Tautan-tautan Akses

Kilas Balik 2017: Afghanistan-Pakistan Penuh Konflik dan Saling Tuduh soal Militan


Bendera Afghanistan dan Pakistan (foto: ilustrasi).

Tahun 2017 merupakan tahun penuh goncangan bagi Afghanistan dan Pakistan, umumnya penuh konflik dan tuduh-menuduh. Kedua pihak saling tuduh melindungi militan.

Hubungan rumit antara Afghanistan dan Pakistan bertambah sengit tahun 2017. Keduanya terus saling tuduh membiarkan wilayah masing-masing dipergunakan untuk menyerang satu sama lain. Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melabrak Pakistan karena menghambat usaha perdamaian.

"Dari hari pertama saya memangku jabatan, saya sudah mengulurkan perdamaian kepada Pakistan. Tidak digubris. Kami sudah mencoba perundingan bilateral, trilateral, quadrilateral dan bahkan multilateral guna mengakhiri konflik dan teror. Kami hanya membuat kemajuan kecil," cetus Ghani.

Setelah pengeboman bunuh diri di sebuah Masjid Sufi yang oleh Pakistan dikatakan dilakukan oleh militan dari Afghanistan, dua pintu lintas batas Torkhem dan Chaman ditutup sebulan.

Pintu Chaman di jalan dari Quetta menuju Kandahar, ditutup beberapa kali lagi tahun itu terkadang berminggu-minggu. Perdagangan antara keduanya, menurut pihak Afghanistan, turun hampir 50%.

Satu duri lain dalam hubungan itu adalah kehendak Pakistan memagar perbatasannya dengan Afghanistan.

Jenderal Pakistan Nauman Zakaria mengatakan, "Akan sepenuhnya dipagar lengkap dengan pos pengawalan. Tidak satu incipun dari perbatasan internasional itu yang akan luput dari pengawasan kami terhitung Desember 2017."

Pakistan mengatakan memperkuat penjagaan di perbatasan adalah cara terbaik dalam mencegah gerakan militan dari kedua sisi wilayah. Pakistan telah menawarkan bantuan kepada Afghanistan untuk membangun pos-pos perbatasan sendiri. Afghanistan mengatakan pembangunan pagar itu adalah upaya Pakistan mengobah yang disebut "Durand Line" yaitu perbatasan lama yang disengketakan Afghanistan, menjadi perbatasan tetap.

Afghanistan menuduh Pakistan melindungi pimpinan Taleban Afghanistan di kota-kota besar di Pakistan seperti Quetta dan Peshawar. Insiden tembakan artileri dari seberang-menyeberang perbatasan sepanjang tahun menewaskan penduduk sipil maupun anggota militer.

Ketika mengumumkan kebijakannya di Asia Selatan bulan Agustus lalu, Presiden Trump menyalahkan Pakistan yang membuat situasi keamanan di Afghanistan memburuk.

Presiden Trump berkata, "Pakistan juga melindungi gerakan sama yang tiap hari mencoba membunuh orang kita. Kita membantu Pakistan miliaran dolar. Pada waktu sama Pakistan melindungi teroris yang kita lawan. Itu harus berubah dan berubah segera."

Ada reaksi keras, reaksi anti Amerika terutama terhadap himbauan Trump pada musuh bebuyutan Pakistan, India untuk memainkan peran lebih besar di Afghanistan.

Sejak itu, tidak banyak perubahan di antara ketiga pihak. Diplomasi pintu tertutup terus dilakukan untuk mencari jalan keluar bagi apa tampaknya merupakan kemelut. [al]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG