Tautan-tautan Akses

Ancaman Bencana Merata di Jawa Tengah, 13 Wilayah dalam Status Tanggap Darurat


Banjir di tahun baru melanda Kabupaten Kendal, petugas melakukan evakuasi warga terdampak menggunakan perahu karet. (Foto: BPBD Kab Kendal)
Banjir di tahun baru melanda Kabupaten Kendal, petugas melakukan evakuasi warga terdampak menggunakan perahu karet. (Foto: BPBD Kab Kendal)

Cuaca ekstrem di Jawa Tengah telah menimbulkan banjir dan ancaman bencana hidrometeorologi lain, seperti tanah longsor, angin kencang dan gelombang besar. Wilayah yang terancam ditetapkan dalam status tanggap darurat bencana, mulai Senin (2/1).

Status tanggap darurat ini ditegaskan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto di Semarang. Dia hadir dalam rapat koordinasi bersama Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gubernur Jawa Tengah, dan sejumlah bupati serta wali kota.

“Per hari ini, di samping bapak Gubernur sendiri sudah menetapkan status darurat, ada 13 kabupaten/kota yang sudah menetapkan status tanggap darurat,” kata Suharyanto.

“Kenapa status tanggap darurat ini selalu kami mintakan kepada kepala daerah, khususnya bupati/wali kota? Karena itu pintu masuk bagi BNPB untuk bisa turun langsung, memberikan bantuan. Tanpa dengan status darurat, tentu saja dari segi akuntabilitas administrasi kita tidak bisa masuk,”tegasnya.

Ancaman Bencana Merata di Jawa Tengah, 13 Wilayah dalam Status Tanggap Darurat
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:38 0:00

Cuaca di sebagian besar wilayah Jawa Tengah sendiri dalam dua hari terakhir cukup terkendali, sebagai dampak upaya modifikasi cuaca. Melalui dana BNPB, pesawat Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) setidaknya tujuh kali melakukan upaya tersebut.

Suharyanto menegaskan, upaya ini bukan hanya dilakukan di Jawa Tengah, tetapi juga di Jakarta dan Jawa Barat, khususnya di akhir Desember tahun lalu. Di Jawa Barat, upaya ekstra ini juga dilakukan di kawasan Pantai Utara, dekat perbatasan Jawa Tengah.

“Ada salah satu daerah aliran sungai di Kabupaten Subang, Sumedang dan Indramayu, yang apabila tidak dilaksanakan rekayasa cuaca, bisa mengakibatkan jalan tol kebanjiran, sehingga mengganggu arus mudik dan arus balik libur Nataru ini,”urai Suharyanto.

Banjir mulai surut pada Senin (2/1) di lima kecamatan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.foto BPBD Kab Pati
Banjir mulai surut pada Senin (2/1) di lima kecamatan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.foto BPBD Kab Pati

Status tanggap darurat tidak berkaitan dengan kemampuan daerah menanggulangi bencana yang melanda wilayahnya. Suharyanto menegaskan, penetapan status ini adalah bentuk upaya bersama dalam menekan dampak bencana.

Setelah penetapan status tanggap darurat, seluruh wilayah diminta melakukan persiapan dalam enam bidang, yaitu posko bencana, tempat pengungsian, dapur lapangan, fasilitas kesehatan, logistik dan anggaran.

Khusus untuk logistik dan anggaran, BNPB mengirimkan dana tunai yang langsung bisa dipakai. Suharyanto merinci, BNPB memberikan bantuan anggaran setiap kabupaten/kota Rp250juta, ditambah logistik berupa makanan beras, mie, gula dan segala macam makanan siap pakai masing-masing senilai Rp100 juta. Sementara untuk provinsi, bantuan diberikan Rp1 miliar.

BMKG: Cuaca Ekstrem Berlanjut

BMKG berperan penuh dalam pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), dengan pendanaan dari BNPB, seperti disampaikan Kepala BMKG, Prof Dwikorita Karnawati dalam rapat koordinasi ini.

“Tanggal 1 Januari, alhamdulillah sudah mulai berkurang hujannya, dan hari ini lebih fokus lagi, satu pesawat dikhususkan, disiapkan oleh BNPB dan TNI AU khusus untuk menangani Jawa Tengah,” ujarnya.

