Tautan-tautan Akses

Aktivis Belarus, Iran, AS, Nikaragua Raih Penghargaan Alternatif Nobel


Ales Bialiatski, aktivis HAM Belarusia, disambut oleh para pendukungnya di stasiun kereta api di Minsk, Belarusia, 21 Juni 2014. (Foto AP / Dmitry Brushko, file)

Seorang aktivis pro-demokrasi Belarus, seorang pengacara HAM Iran yang dipenjarakan, seorang pengacara hak sipil AS, dan seorang aktivis lingkungan dan hak penduduk asli Nikaragua, Kamis (1/10), meraih penghargaan tertinggi dari Swedia yang kadang disebut alternatif penghargaan Nobel.

Ales Bialiatski dari Belarus, Nasrin Sotoudeh dari Iran, Bryan Stevenson dari AS, dan Lottie Cunningham Wren dari Nikaragua, bersama-sama meraih Right Livelihood Award.

Ole von Uexkull, Direktur Eksekutif Right Livelihood Foundation, mengatakan, para peraih penghargaan tahun ini bersatu dalam perjuangan mereka mewujudkan kesetaraan, demokrasi, keadilan dan kebebasan.

"Menantang sistem hukum yang tidak adil dan rezim politik yang diktatoris, mereka berhasil memperkokoh HAM, memberdayakan masyarakat madani, dan mempersoalkan pelanggaran kelembagaan,” kata Von Uexkull dalam sebuah pernyataannya.

Bialiatski dan organisasi nirlaba yang dipimpinnya, Viasna, dianugerahi penghargaan itu atas kegigihannya mewujudkan demokrasi dan HAM di Belarus. Viasna didirikan Bialiatski pada 1996 sebagai tanggapan terhadap penindasan demonstrasi oleh pemerintah Alexander Lukashenko.

Pengacara HAM Iran Nasrin Sotoudeh, di kantornya di Teheran, Iran, 1 November 2008. (Foto: dok).
Pengacara HAM Iran Nasrin Sotoudeh, di kantornya di Teheran, Iran, 1 November 2008. (Foto: dok).

Pengacara HAM Nasrin Sotoudeh terpilih karena keberaniannya memperjuangkan kebebasan politik dan HAM di Iran. Perempuan itu saat ini sedang menjalani masa hukuman penjara 12 tahun karena membela perempuan-perempuan yang ditangkap karena melanggar undang-undang wajib mengenakan hijab.

Pengacara AS Bryan Stevenson dipilih karena usahanya mereformasi sistem pengadilan kriminal AS dan memperjuangkan rekonsiliasi ras. Lottie Cunningham Wren diberi penghargaan karena dedikasinya yang tidak pernah surut dalam melindungi lahan-lahan dan komunitas-komunitas penduduk asli dari eksploitasi dan penjarahan.

Right Livelihood Award diciptakan dermawan Jerman keturunan Swedia Jakob von Uexkull pada 1980 setelah Yayasan Nobel menolak untuk menciptakan penghargaan di bidang lingkungan dan pembangunan internasional. Penerima penghargaan ini mendapatkan hadiah uang sekitar 111.000 dolar AS untuk mendukung perjuangan mereka di negara masing-masing. [ab/uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG