Tautan-tautan Akses

Akibat Corona, Muslim di Jerman Gunakan Gereja untuk Salat Jumat


Gereja St. Severi di Erfurt, Jerman, 8 Agustus 2017, sebagai ilustrasi. (Foto: AP)

Bagi warga Muslim di Jerman, salat Jumat berjemaah di dalam masjid pada masa pandemi virus corona, nyaris sulit dilakukan. Para pengurus sebuah gereja di Berlin memahami kesulitan mereka. Mereka pun menawarkan umat Islam menjalankan salat berjemaah di dalam gereja mereka.

Sejak Mei lalu, pemerintah Jerman melonggarkan kebijakan terkait pembatasan-pembatasan dalam mengendalikan wabah virus corona. Salah satu diantaranya adalah mengizinkan tempat-tempat ibadah kembali buka, namun dengan membatasi jumlah pengunjungnya.

Masjid Dar Assalam di distrik Neukolln, Berlin, harus mematuhi aturan baru itu. Walhasil, masjid yang biasanya menampung sekitar 1000 orang pada saat salat Jumat, hanya bisa mengizinkan sejumlah kecil saja yang bisa berpartisipasi. Salah satu aturan menyebutkan, jarak seseorang dengan orang-orang lainnya setidaknya harus 1,5 meter. Apalagi, jelas-jelas pemerintah Jerman hanya mengizinkan orang-orang berkumpul dalam jumlah yang tidak lebih dari 50 orang.

Gereja Sankt Michaelis di Hamburg, Germany, November 23, 2015. (Foto: Reuters)
Gereja Sankt Michaelis di Hamburg, Germany, November 23, 2015. (Foto: Reuters)

Para pengurus Gereja Martha Lutheran di Kreuzberg, yang tidak jauh dari Masjid Dar Assalam, memahami keprihatinan ini. Mereka pun menawarkan kesempatan bagi umat Islam untuk menjalankan shalat Jumat di gereja mereka, yang ukurannya jauh lebih besar. Para pengurus Masjid Dar Assalam menyambut tawaran itu.

Mohammed Taha Sabry, imam Masjid Dar Assalam, bersyukur atas tawaran itu.

“Saya menghargai tawaran solidaritas tersebut. Ini prakarsa yang baik, dan kami sangat berterima kasih. Karena peraturan social distancing, masjid kami terlalu kecil untuk menampung banyak orang untuk kegiatan shalat berjamaah seperti shalat Jumat. Gereja melihat penderitaan Muslim dan menawarkan solusi. Ini sungguh menggembirakan. Wabah menjadikan kita sebuah komunitas. Krisis menyatukan kita semua," kata Sabry.

Juanita Villamor, juru bicara masjid itu juga mengungkapkan kegembiraannya. Ia mengatakan, membolehkan Muslim beribadah di gereja merupakan peluang yang baik untuk membuka dialog antar agama. Menurutnya, kerukunan antar agama bisa tercipta bila orang-orang berusaha memahami ajaran-ajaran agama lain.

Samer Hamdoun, seorang Muslim yang ikut salat Jumat di Gereka Martha Lutheran mengaku merasa aneh menjalankan ibadah Islam di gereja.

“Ada perasaan aneh yang muncul sewaktu saya pertama kali berada di dalam gereja. Saya melihat gambar-gambar, patung-patung dan ornament-ornamen lain yang ada dalam gereja. Namun setelah saya mengabaikan semua itu, saya pikir ini kan rumah Tuhan, jadi Muslim boleh salat di sini," kata Hamdoun.

Yang tak kalah menarik, Monika Matthias, pastur gereja Martha Luthern, bahkan terkadang ikut salat Jumat bila sedang senggang.

“Saya kira apa yang terjadi di gereja ini sangat menyegarkan dan merupakan sebuah berkah bagi kami semua. Sungguh menyenangkan mendengarkan suara orang mengumandangkan adzan. Saya ikut shalat dengan mereka, mendengarkan kutbah dan bahkan saya diberi kesempatan untuk menyampaikan ceramah dalam bahasa Jerman. Sewaktu saya mendengarkan kutbah, saya seringkali berkata ‘ya..ya..ya’ karena apa yang menjadi keprihatinan kami pada dasarnya sama, dan kami ingin belajar dari Anda. Sungguh indah bisa merasakan itu," papar Matthias.

Karena kesediaan Gereja Martha Lutheran membuka pintu mereka, kini umat Islam di Berlin memiliki dua pilihan salat Jumat, di masjid atau gereja. Berkat gereja itu pula, lebih banyak Muslim merasa lebih dirangkul di negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.

Terlepas dari semangat solidaritas antar agama, banyak masjid di Jerman terancam tutup. Menurut Sabry, imam Masjid Dar Assalam, karena wabah virus corona, aliran dana sumbangan untuk merawat dan mengelola masjid menurun drastis. Padahal, banyak masjid di Jerman bisa bertahan hanya karena aliran dana sumbangan yang biasanya datang pada saat shalat Jumat. Sebagian masjid bahkan kini kesulitan membayar sewa gedung.

Tidak seperti gereja-gereja di Jerman, atau negara Eropa pada umumnya, yang mendapat alokasi dana khusus dari pemerintah bernilai ratusan juta dolar, masjid-masjid harus mendanai sendiri operasi mereka. Masjid Dar Assalam setiap bulan, contohnya, harus membayar tagihan listrik, air dan lain-lain sebesar US$8000. Sekitar setengah hingga tiga perempat dana untuk membayar tagihan itu diperoleh dari sumbangan shalat Jumat.

Dewan Islam Jerman, yang menaungi 400 masjid di Jerman, mendesak pemerintah untuk menyediakan bantuan dana bagi masjid-masjid yang terancam tutup. Sejauh ini pemerintah belum menanggapi, karena Jerman sendiri saat ini sedang dilanda resesi ekonomi akibat wabah virus corona. [ab/uh]

Lihat komentar (2)

XS
SM
MD
LG