Tautan-tautan Akses

Adakah Budaya Mengaku Kalah di Indonesia?


Seorang peserta aksi unjuk rasa mengacungkan poster untuk memrotes kecurangan pemilu di depan gedung Badan Pengawas Pemilihan Umum, Jakarta, Selasa, 21 Mei 2019. (Foto:Reuters)

Di Amerika, ada tradisi politik mengakui kekalahan lewat concession speech dalam pemilu presiden. Demikian pula di Australia. Apakah di Indonesia juga ada budaya mengakui kekalahan?

Calon presiden Partai Demokrat Hillary Clinton dalam bukunya “What Happened” yang dirilis setahun setelah pemilu presiden 2016, secara terang-terangan mengatakan ia tidak pernah menyangka akan kalah dalam pemilu presiden itu.

Dukungan kuat warga dan jajak pendapat sejumlah badan memperkuat keyakinannya bahwa ia akan menjadi perempuan pertama yang memimpin negara adidaya ini. Tetapi setelah TPS-TPS ditutup dan suara yang masuk mulai dihitung, pesaingnya dari Partai Republik, Donald Trump, unggul dari segi perolehan electoral college. Sembilan jam kemudian Hillary Clinton didampingi suaminya, mantan presiden Bill Clinton, menyampaikan pidato kekalahan.

“Tadi malam saya mengucapkan selamat kepada Donald Trump dan menawarkan kerjasama demi negara kita. Saya harap ia akan berhasil menjadi presiden bagi semua warga Amerika,” demikian petikan pernyatan Hillary Clinton yang disambut tepuk tangan dan sekaligus isak tangis haru para pendukung dan tim kampanyenya.

Hillary Clinton saat menyampaikan pidato kekalahan dan mengucapkan selamat kepada Donald Trump, 9 November 2016.
Hillary Clinton saat menyampaikan pidato kekalahan dan mengucapkan selamat kepada Donald Trump, 9 November 2016.

“Saya tahu betapa kecewanya Anda semua karena saya pun merasakan hal yang sama, dan demikian pula jutaan warga Amerika yang menyampaikan harapan dan mimpi mereka pada upaya ini,” ujarnya lirih. Tetapi ia buru-buru menambahkan “demokrasi konstitusional kita terwujud lewat peralihan kekuasaan secara damai, dan kita tidak saja menghormatinya, tetapi juga menghargai hal itu. Kita juga mengabadikan hal-hal lain : aturan hukum, prinsip bahwa kita semua memiliki hak dan martabat yang sama, kebebasan beribadah dan menyatakan pendapat. Kita menghormati dan menghargai nilai-nilai ini, dan karenanya harus mempertahankannya.”

Concession Speech, Pidato Mengakui Kekalahan, Tradisi Politik di AS

Mengakui kekalahan merupakan salah satu tradisi politik yang berlaku di Amerika dan banyak negara lain setelah pesta demokrasi usai. Meski pahit, pihak yang kalah akan berbesar hati mengakui kekalahannya dan mengakui kemenangan lawan. Tak hanya itu, ia akan berupaya keras menenangkan para pendukung dan bahkan mengajak mereka bekerja sama demi kemajuan negara ke depan.

Hal yang sama dilakukan Bill Shorten, pemimpin Partai Buruh, yang di luar perkiraan banyak kalangan kalah dalam pemilu di Australia minggu lalu. “Saya berharap Scott Morrison berhasil dan berani melayani bangsa kita yang besar ini, karena hanya itu yang dibutuhkan negara ini,” ujarnya.

Bill Shorten, pemimpin Partai Buruh Australia
Bill Shorten, pemimpin Partai Buruh Australia

Ditambahkannya, “kampanye kali ini memang berat... tetapi kini kompetisi telah berakhir, kita semua bertanggungjawab menghormati hasilnya, menghormati keinginan warga Australia dan menyatuhkan bangsa ini.”

Bagaimana di Indonesia?

Agus Harimurti Yudhyono adalah sosok pertama yang memperkenalkan tradisi politik baru ini ketika ia kalah dalam pilkada putaran pertama di DKI Jakarta. Beberapa jam setelah hasil penghitungan cepat atau quick count beberapa lembaga survei menunjukkan bahwa ia jauh tertinggal dibanding dua pasangan lain yaitu Basuki Tjahaya Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, Agus Harimurti menyampaikan pidato kekalahannya.

Calon gubernur Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono bersama istri memberikan suara di sebuah TPS (15/2). (Courtesy: Anung Anindito)
Calon gubernur Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono bersama istri memberikan suara di sebuah TPS (15/2). (Courtesy: Anung Anindito)

“Secara ksatria dan lapang dada, saya terima kekalahan di pilkada ini. Sekali lagi, secara ksatria dan lapang dada, saya terima kekalahan di pilkada gubernur DKI Jakarta. Allah belum izinkan saya dan ibu Sylvi (cawagub yang mendampinginya.red) untuk pimpin Jakarta. Tapi saya yakin rencana Allah selalu lebih baik dan benar dari rencana manusia. Saya akan dharma baktikan hidup saya untuk memajukan Indonesia,” ujar tokoh muda ini di Wisma Proklamasi, Jakarta Pusat.

