Tautan-tautan Akses

Amerika Selatan Jadi Episentrum Baru Wabah Virus Corona


Seorang pria mengenakan masker, berjalan melewati dinding mural yang menggambarkan tarik-menarik soal virus corona antara pekerja kesehatan dan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, di Sao Paulo, Brasil, 19 Juni 2020. (Foto: dok).

Dengan jumlah kematian yang melampaui 100 ribu orang, Amerika Latin muncul sebagai episentrum baru dunia dalam pandemi virus corona.

Brazil memimpin di kawasan dengan lebih dari 1,1 juta kasus Covid-19 terkonfirmasi, termasuk lebih dari 52 ribu kematian. Ini sekaligus membuatnya sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak kedua di dunia setelah AS, sebut Johns Hopkins University. Brazil mencatat tambahan sekitar 39 ribu kasus baru terkonfirmasi dalam periode 24 jam pada hari Selasa (23/6), termasuk lebih dari 1.300 kematian.

Presiden Jair Bolsonaro, mengenakan masker setibanya di Istana Alvorada, Brasilia, untuk mengikuti upacara pengibaran bendera sebelum pertemuan menteri, 12 Mei 2020. (Foto: dok).
Presiden Jair Bolsonaro, mengenakan masker setibanya di Istana Alvorada, Brasilia, untuk mengikuti upacara pengibaran bendera sebelum pertemuan menteri, 12 Mei 2020. (Foto: dok).

Pandemi ini telah menjadi krisis yang membuat seorang hakim federal memerintahkan Presiden Jair Bolsonaro mengenakan masker di depan umum atau membayar denda hampir 400 dolar per hari.

Hakim itu menyatakan Bolsonaro melanggar hukum lokal di Brasilia yang bertujuan untuk memperlambat penyebaran virus. Bolsonaro sejauh ini menolak menutupi mulutnya pada rapat-rapat politik besar, di mana ia berdekatan dengan pemilih dan anak-anak.

Bolsonaro juga meremehkan pandemi itu sebagai sekadar “flu” dan mengatakan siapapun yang khawatir akan virus itu terganggu jiwanya.

Para analis mengaitkan peningkatan kasus terkonfirmasi dan kematian di kawasan tersebut pada gabungan kemiskinan yang meluas, meluasnya ketidakpercayaan terhadap pemerintah, dan para pemimpin, seperti Bolsonaro dan Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador, yang meremehkan atau mengabaikan risiko virus itu dan gagal memberlakukan lockdown yang ketat.

Dengan meningkatnya angka kematian di Amerika Selatan, jumlah kematian di seluruh dunia akibat virus corona kini melampaui 477 ribu. Sementara itu jumlah kasus virus corona di seluruh dunia berkisar 9,2 juta orang.

AS terus memimpin di dunia dalam kedua kategori itu, dengan 2,3 juta kasus terkonfirmasi dan lebih dari 121 ribu kematian. Menurut harian The Washington Post, tujuh negara bagian, Arizona, Arkansas, California, North Carolina, South Carolina, Tennessee dan Texas, telah melaporkan rekor tertinggi dalam hal jumlah pasien yang dirawat inap karena Covid-19 sejak pandemi itu mulai terjadi.

Pakar penyakit menular Dr. Anthony Fauci hari Selasa (23/6) mengatakan kepada satu panel di Kongres bahwa akan ada lebih banyak lagi pengujian virus corona, bahkan setelah Presiden Donald Trump meminta para petugas kesehatan agar memperlambat pengujian virus corona.

Gedung Putih menyatakan presiden tidak serius ketika ia menyatakan lebih banyak pengetesan merupakan alasan begitu banyak kasus di AS. Tetapi Trump hari Selasa menyatakan bahwa ia tidak bergurau mengenai hal itu.

Fauci juga mengatakan ia cukup optimistis suatu vaksin virus corona akan tersedia sedini akhir 2020. Tetapi ia sebelumnya pernah mengatakan bahwa meskipun vaksin itu telah siap, tidak ada jaminan vaksin itu akan bekerja atau memberi perlindungan dalam jangka panjang.

Surat kabar The New York Times melaporkan bahwa negara-negara anggota Uni Eropa berencana untuk mencegah warga negara AS memasuki perbatasannya karena apa yang disebut para pejabat sebagai kegagalan AS mengendalikan virus corona.

Surat kabar itu mendasarkan laporannya pada apa yang disebut sebagai rancangan daftar siapa saja yang akan diizinkan bepergian ke Uni Eropa mulai 1 Juli. Surat kabar itu menyatakan telah mengukuhkan daftar itu dengan dua pejabat Uni Eropa di Brussels. Namun the Times menambahkan bahwa tak satu pun dari 27 anggota Uni Eropa yang berkewajiban menerapkannya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pandemi virus corona masih terus berkembang meskipun negara-negara mulai melonggarkan lockdown dan berbagai restriksi lainnya.

Kepala masalah kedaruratan WHO Dr. Michael Ryan mengatakan epidemi itu kini sedang memuncak atau bergerak menuju ke puncak di beberapa negara besar.

Beberapa negara, termasuk Jerman, Afrika Selatan dan India yang melaporkan sekitar 15 ribu kasus baru Covid-19 setiap hari, sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan kembali lockdown dan bersiap-siap menghadapi gelombang kasus-kasus baru.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan perlu waktu tiga bulan untuk mengukuhkan satu juta kasus pertama dunia. Namun satu juta kasus terbaru tercapai dalam waktu delapan hari saja, jelasnya.

“Ancaman terbesar yang kita hadapi sekarang ini bukanlah virus itu sendiri. Ancamannya adalah kurangnya solidaritas global dan kepemimpinan global,” kata Tedros tanpa menyebut negara atau pemimpin negara tertentu yang ia anggap gagal. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG