Tautan-tautan Akses

AS Bantu Senegal Melawan Ekstremis Sahel


Brian Hook (kanan), Utusan Khusus AS untuk Iran dan Dubes AS Nathan Sales (kiri), koordinator AS urusan kontraterorisme, dalam konferensi pers di kantor Deplu AS di Washington, D.C., 8 April 2019. (Foto: dok).

Senegal di Afrika Barat dikenal akan demokrasi yang stabil dan masa depan yang damai. Seiring dengan meluasnya aktivitas teroris di seluruh Sahel, ancaman ekstremisme telah meningkat tajam di negara itu. Ini mendorong pemerintah AS menggiatkan upaya untuk membantu Senegal mengamankan perbatasannya.

Sementara faksi-faksi ISIS dan al-Qaida telah mengacau sebagian besar Afrika Barat, Senegal telah berhasil mempertahankan perdamaian dan keamanan di dalam perbatasannya.

Tapi dengan berbagai konflik di dekat Senegal, di mana 95 persen populasinya mempraktikkan Islam, para pakar memperingatkan kerusuhan bisa meluas dan mengakhiri tradisi keagamaan dan pluralisme etnik di negara itu.

AS dan negara-negara lain mengambil langkah untuk membantu Senegal menerapkan upaya-upaya keamanan.

"Saya pikir situasinya telah menjadi semakin mengkhawatirkan. Dan itu sebabnya biro kontraterorisme, khususnya di Departemen Luar Negeri telah mengerahkan sumber daya ke wilayah itu. Kami berusaha untuk mendukung kapabilitas pemerintahan itu untuk bisa menghadapi ancaman teroris secara mandiri... Kami ingin memastikan agar ancaman teroris di kawasan itu tidak mendestabilisasi dan mengusik sebuah pemerintahan dan ekonomi yang selama ini unggul di kawasan itu," kata Duta Besar Nathan Sales, koordinator AS urusan kontraterorisme.

AS Bantu Senegal Melawan Ekstremis Sahel
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:42 0:00

Sales mengatakan AS telah menginvestasikan hingga 10 juta dolar setahun untuk berbagai inisiatif keamanan dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam sebuah pertemuan baru-baru ini dengan para pejabat Senegal di Dakar, Sales menekankan pentingnya berbagi intelijen untuk mencegah teroris memasuki negara itu dengan menggunakan informasi seperti data biometrik dan pemesanan tiket pesawat. Dia juga berbicara tentang pentingnya menjaga daftar pengawasan teroris.

"Kami melihat Senegal sebagai pulau yang stabil dan sejahtera dan aman. Kami menginginkan Senegal memainkan peranan di kawasan sebagai pemberi keamanan," jelasnya.

Jumlah serangan kekerasan yang diduga dilakukan kelompok-kelompok ekstremis Islamis di Sahel telah berlipatganda setiap tahun sejak 2016, menurut kelompok riset Departemen Pertahanan AS, Pusat Afrika bagi Studi Strategis. Kematian yang terkait serangan-serangan itu juga berlipat ganda setiap tahun.

Kouider Zerrouk adalah kepala pejabat komunikasi Kantor PBB untuk Afrika Barat dan Sahel.

Zerrouk mengatakan terorisme telah mendestabilisasi hampir seluruh kawasan dalam lima tahun terakhir. Belum jelas berapa lama lagi Senegal akan mampu mempertahankan keamanannya dengan meningkatnya ancaman di sekitarnya. [vm/jm]

XS
SM
MD
LG