Tautan-tautan Akses

PBB: AS Berada pada Jalur yang Tepat untuk Penuhi Target Kesepakatan Iklim


Sekjen PBB, Antonio Guterrs, berbicara menanggapi pidato Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel di New York, 6 Desember 2017 (foto: REUTERS/Lucas Jackson)
Sekjen PBB, Antonio Guterrs, berbicara menanggapi pidato Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel di New York, 6 Desember 2017 (foto: REUTERS/Lucas Jackson)

AS berada pada jalur yang tepat untuk memenuhi target kesepakatan iklim Paris di tengah rencana Presiden Donald Trump untuk menarik diri dari kesepakatan itu, demikian pernyataan Sekjen PBB, Antonio Guterres hari Kamis.

Guterres mengatakan rencana untuk menekan emisi yang dilancarkan oleh perusahaan-perusahaan Amerika, pemerintah daerah, dan pemerintah kota maknanya tujuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah AS terdahulu, yang menandatangani kesepakatan itu tahun 2016 berada dalam jangkauan.

“Kami telah menyaksikan di kota-kota, dan kami telah menyaksikan di banyak negara bagian, komitmen yang sangat kuat untuk memenuhi kesepakatan Paris, hingga batas-batas dimana beberapa indikator bergerak bahkan lebih baik ketimbang baru-baru ini,” Guterres menyatakan pada para wartawan di markas besar PBB di New York.

“Ada banyak ekspektasi untuk itu, terlepas dari posisi pemerintah, AS mungkin mampu untuk memenuhi komitmen yang dibuat di Paris sebagai sebuah negara.”

Emisi gas rumah kaca

Di bawah kesepakatan ini, pemerintahan dari mantan presiden Barack Obama berjanji untuk menekan emisi gas rumah kaca di dalam negeri 26 hingga 28 persen dibawah tingkatan tahun 2005 menjelang tahun 2025.

Hampir 200 negara dan para pihak telah menandatangani kesepakatan bersejarah setelah negosiasi yang ketat di Paris, dimana semua bangsa membuat janji pengurangan emisi karbon secara sukarela yang berlangsung hingga 2030.

Kesepakatan ini bertujuan membatasi pemanasan global hingga dalam batas dua derajat Celsius, namun Guterres memperingatkan perlu lebih banyak tindakan menjelang tahun 2020 untuk mencapai tujuan itu.

Pemberitahuan penarikan diri paling lambat 2019

Trump menerima kecaman saat ia mengumumkan pada bulan Juni 2017 bahwa AS akan menarik diri, dengan menggambarkan kesepakatan itu sebagai “kesepakatan yang buruk” untuk ekonomi AS.

Di bawah kesepakatan itu, AS dapat secara formal memberitahukan rencananya untuk menarik diri pada tahun 2019, tiga tahun setelah kesepakatan itu berlaku, dan penarikan diri itu akan mulai berlaku efektif pada tahun 2020.

Menggambarkan perubahan iklim sebagai “ancaman paling sistemik kepada umat manusia,” Guterres mengatakan data baru-baru ini terkait kejadian cuaca ekstrim menunjukkan bahwa “tahun 2017 dipenuhi kekacauan iklim.”

“2018 telah menunjukkan kondisi yang sama,” ujarnya. “Ketahanan pangan, kesehatan, stabilitas itu sendiri semua menghadapi ketidakpastian.”

Guterres merencanakan untuk menjadi tuan rumah untuk pertemuan puncak penting tahun depan untuk mengetahui kemajuan implementasi kesepakatan iklim, namun tampaknya Trump tidak akan hadir.

Rencana untuk mengurangi standar emisi, standar bahan bakar

Meskipun Guterres mengatakan AS berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target kesepakatan iklim Paris, pemerintahan Trump masih memiliki kemampuan untuk mengubah aturan-aturan yang ada saat ini.

The New York Times melaporkan hari Kamis, dengan mengutip seorang wanita juru bicara Environmental Protection Agency, bahwa Gedung Putih diharapkan untuk mendorong sebuah rencana untuk mendorong rencana untuk menurunkan standar emisi dan standar ekonomi bahan bakar kendaraan, yang mengacaukan usaha pemerintah sebelumnya untuk menanggulangi perubahan iklim.

Tindakan semacam itu merupakan kemenangan bagi produsen mobil, yang berpotensi membuka jalan untuk menurunkan standar secara global. [ww]

XS
SM
MD
LG