Ketika itu Agus – yang juga putra sulung mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini – mengatakan telah menghubungi kedua pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur untuk menyampaikan ucapan selamat.

Partai Solidaritas Indonesia PSI menjadi partai pertama yang juga memulai tradisi baru mengakui kekalahan dengan ksatria dalam pemilihan presiden tahun ini. Hanya beberapa jam setelah hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei menunjukkan PSI tidak akan lolos ke DPR karena tidak mencapai ambang batas suara empat persen, Ketua Umum PSI Grace Natalie menyampaikan pidato kekalahannya. “Kami telah berjuang dengan apa adanya. Kami tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Kader, pengurus, caleg kami telah bekerja keras siang dan malam meyakinkan rakyat,” dan karenanya “keputusan rakyat melalui mekanisme demokrasi ini harus kami terima dan hormati,” tegasnya.

Hasil rekapitulasi suara nasional yang diumumkan KPU Selasa dini hari (21/5) memang menunjukkan PSI meraih 2.650.361 atau 1,89% suara; yang berarti tak cukup membawa partai ini melaju ke Senayan. PSI tak sendiri. Ada Perindo (2,67%), Partai Berkarya (2,09%), Partai Hanura (1,54%), PBB (0,79%), Partai Garuda (0,50%) dan PKPI (0,22%) yang juga tak lolos ke DPR. Tetapi hanya PSI yang secara ksatria mengakui kekalahannya itu.

Ada Budaya Jawa “Wani Ngalah Luhur Wekasane”

Prabowo Subianto (kiri) dan Joko Widodo
Prabowo Subianto (kiri) dan Joko Widodo

“Di Indonesia itu ada budaya Jawa yang sangat bagus. Wani ngalah luhur wekasane. Yang berarti siapa yang mau atau berani mengalah, pada akhirnya mendapat kemenangan. Ini kerap dijadikan pegangan hidup masyarakat Jawa dalam berbagai persoalan, disampaikan orang-orang tua untuk meredam emosi anak-anak, bahkan lawan politik," tutur Dr. Bambang Hudayana, Kepala Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada UGM, Yogyakarta, ketika dihubungi VOA.

"Ini erat dengan kepercayaan orang Jawa akan adanya kehidupan lain setelah kehidupan di dunia, sehingga yang dimaksud dengan 'pada akhirnya mendapat kemenangan' itu tidak hanya pada saat ini atau saat peristiwa terjadi, tetapi juga setelah kehidupan dunia nanti,” imbuhnya.

Bambang Hudayana (foto dok. pribadi).
Bambang Hudayana (foto dok. pribadi).

Ada pula konsep lain yang tak kalah bagus, menurut Bambang Hudayana, yaitu konsep “ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake.” “Ini artinya lebih dalam lagi, yaitu berkuasa dengan kekuatan hegemoni, bukan dominasi dan kekerasan; menang tanpa merendahkan, menjatuhkan, mengejek atau mempermalukan harga diri lawan. Artinya tetap bisa membuat lawan merasa terhormat. Konsep ini memberi ruang pada lawan politik untuk bisa bangkit dan bahkan ikut berpartisipasi,” tambahnya.

“Dan jangan lupakan juga konsep perwira, di mana orang harus tahu diri, bisa menerima nasib sebagai orang yang kalah dan kemudian tidak merebut kekuasaan dengan cara kasar,” ujarnya.

Lalu Mengapa Sulit Terwujud?

Suraya Affif (foto: dok. pribadi)
Suraya Affif (foto: dok. pribadi)

Menurut Dr. Suraya Affif, pakar antropologi di Universitas Indonesia, tidak semua orang bisa bersikap ksatria karena ada cara berpikir yang tidak biasa.

“Cara berpikir yang saya maksud ini misalnya adanya perasaan bahwa kita adalah orang Islam, kelompok mayoritas yang seharusnya memimpin. Ini di-enforced (diperkuat.red) lewat ulama, tokoh-tokoh, dan kemudian ke pengadilan dan lain-lainnya; bahwa kita seharusnya menang, bahwa pemilu curang," ulasnya.

Suraya menambahkan, "Kedua, ada elit yang menggunakan hal ini untuk mendorong keinginannya. Saya agak segan menyebut “orang Indonesia tidak mau kalah” karena sebenarnya hanya sebagian saja yang demikian, dan mereka menggunakan elemen-elemen budaya untuk membenarkan tindakannya.”

Sementara Dr. Bambang Hudayana menilai situasi politik yang sangat dinamis kerap membuat nilai-nilai luhur yang telah ada, tidak lagi jadi acuan dan diterapkan. “Malah ada yang memilih strategi yang tidak ideal, yang penting 'pokok-e' atau 'terlanjur basah lebih baik berlaga hingga titik darah penghabisan. Tetapi ini sangat berisiko. Implikasinya sangat besar. Tampaknya ada variabel di luar standar budaya Jawa yang membuat sulit bagi seseorang untuk mengalah,” ujarnya menutup pembicaraan dengan VOA. (em)

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG