Tautan-tautan Akses

Apa Peran Inggris Pasca Brexit?


PM Inggris Theresa May (kiri) dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker dalam konferensi pers bersama di Brussels, Belgia (foto: dok).

Sementara keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada tahun 2019 makin dekat, Inggris ingin menentukan perannya yang baru di panggung dunia. Banyak analis mengatakan Inggris bisa kesulitan mempertahankan pengaruhnya selagi negara-negara kuat lainnya menuntut perwakilan yang lebih besar di badan-badan dunia seperti PBB.

"Inggris berjuang di atas kelasnya" - sebuah analogi tinju yang pernah digunakan oleh mantan menlu untuk menggambarkan peran negaranya di panggung dunia. Analogi tersebut sejak itu sering diulang. Tapi status itu bisa kehilangan kekuatan, kata Luke McDonagh dari City University London.

"Meninggalkan Uni Eropa artinya Inggris kini bisa dipandang sebagai perekonomian berukuran sedang di dunia yang makin terpolarisasi, di mana ada blok-blok ekonomi besar. Ada Amerika, China, dan Uni Eropa. Dalam abad mendatang, juga akan ada India, serta bangkitnya Amerika Selatan dan Afrika untuk bersaing. Seperti apa nanti posisi Inggris?," tutur McDonagh.

McDonagh mengatakan sebagai pertanda memudarnya cengkeraman pengaruh Inggris adalah kekalahannya untuk mempertahankan posisi hakim pada bulan November di Mahkamah Internasional (ICJ). Setelah perjuangan yang panjang di PBB, Inggris menarik pencalonannya, membiarkan seorang hakim India mengambil tempat yang diduduki Inggris sejak pembentukan ICJ pada tahun 1946.

"Cara persaingan kekuasaan sekarang jelas berbeda dari tahun 1945. Dan kita harus mempertanyakan apakah Dewan Keamanan PBB akan terus berlanjut dalam bentuk seperti ini lebih lama lagi," tambah McDonagh.

Tapi kecil kemungkinan Inggris akan kehilangan tempat permanennya di DK PBB dalam waktu dekat, kata pakar PBB Richard Gowan dari Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa.

"Kebanyakan negera besar di DK, termasuk Amerika dan China, tidak ingin melihat adanya reformasi serius terhadap institusi itu di masa mendatang," kata Gowan.

Inggris berkeras tidak akan menarik diri. Ambisi pemerintah setelah Brexit adalah menciptakan apa yang dikatakan Inggris "Global Britain."

"Di satu sisi, kementerian luar negeri Inggris sekarang bisa mencurahkan lebih banyak sumber daya pada urusan-urusan PBB karena fokus pada Uni Eropa akan berkurang. Tapi di sisi lain, tanpa dukungan 27 negara Uni Eropa lainnya, Inggris akan lebih sulit mempengaruhi perdebatan terkait urusan kemanusiaan, pembangunan atau keamanan melalui PBB," ujar Gowan.

Dalam mencari peran baru di panggung dunia, para analis mengatakan Inggris perlu membentuk aliansi baru, sambil mempertahankan kedekatan dengan sahabat-sahabat lama dan berupaya mengatasi kekacauan di dalam negeri. [my/ii]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG