Aliansi partai-partai Arab di Israel, Kamis (4/2), secara resmi membubarkan diri, sehingga membuka kemungkinan sebuah partai Islam kecil dapat memainkan peran kunci dalam memastikan Benjamin Netanyahu mempertahankan posisinya sebagai perdana menteri dan menghindari gugatan korupsi terhadap dirinya.
"Joint List", aliansi empat partai Arab yang merebut 15 kursi dalam pemilu tahun lalu, menyelesaikan diskusi internal mereka Rabu malam (3/2). Dalam pernyataan mereka, Kamis, mereka menyatakan bahwa tiga dari empat partai Arab itu kini akan membentuk aliansi yang dinamakan "United Arab List", sementara sebuah partai Islam yang dipimpin oleh anggota parlemen Mansour Abbas, akan melenggang sendirian di pentas politik negara itu.
Salah satu poin utama perpecahan itu adalah keterbukaan Abbas untuk bekerja sama dengan Netanyahu atau para pemimpin Israel lainnya untuk menangani masalah-masalah lama seperti kejahatan dan perumahan komunitas Arab Israel, yang populasinya mencapai sekitar 20 persen dari total penduduknya.
Partai Abbas diperkirakan hanya akan memenangkan beberapa kursi di parlemen Israel, Knesset. Tetapi dalam pemilihan yang diperebutkan dengan ketat, di mana pemenang harus membentuk koalisi yang terdiri dari 61 kursi, partai bisa muncul sebagai penentu utama mengenai siapa yang akan berkuasa. Jajak-jak pendapat menunjukkan Partai Likud, partainya Netanyahu, akan memenangkan kursi terbanyak tetapi akan gagal membentuk koalisi yang berkuasa. Tambahan beberapa kursi dari luar Likud akan membuat Netanyahu terus berkuasa.
Komunitas Arab di Israel memiliki status kewarganegaraan penuh, termasuk hak untuk memilih, tetapi menghadapi diskriminasi yang meluas terkait perumahan dan bidang-bidang lain. Mereka memiliki hubungan dekat dengan orang-orang Palestina di Tepi Barat dan Gaza, yang membuat banyak orang Yahudi Israel memandang mereka dengan curiga.
Pemilu 23 Maret akan menjadi pemilu keempat Israel dalam waktu kurang dari dua tahun. Dalam kampanye sebelumnya, Netanyahu telah dituduh menyebarkan semangat rasisme dan hasutan karena mencela partai-partai Arab, tetapi kali ini ia secara terbuka mencari dukungan Arab. Sikap Netanyahu ini banyak dipandang sebagai upaya untuk mempercepat perpecahan "Joint List" dan mengurangi jumlah pemilih secara keseluruhan.
Netanyahu berharap dapat membentuk koalisi yang berkuasa yang akan memperpanjang masa jabatannya yang telah berjalan selama 12 tahun. Koalisi itu juga berpotensi memberinya kekebalan dari gugatan hukum yang berakar dari serangkaian penyelidikan korupsi.
Arik Rudnitzky, peneliti di Lembaga Demokrasi Israel, mengatakan, partai Abbas bisa melakukannya sendiri dengan baik.
“Gerakan Islam adalah salah satu gerakan sosial populer terbesar di kalangan masyarakat Arab, '' katanya. “Mereka memiliki basis dukungan rakyat yang sangat kuat, tetapi pertanyaannya adalah apakah dukungan populer ini akan diterjemahkan ke dalam pemungutan suara yang sebenarnya pada hari pemilihan. '' [ab/uh]