upaya-upaya ini. [ds]

XS
SM
MD
LG