Tautan-tautan Akses

AS Khawatir dengan Kesuksesan ISIS di Media Sosial


Polisi Garland di Curtis Culwell Center, lokasi penembakan Minggu lalu di Texas. Para pelaku diduga terinspirasi oleh ISIS lewat media sosial.
Polisi Garland di Curtis Culwell Center, lokasi penembakan Minggu lalu di Texas. Para pelaku diduga terinspirasi oleh ISIS lewat media sosial.

Kemunduran kelompok Negara Islam di medan pertempuran tampaknya tidak berdampak suksesnya ISIS di dunia media sosial, menurut pejabat Amerika Serikat.

"Ratusan, atau bahkan ribuan orang di AS menerima tawaran untuk direkrut dari kelompok teroris atau seruan-seruan untuk menyerang Amerika Serikat," ujar direktur FBI James Corney, Kamis, pada sebuah pertemuan dengan reporter.

Dan ini memicu keprihatinan dari para wakil rakyat Amerika di Washington, D.C., yang mengatakan strategi online pemerintah tidak tepat sasaran.

"Kita mungkin tidak memiliki kemampuan respon komunikasi yang cepat dalam pemerintah federal [untuk melawan pesan teroris]," ujar Senator Partai Republik Ron Johnson dari Wisconsin, pada sebuah sidang dengar pendapat mengenai kesuksesan media sosial ISIS di Kongres baru-baru ini. "Tapi saya rasa kebanyakan pejabat yang terpilih, yang telah berpengalaman dengan kampanye, terutama kampanye presiden, memiliki kemampuan tersebut dalam dunia politik."

Saat pihak berwenang masih menyelidik serangan baru-baru ini pada sebuah konvensi dan kontes kartun Nabi Muhammad di Garland, Texas, kelompok ISIS sudah lebih dulu mengklaim bertanggung jawab.

"Penahanan-penahanan ini, pengungkapan hal-hal seperti ini, semakin sering terjadi," ujar Johnson, yang juga Kepala Komite Keamanan Dalam Negeri di Senat AS.

Johnson menunjuk kepada belasan penahanan terhadap warga Amerika yang terinspirasi oleh ISIS atau kelompok teror lainnya untuk bepergian ke luar negeri atau melaksanakan serangan di dalam negeri Amerika Serikat.

Satu hal yang sama dalam kasus-kasus tersebut, adalah mereka yang ditahan menemukan kontak dengan ISIS lewat media sosial, ujar pakar kepada para anggota Senat AS.

"Ada rasa kedekatan yang dapat terbangun dari jarak jauh," ujar J.M. Berger, dari Brookings Institute dan seorang penulis buku mengenai ISIS. "Seseorang yang mengirim tweet dari Suriah, seorang anggota ISIS, dapat menjalin hubungan yang kuat secara emosional dengan seseorang yang berada di Amerika."

Para pejabat intelijen mengatakan ISIS paling sukses memanfaatkan media sosial dibanding kelompok-kelompok militan lainnya - menarik generasi muda yang merasa terisolasi, terpinggirkan atau mereka yang semata mencari petualangan.

Sementara itu, upaya-upaya AS untuk melawan propaganda ISIS lewat media sosial tampak tidak mampu meredam kesuksesan kelompok militan tersebut di ranah online.

"Ini bahan tertawaan," ujar Senator Cory Booker, seorang Demokrat dari New Jersey. "Tiga retweet. Dua retweet... Kalau Anda mengerti media sosial, salah satu hal yang harus Anda cermati adalah engagement pengguna dengan pesan media sosial kita."

Mubin Shaikh, seorang mantan radikal yang pernah bekerjasama dengan penegak hukum Kanada, mengatakan kepada anggota Senat bahwa sebagian besar upaya untuk menyampaikan pesan kontra terorisme juga tidak sampai ke khalayak yang ditargetkan.

"Kalah Anda ingin mencegah rekrutmen anak-anak berusia 15 tahun, Anda harus menyampaikan pesan seperti halnya Anda berbicara dengan anak-anak usia 15 tahun," katanya. "Pendekatan saya adalah untuk menunjukkan di mana letak kesalahan pesan-pesan yang disampaikan dengan mengutip sumber yang sama yang digunakan oleh para militan. Saya yakinkan kepada Anda, ini tidak sesulit kedengarannya. Kita punya orang-orang yang mampu, yang hanya butuh petunjuk dan arahan."

Walaupun begitu, Daveed Gartenstein-Ross, dari lembaga think tank Foundation for Defense of Democracies, mengatakan kepada panel bahwa arus media sosial dapat berbalik arah dengan cepat. ISIS akan dengan mudah memutarbalikkan pesan, terutama saat mereka mulai kehilangan wilayah, seperti saat ini, ujarnya.​

XS
SM
MD
LG