Kepala BMKG (baju putih), Kepala BNPB (rompi hijau) dan Gubernur Jawa Tengah (baju coklat) meninjau salah satu dapur umum bagi korban banjir di Semarang. (Foto: Humas Jateng)
Kepala BMKG (baju putih), Kepala BNPB (rompi hijau) dan Gubernur Jawa Tengah (baju coklat) meninjau salah satu dapur umum bagi korban banjir di Semarang. (Foto: Humas Jateng)

Namun, Dwikorita mengingatkan bahwa kondisi cuaca ekstrem masih akan terjadi terus terjadi di Jawa Tengah, paling tidak hingga Februari. Curah hujan berlangsung fluktuatif, bisa memiliki hari-hari yang tidak hujan, tetapi bisa juga hujan lebat berlangsung beberapa hari.

Secara umum, Dwikorita merinci, cuaca Indonesia dipengaruhi berbagai fenomena, terutama angin yang berasal dari benua Asia disertai udara dingin dari dataran tinggi Tibet. Selain itu, ada pula kumpulan awan yang bergerak dari Samudra Hindia di sebelah barat Indonesia masuk ke wilayah Indonesia, melintasi Jawa bagian utara. Fenomena inilah yang membuat curah hujan di Jawa Tengah sangat tinggi dalam dua hari terakhir bulan Desember dan menyebabkan banjir.

BMKG telah memperkirakan potensi curah hujan di setiap wilayah hingga beberapa waktu ke depan. Sayangnya, karena perubahan iklim, besaran curah hujan itu tidak merata sepanjang waktu yang ditentukan.

BPBD Kota Semarang melakukan patroli kondisi terkini banjir yang melanda wilayahnya menggunakan perahu karet. (Foto BNPB)
BPBD Kota Semarang melakukan patroli kondisi terkini banjir yang melanda wilayahnya menggunakan perahu karet. (Foto BNPB)

“Hujan sepuluh hari, itu turunnya tidak adil setiap hari. Akhir-akhir ini, karena dampak perubahan iklim global, hujan sepuluh hari itu kadang turunnya hanya dalam satu hari. Seperti kemarin (akhir Desember-red), sebetulnya hujan untuk sebulan, tetapi itu turun dalam satu hari,” jelas Dwikorita.

Dampak perubahan iklim yang membuat curah hujan tidak menentu inilah yang saat ini coba diatasi dengan penerapan TMC.

Cuaca ekstrem yang mulai masuk Jawa Tengah, akan menyebabkan curah hujan tertinggi di kawasan tengah provinsi ini. Namun, kewaspadaan juga harus diterapkan di kawasan pesisir, karena ancaman naiknya muka air laut atau yang biasa disebut rob di Jawa Tengah. Dwikorita meminta kepala daerah mengecek kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air, untuk mengantisipasi curah hujan tinggi.

BMKG memperkirakan, banjir rob periode setelah ini akan datang di wilayah pantai utara Jawa Tengah, khususnya Semarang, pada 6-15 Januari. Nelayan diminta untuk tidak melaut karena gelombang masih tinggi dan angin kencang. Prediksi BMKG, kecepatan angin dalam beberapa hari ke depan mencapai 35 knot itu sekitar 60 kilometer/jam, dengan tinggi gelombang mencapai tiga hingga empat meter.

Ganjar Pranowo, Letjen TNI Suharyanto dan Prof Dwikorita Karnawati dalam rapat koordinasi di Semarang, Jawa Tengah, Senin (2/1).foto Humas Jateng
Ganjar Pranowo, Letjen TNI Suharyanto dan Prof Dwikorita Karnawati dalam rapat koordinasi di Semarang, Jawa Tengah, Senin (2/1).foto Humas Jateng

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta warganya untuk waspada dengan cuaca, termasuk potensi rob selama periode bulan purnama. “Maka saya minta patroli tanggul. Karena ada angin tinggi, saya minta pohon yang tinggi dipangkas, ini kita minta agar semuanya aware, nomor telfon dibagi,” tegas Ganjar.

Dalam pertemuan ini, terungkap bahwa kawasan Semarang mengalami kekurangan pompa air. Di salah satu rumah pompa misalnya, hanya ada enam mesin sementara idealnya air dikurs menggunakan dua belas pompa.

“Dari situ, saya minta ya sudah tambah saja alatnya, tambah orangnya, tentu tambah biayanya, tentu butuh keputusan politik,” katanya.

Ganjar juga meminta, semua pemangku kepentingan bersiap, sehingga penanganan kebencanaan lebih cepat.

“Yang transportasi, yang ngurus sungai, yang ngurus jalan, yang ngurus listrik termasuk ngurus BBM. Maka ini cara – cara kita secara lengkap, untuk membantu masyarakat yang sedang mengalami bencana ini,” tambahnya.

Forum

Recommended

XS
SM
MD
LG