Tautan-tautan Akses

Anjloknya Harga Minyak Diperkirakan Guncang Timur Tengah dan Rusia


Tangki minyak Aramco terlihat di fasilitas produksi di ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco di Empty Quarter, Arab Saudi, 22 Mei 2018. (Foto: Reuters)

Organisasi Negara-Negara Eksportir Minyak (OPEC) dan sekutunya telah sepakat pada pekan lalu untuk memangkas produksi hingga 9,7 juta barel. Kesepakatan tersebut mengakhiri perang harga antara dua eksportir terbesar di dunia –Rusia dan Arab Saudi.

Tetapi pandemi virus corona membuat kesepakatan itu tidak berarti.

“Semakin jelas bahwa permintaan minyak anjlok begitu cepat sehingga kesepakatan yang diambil itu tidak relevan lagi,” ujar Ben Cahil, analis di CSIS.

Kemacetan bisnis/perdagangan akibat virus itu telah menurunkan permintaan minyak, memicu kelebihan pasokan secara besar-besaran dan membuat harga minyak anjlok di bawah nol, yang pertama dalam sejarah.

Minyak mentah jenis Brent tidak diperdagangkan di kisaran negatif –atau di bawah nol– tetapi kontrak minyak Brent pada perdagangan Juni, Selasa ini (21/4) diperkirakan akan anjlok lebih dari 20% menjadi di bawah $20 per barel.

Di berbagai belahan dunia pesawat-pesawat terbang tidak beroperasi, mobil-mobil di parkir di garasi dan pabrik-pabrik tutup akibat pandemi virus corona. Walhasil kebutuhan akan minyak anjook, membuat para produsen justru membayar para pembeli untuk mengambil minyak dari mereka.

Permintaan minyak anjlok hingga 30 juta barel per hari, dan hanya ada sedikit tangki-tangki yang tersisa untuk menyimpan kelebihan minyak.

The Economist Intelligence Unit (EIU) minggu ini melaporkan bahwa cadangan minyak mentah meningkat menjadi 504 juta barel. Angka tersebut merupakan angka tertinggi sejak tahun 2017, meskipun ada perlambatan produksi. Dan dengan terus berlanjutnya produksi karena sumur-sumur minyak yang tidak dapat ditutup, cadangan minyak tersebut terus melonjak naik.

Anjloknya harga minyak telah menciptakan perkiraan yang suram dan berpotensi menimbulkan konsekuensi politik yang mengerikan di Timur Tengah dan Rusia, yang sudah mengalami kesulitan anggaran dan kini bergantung pada pendapatan bahan bakar fosil, ujar diplomat dan analis politik Barat. Jika harga minyak tidak segera pulih, negara yang kuat sekalipun berisiko mengalami destabilisasi, demikian peringatan yang disampaikan para analis itu.

Anjloknya harga minyak itu terjadi pada saat yang sulit bagi banyak negara di Timur Tengah.

Menurut Julien Barnes-Dacey di Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa, virus corona “hanya merupakan salah satu krisis dari berbagai krisis lainnya, termasuk ekonomi, politik, konflik." Dan hal tersebut menambah pertanyaan “apakah ini hanya salah satu satu elemen lain yang mendorong kawasan itu menuju ke jurang, khususnya setelah anjloknya harga minyak yang sudah mengguncang keuangan di Arab Saudi dan Irak.” [em/pp]

Recommended

XS
SM
MD
LG